MENDIDIK KELUARGA SIBUK DENGAN KEBAIKAN

Cerpen #01
MENDIDIK KELUARGA SIBUK DENGAN KEBAIKAN 
Oleh: Pak Acit 


Embun pagi menetes lembut di jendela rumah sederhana keluarga Bahul dan Anisa. Udara masih segar, burung-burung berkicau, dan lantunan murattal dari kamar Daffa mengalun lirih. Suasana seperti itu biasanya menjadi penanda dimulainya rutinitas Cahaya Dhuha—momen kebersamaan mereka setiap hari Sabtu.

Namun pagi itu, suasananya agak berbeda.

“Daffa, ayo siap-siap dhuha dulu, Nak,” suara Bunda Anisa lembut dari dapur.

Dari kamar, terdengar sahutan tergesa, “Nanti aja, Bun! Lagi seru banget levelnya!”

Bunda menarik napas panjang. “Game lagi, game lagi,” gumamnya, antara geli dan lelah.

Sementara itu, di ruang tamu, Ayah Bahul sedang melipat sajadah. Ia mendengar semua dengan tenang. “Duhai anak muda zaman digital,...” katanya sambil tersenyum tipis, “...musuhnya bukan syetan merah, tapi waktu yang terbuang.”

Tak lama Nadhifa, adik Daffa berlari kecil menghampiri ayahnya sambil membawa mukena mini.

“Ayah, aku udah siap salat dhuha! Tapi Daffa nggak mau, katanya tanggung.”

Ayah menatap lembut putrinya. “MasyaAllah, kamu luar biasa, Nak. Biar Ayah panggil kakakmu.”
!
---

Di dalam kamar, Daffa sedang fokus menatap layar. Jemarinya menari cepat di atas gawai.
“Daffa…” suara Ayah terdengar tenang namun tegas.

Daffa tersentak, lalu buru-buru menurunkan volumenya. “Sebentar, Yah. Cuma tinggal satu ronde.”

“Daffa,” Ayah duduk di tepi ranjang. “Kamu tahu tidak, Rasulullah bersabda: Sebagian dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak berguna baginya.”

Daffa terdiam. Ia tahu kalimat itu sering diucapkan ayahnya setiap kali waktu bermain mulai berlebihan.

“Tapi kan, Yah… main game itu hiburan. Biar otak nggak stres.”

Ayah tersenyum. “Iya. Tapi kalau hiburan itu sampai membuat kita lupa ibadah, berarti bukan hiburan lagi, tapi jebakan. Kebaikan itu ibarat sinar dhuha, Nak. Kalau kamu biarkan awan menutupinya, cahaya itu hilang, padahal dialah yang menghangatkan jiwamu.”

Daffa menunduk. Ia diam cukup lama, sebelum berkata lirih, “Iya, Yah… Daffa kadang lupa.”

“Nah, yang penting kamu sadar. Yuk, temani Ayah dan Nadhifa dhuha. Setelah itu, kita main bareng di halaman. Deal?”

Senyum kecil muncul di wajah Daffa. “Deal.”

---

Selepas salat dhuha, keluarga itu berkumpul di ruang tengah. Bunda Anisa qmembawa teh hangat dan beberapa potong roti pisang.

“Bunda,” ujar Nadhifa sambil menyeruput pelan, “kenapa sih kita harus sibuk banget sama kebaikan? Kan capek.”

Bunda tersenyum lembut. “Karena, sayangku, dunia ini cuma sebentar. Tapi setiap kebaikan yang kita lakukan di dunia akan jadi cahaya di akhirat.”

Ayah menimpali, “Hidup ini ibarat waktu dhuha. Terang, tapi sebentar. Kalau kamu isi dengan hal yang berguna, sinarnya akan sampai ke sore. Tapi kalau kamu isi dengan hal yang sia-sia, sorenya kamu menyesal.”

Daffa yang masih menatap rotinya perlahan angkat kepala. “Berarti… kalau aku isi waktuku buat belajar dan bantu Bunda, itu termasuk kebaikan juga?”

“Tentu, Nak,” jawab Bunda. “...Kebaikan itu luas. Bahkan menyingkirkan duri di jalan pun bisa jadi ibadah.”

---

Hari itu mereka berencana membersihkan halaman. Namun, di tengah kegiatan, konflik kecil muncul.

“Aku duluan nyapu, Kak!” seru Nadhifa sambil merebut sapu.

“Eh, jangan seenaknya! Aku yang pegang duluan!” Daffa menahan ujung sapu itu.

Suara mereka mulai meninggi. Ayah dan Bunda yang sedang menjemur pakaian menoleh bersamaan.

“Sudah, sudah,” ujar Ayah dengan nada tegas tapi tenang. “Kalian berebut sapu, tapi malah kehilangan pahala.”

Nadhifa menunduk. “Aku cuma pengen bantu, Yah…”

Daffa menimpali, “Aku juga, Yah. Tapi Nadhifa marah duluan.”

Bunda menghampiri mereka, lalu memegang bahu keduanya. “Anak-anakku, ingat surat Al-‘Ashr?”

Keduanya mengangguk pelan. Daffa mulai membaca pelan,
‘Wal-‘ashr, innal insaana lafi khusr…’

Bunda melanjutkan, “Nah, Allah bilang semua manusia rugi kecuali yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Tadi kalian sudah beriman, ingin berbuat baik, tapi lupa bagian terakhir: sabar.”

Hening sejenak. Angin siang berhembus lembut.
Daffa menatap adiknya. “Maaf, ya. Aku yang salah, Dik Difa.”

Nadhifa tersenyum kecil. “Aku juga, Kak. Yuk kita nyapu bareng.”

Ayah tersenyum puas. “Begitu indah kalau keluarga saling mengingatkan dalam kebenaran. Itulah makna sibuk dengan kebaikan, bukan hanya berbuat, tapi juga menata hati.”

---

Menjelang sore, keluarga itu duduk di teras. Cahaya sore mulai redup, meninggalkan rona keemasan di langit barat. Burung-burung kembali ke sarang, dan suara anak-anak mengaji dari surau terdengar lembut.

“Yah, Bun,” kata Daffa perlahan, “aku baru sadar. Kadang aku sibuk banget sama hal-hal yang nggak penting. Game, video, teman. Tapi lupa, waktu itu kayak air—ngalir terus.”

Ayah menatapnya penuh kebanggaan. “Kamu baru saja menemukan hikmah besar, Nak. Waktu adalah amanah. Kalau kita isi dengan kebaikan, hidup jadi berkah. Tapi kalau dibiarkan, ia jadi saksi penyesalan.”

Bunda menambahkan, “Makanya Bunda dan Ayah ingin kita semua membatasi hal mubah, biar nggak berlebihan. Kita makan, tidur, bermain - semua boleh. Tapi jangan sampai melebihi kebaikan yang wajib.”

Nadhifa tiba-tiba memeluk bundanya. “Aku sayang Bunda. Aku mau jadi anak baik biar Bunda nggak capek ingetin terus.”

Bunda tertawa kecil sambil mengusap rambutnya. “MasyaAllah, itu sudah langkah pertama menuju kebaikan, sayang.”

---

Namun, malamnya, ketika semua mulai tenang, Daffa kembali duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya. Notifikasi game baru muncul. Jemarinya nyaris menyentuh layar, tapi kemudian ia berhenti.

Di luar kamar, terdengar suara ayahnya membaca Al-Qur’an dengan nada lembut, dan suara bunda berzikir lirih. Daffa menatap jam. 20.30.

Ia tersenyum sendiri, meletakkan ponselnya, lalu mengambil mushaf kecil di meja belajar.
“Kalau aku nggak sibuk dengan kebaikan, berarti aku yang rugi,” gumamnya.

Ia membuka surah Al-‘Ashr dan membacanya berulang-ulang, hingga matanya terasa hangat.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar diketuk.
“Daffa, udah siap tidur?” suara Bunda lembut.

“Iya, Bun. Tapi aku mau lanjut baca sedikit lagi.”

Bunda tersenyum haru. “MasyaAllah, semoga cahaya dhuha tadi jadi cahaya di hatimu, Nak.”

---

Keesokan harinya, ketika matahari kembali naik, Ayah menemukan selembar catatan di meja makan. Tulisan tangan Daffa:

“Ayah dan Bunda, terima kasih sudah sabar mendidikku. Aku mau belajar sibuk dengan kebaikan. Aku mau jadi cahaya dhuha untuk keluarga kita.”

Ayah menatap surat itu lama, lalu menatap istrinya. “Doa kita mulai dijawab, Dinda.”

Bunda tersenyum dengan mata berkaca. “Alhamdulillah. Keluarga yang sibuk dengan kebaikan akan selalu dijaga Allah, bahkan dalam hal-hal kecil.”

Di luar, Daffa dan Nadhifa sedang tertawa, berlarian mengejar bayangan pohon di halaman rumah. Cahaya dhuha menari di wajah mereka.

Dan di tengah kehangatan itu, keluarga kecil itu kembali diingatkan—bahwa kebahagiaan bukanlah rumah megah atau liburan panjang, tapi rumah yang di dalamnya setiap detik digunakan untuk kebaikan.

Karena hanya di rumah yang seperti itu, dhuha tak sekadar cahaya matahari, melainkan cahaya hati yang tak pernah padam.

#Cahaya Dhuha
#PuisiBuatCucunda
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 19 Oktober 2025

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI