Arabas Pagar
#10 SERI PAREBASAN MADURA
Arabas Pagar
Ta'aruf alias saling mengenal antar sesama dalam kehidupan sosial sangat dianjurkan. Baik sesama jenis, demikian juga dengan lain jenis. Jalan mulia dalam upaya saling mengenal pun mesti dirajut sedekian rupa dengan memenuhi standarisasi etika sosial budaya. Bukan ujuk-ujuk, apalagi harus dengan jalan mempedaya. Melainkan dibangun serta dijalaninya melalui rel tradisi dan budaya yang beradab. Penting mengedapankan segi moralitas sehingga hubungan tersebut terbangun sebagai harmoni nan syahdu.
Demikian halnya, seorang lelaki yang ingin merajut hubungan yang lebih intens dengan seorang wanita. Berbagai upaya dapat dibangun sehingga berfundamen yang kokoh. Pihak ketiga pun suatu waktu menjadi penting. Ia diharap mampu memediasi antar kedua belah pihak. Hal itu penting dilakukan sebelum kedua orang tua memastikan dan menetapkan sebagai calon pendamping hidupnya secara sah.
Jikalau keduanya sudah saling mengenal, berikutnya rekatan hubungan oleh dan antar kedua orang tua.
Biasanya dilakukan dengan cara orang tua pihak lelaki menyambangi pihak perempuan dengan membawa buah tangan berupa gula dan kopi. Bermaksud sebagai "arabas pagar". Secara langsung menanyakan, apakah sudah ada calon lain? Bila ternyata gayung bersambut, dapat dilanjutkannya pada jenjang yang rekat lagi yaitu prosesi tunangan. "Arabas pagar" merupakan ajang silaturrahim dalam perspektif sosial-budaya bagi masyarakat Madura yang patut kita junjung dan lestarikan.
#ArtikelTigaAlinea
#by. Ahmad Rasyid
#Ambunten, 5 Agustus 2020
Komentar
Posting Komentar