JARAK PANDANG MANUSIA BERBATAS
Bismillahirohmanirohim
Di era milenial ini media HP sebagai salah satu persembahan anak manusia bidang teknologi komunikasi betapa sangat digandrungi oleh siapapun. Eksistensinya sudah tidak lagi menjadi barang yang lux dan mewah, melainkan dipandang sebagai sebuah kebutuhan atau penunjang aktivitas yang hampir bagi semua orang yang tak berbatas kelas. Siapa pun mengenalnya mulai dari kelas rendahan sehingga kelas berdasi. Walaupun mungkin hanya dibedakan dengan HP jenis apa yang mereka pegang.
Saat ini media tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi belaka, melainkan telah menjadi media belajar dan media rekreasi. Atau mungkin telah menjadi teman yang paling dekat lagi akrab pabila dibandingkan pertemanannya dengan sesama manusia dalam konteks kebersamaan.
Atau jangan-jangan telah dipersamakan dengan Tuhan kemampuannya. Terbukti dalam sisi waktu media ini telah sukses menjadi penghambat untuk menghadap memenuhi panggilan Sang Pencipta. Atau mungkin bisa dikatakan lebih cerdas daripada pembuatnya yaitu manusia. Ia selalu siap memberikan jawaban seolah-olah tanpa basa-basi. Di lain sisi fungsinya juga menjadi *media penyebar berita hoax yang baik*, benarkah ???
Hampir pada setiap kesempatan dan waktu yang terluang di peruntukkannya untuk membelai mesra sebuah HP dengan tanpa memandang tempat, event, dan moment. Sehingga terkadang mata ini sebagai indra penglihat yang difungsikan untuk membaca sangat merasakan kelelahan. Hampir-hampir pada saat terlepas dari HP apa yang ada di depan mata tidak dapat terlihat dengan jelas atau kabur sebagai pertanda kelelahan yang sangat pada mata kita.
Dalam keadaan seperti ini apabila kita berpapasan dengan seseorang, maka wajahnya tidak tampak jelas, mengecil, seolah-olah muka mengkerut. Makanya jangan heran apabila sering salah ketika bertegur sapa. Yah, sebab lelah dan ketidakmampuan mata kita untuk membedakan antara siapa. Sehingga mungkin akan ditertawakan oleh orang yang disapanya, sebab salah orang.
Hal yang sebenarnya penulis hanya sekedar ingin mengaitkan fenomena perlakuan HP dengan kadar kemampuan seorang manusia yang bermartabat dalam komunitas sosial sangat amat terbatas. Betapa sangat hebat tensi dan terbukanya pertempuran (maaf dalam medsos) antar personal, antar kelompok di tahun politik ini : antara 2018 sampai dengan 2019. Atau bisa jadi berlebih masanya, bergantung pada bagaimana kondisi akhirnya nanti.
Bila boleh sedikit menarik benang merah yang bersifat sementaea bahwa hal tersebut terjadi tak lebih sebagai wujud ketidakmampuan dalam membawa hati dan pikiran untuk berpikir logis dan bermartabat, kemudian yang muncul berseliweran di medsos dengan memanfaatkan berbagai aplikasi yang ada di media HP semacam facebook dan twitter menjadi wahana pertarungan yang kerap menyesakkan para netizen lain, yang menginginkan suasana yang dipenuhi kesejukan dan kedamaian dan mendidik.
Dan ukuran mereka hanyalah sebatas bagaimana bisa dan sempat melampiaskan rasa dendam atas aksi pihak lawan. Langkah berikutnya melakukankan reaksi yang sangat hebat seolah tanpa batas nilai dan norma dalam berkomunikasi. Realitanya kosa kata indah dikuburkan, lalu digali dan dipakainya dengan kosa kata yang mampu menabrak dinding peradaban mengharubirukan sehingga akhirnya merasa "menang" dalam sesaat.
Sebagai contoh, dengan adanya kasus pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid oleh oknum Banser pada peringatan Hari Santri Nasional 2018 di Garut, ada status facebook yang menggelitik para netizen lain yang dishare pada Jumat, 26 Oktober 2018, jam 07.05 berikut. *"Islam Tanpa NU Tetap Islam; Islam Tanpa Muhammadiyah Tetap Islam; Islam Tanpa HTI Tepat Islam; Tapi Islam Tanpa Tauhid Itu Kafir"*. Netizen yang menyatakan _like_ dan _dislike_ sampai hari ketiga sekitar jam 11.18 mencapai 984 netizen. Wau, sangat fantastis.
Pada saat penulis mencoba melihat dan membaca sebagian dari hampir lebih 300 komentator, hanya dalam satu kali _scroll_ layar HP saja telah menemukan kosa kata yang tajam dan menusuk. Di antara kata-kata itu yang penulis catat antara lain : najis, ndasmu ora waras, nyinyir, pikir bro, ora fikir, goblok, dan kram otak. Andaikan dilanjutkan _scrolling_ waduh betapa akan bertaburan kata-kata kebencian tanpa filter dan tak berbatas.
Mengapa bisa terjadi ? Jawabannya adalah relatifitas daya diri.
Setiap orang memiliki kemampuan diri, tolok ukur, kemudian berhenti pada pilihan akhir sebagai konklusi yang berbeda. Ternyata pilihan akhir itulah yang kemudian menjerumuskan dan mendekatkan pada kekusutan serta pembutaan pandangan dan menjadi jawaban menyakitkan terhadap pihak lain yang berseberangan.
Kemampuan diri seseorang akan terukur pada seberapa besar pemahamannya terhadap sesuatu yang menjadi fokus. Baik pemahaman tentang kaidah hukum yang mendasarinya dan besaran keberimanan terhadap apa yang dipelajari tentang kaidah hukum tersebut dan mungkin telah melandasi aktifitas kesehariannya.
Besaran keberimanan terkadang dipengaruhi oleh keadaan dan tekanan di sekelilingnya atau prakondisi area. Hal kemudian menjadi dasar keberpihakan dan penetapan sebuah pilihan. Sehingga rada bergeser dari kaidah yang tetap. Dan itulah sebab resiko pilihan yang akan dibela dan dipertahankan. Dalam keadaan inilah akan tampak secara gamblang adanya gempa dalam pola pikir dan filterisasi hati serta akurasinya teruji oleh adanya pilihan dalam komunitas.
Harapan terakhir dalam kasus ini sebab tentu melibatkan banyak umat manusia, maka peranan para ulama dan cendekia yang haq berjuang karena Rabbul Izzati (bukan sebab adanya keterpaksaan pilihan politik) dan selalu mengedepankan rahmat untuk semua manusia sangat dibutuhkan peran aksi dan fungsinya dalam mendamaikan kubu-kubu. Tak kalah pentingnya peranan pemerintah dalam penegakan tataran supremasi hukum benar-benar harus dijalankan secara berkemanusiaan yang adil dan beradab (artinya, tidak untuk sebaliknya). Ingatlah ! Bila dibiarkan keadaan ini, maka adanya manuver dan perang kubu sungguh terasa akan benar-benar terjadi.
Sebab itulah, kita harus menyadari dan mengakui bahwa kita adalah sebangsa dalam NKRI dan kita seiman dalam kasus ini. Dalam bersaudara hal yang dipentingkan adalah rekat dan kuatnya silaturrahmi terjalin demi keutuhan beragama, berbangsa dan bernegara. Rendahkan tensi amarah dan kepentingan kelompok yang sesaat. Indahnya kehidupan adalah saling memaafkan dan berjalan bersama untuk keberadaban umat yang lebih luas di mata dunia dan Allah SWT.
Sumenep, 28 Okt 2018
Di era milenial ini media HP sebagai salah satu persembahan anak manusia bidang teknologi komunikasi betapa sangat digandrungi oleh siapapun. Eksistensinya sudah tidak lagi menjadi barang yang lux dan mewah, melainkan dipandang sebagai sebuah kebutuhan atau penunjang aktivitas yang hampir bagi semua orang yang tak berbatas kelas. Siapa pun mengenalnya mulai dari kelas rendahan sehingga kelas berdasi. Walaupun mungkin hanya dibedakan dengan HP jenis apa yang mereka pegang.
Saat ini media tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi belaka, melainkan telah menjadi media belajar dan media rekreasi. Atau mungkin telah menjadi teman yang paling dekat lagi akrab pabila dibandingkan pertemanannya dengan sesama manusia dalam konteks kebersamaan.
Atau jangan-jangan telah dipersamakan dengan Tuhan kemampuannya. Terbukti dalam sisi waktu media ini telah sukses menjadi penghambat untuk menghadap memenuhi panggilan Sang Pencipta. Atau mungkin bisa dikatakan lebih cerdas daripada pembuatnya yaitu manusia. Ia selalu siap memberikan jawaban seolah-olah tanpa basa-basi. Di lain sisi fungsinya juga menjadi *media penyebar berita hoax yang baik*, benarkah ???
Hampir pada setiap kesempatan dan waktu yang terluang di peruntukkannya untuk membelai mesra sebuah HP dengan tanpa memandang tempat, event, dan moment. Sehingga terkadang mata ini sebagai indra penglihat yang difungsikan untuk membaca sangat merasakan kelelahan. Hampir-hampir pada saat terlepas dari HP apa yang ada di depan mata tidak dapat terlihat dengan jelas atau kabur sebagai pertanda kelelahan yang sangat pada mata kita.
Dalam keadaan seperti ini apabila kita berpapasan dengan seseorang, maka wajahnya tidak tampak jelas, mengecil, seolah-olah muka mengkerut. Makanya jangan heran apabila sering salah ketika bertegur sapa. Yah, sebab lelah dan ketidakmampuan mata kita untuk membedakan antara siapa. Sehingga mungkin akan ditertawakan oleh orang yang disapanya, sebab salah orang.
Hal yang sebenarnya penulis hanya sekedar ingin mengaitkan fenomena perlakuan HP dengan kadar kemampuan seorang manusia yang bermartabat dalam komunitas sosial sangat amat terbatas. Betapa sangat hebat tensi dan terbukanya pertempuran (maaf dalam medsos) antar personal, antar kelompok di tahun politik ini : antara 2018 sampai dengan 2019. Atau bisa jadi berlebih masanya, bergantung pada bagaimana kondisi akhirnya nanti.
Bila boleh sedikit menarik benang merah yang bersifat sementaea bahwa hal tersebut terjadi tak lebih sebagai wujud ketidakmampuan dalam membawa hati dan pikiran untuk berpikir logis dan bermartabat, kemudian yang muncul berseliweran di medsos dengan memanfaatkan berbagai aplikasi yang ada di media HP semacam facebook dan twitter menjadi wahana pertarungan yang kerap menyesakkan para netizen lain, yang menginginkan suasana yang dipenuhi kesejukan dan kedamaian dan mendidik.
Dan ukuran mereka hanyalah sebatas bagaimana bisa dan sempat melampiaskan rasa dendam atas aksi pihak lawan. Langkah berikutnya melakukankan reaksi yang sangat hebat seolah tanpa batas nilai dan norma dalam berkomunikasi. Realitanya kosa kata indah dikuburkan, lalu digali dan dipakainya dengan kosa kata yang mampu menabrak dinding peradaban mengharubirukan sehingga akhirnya merasa "menang" dalam sesaat.
Sebagai contoh, dengan adanya kasus pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid oleh oknum Banser pada peringatan Hari Santri Nasional 2018 di Garut, ada status facebook yang menggelitik para netizen lain yang dishare pada Jumat, 26 Oktober 2018, jam 07.05 berikut. *"Islam Tanpa NU Tetap Islam; Islam Tanpa Muhammadiyah Tetap Islam; Islam Tanpa HTI Tepat Islam; Tapi Islam Tanpa Tauhid Itu Kafir"*. Netizen yang menyatakan _like_ dan _dislike_ sampai hari ketiga sekitar jam 11.18 mencapai 984 netizen. Wau, sangat fantastis.
Pada saat penulis mencoba melihat dan membaca sebagian dari hampir lebih 300 komentator, hanya dalam satu kali _scroll_ layar HP saja telah menemukan kosa kata yang tajam dan menusuk. Di antara kata-kata itu yang penulis catat antara lain : najis, ndasmu ora waras, nyinyir, pikir bro, ora fikir, goblok, dan kram otak. Andaikan dilanjutkan _scrolling_ waduh betapa akan bertaburan kata-kata kebencian tanpa filter dan tak berbatas.
Mengapa bisa terjadi ? Jawabannya adalah relatifitas daya diri.
Setiap orang memiliki kemampuan diri, tolok ukur, kemudian berhenti pada pilihan akhir sebagai konklusi yang berbeda. Ternyata pilihan akhir itulah yang kemudian menjerumuskan dan mendekatkan pada kekusutan serta pembutaan pandangan dan menjadi jawaban menyakitkan terhadap pihak lain yang berseberangan.
Kemampuan diri seseorang akan terukur pada seberapa besar pemahamannya terhadap sesuatu yang menjadi fokus. Baik pemahaman tentang kaidah hukum yang mendasarinya dan besaran keberimanan terhadap apa yang dipelajari tentang kaidah hukum tersebut dan mungkin telah melandasi aktifitas kesehariannya.
Besaran keberimanan terkadang dipengaruhi oleh keadaan dan tekanan di sekelilingnya atau prakondisi area. Hal kemudian menjadi dasar keberpihakan dan penetapan sebuah pilihan. Sehingga rada bergeser dari kaidah yang tetap. Dan itulah sebab resiko pilihan yang akan dibela dan dipertahankan. Dalam keadaan inilah akan tampak secara gamblang adanya gempa dalam pola pikir dan filterisasi hati serta akurasinya teruji oleh adanya pilihan dalam komunitas.
Harapan terakhir dalam kasus ini sebab tentu melibatkan banyak umat manusia, maka peranan para ulama dan cendekia yang haq berjuang karena Rabbul Izzati (bukan sebab adanya keterpaksaan pilihan politik) dan selalu mengedepankan rahmat untuk semua manusia sangat dibutuhkan peran aksi dan fungsinya dalam mendamaikan kubu-kubu. Tak kalah pentingnya peranan pemerintah dalam penegakan tataran supremasi hukum benar-benar harus dijalankan secara berkemanusiaan yang adil dan beradab (artinya, tidak untuk sebaliknya). Ingatlah ! Bila dibiarkan keadaan ini, maka adanya manuver dan perang kubu sungguh terasa akan benar-benar terjadi.
Sebab itulah, kita harus menyadari dan mengakui bahwa kita adalah sebangsa dalam NKRI dan kita seiman dalam kasus ini. Dalam bersaudara hal yang dipentingkan adalah rekat dan kuatnya silaturrahmi terjalin demi keutuhan beragama, berbangsa dan bernegara. Rendahkan tensi amarah dan kepentingan kelompok yang sesaat. Indahnya kehidupan adalah saling memaafkan dan berjalan bersama untuk keberadaban umat yang lebih luas di mata dunia dan Allah SWT.
Sumenep, 28 Okt 2018
Komentar
Posting Komentar