MANUSIA DENGAN ORANG, BEDAKAH ?
Artikel ini merupakan jawaban atas pertanyaan sahabat pada status fb tgl. 19092018 pada akun saya pribadi. Yaitu pertanyaan tentang adakah perbedaan antara "orang" dengan "manusia".
Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dari tanah. Dialah Adam (seorang laki-laki). Allah juga menciptakan Siti Hawa (seorang perempuan) dengan bahan dari tulang rusuk kiri bagian bawah Adam (sebab itu satu dari tulang rusuk keturunan Adam tidak menyatu sebagaimana tulang lainnya). Sedangkan kita setelah penciptaan Adam dan Hawa adalah anak keturunannya dengan cara dilahirkan oleh Ibu Hawa yang dikenal dengan sebutan Bani Adam.
Allah ciptakan manusia dalam keadaan _fi ahsani taqwim_ yaitu diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, diharapkan agar menjadi manusia yang pandai bersyukur.
Dalam KBBI, kata "manusia" diartikan sebagai makhluk yang berakal budi. Manusia dilengkapi "akal pikiran" untuk berpikir secara logis yang dapat diterima oleh manusia (sosial) lainnya. Manusia dilengkapi dengan "hati" yaitu segumpal darah yang dapat menentukan prilaku baik atau buruknya seseorang. Pabila hatinya baik, maka baik pula prilaku dan efeknya. Begitu juga sebaliknya. Manusia juga dilengkapi dengan "nafsu syahwat", bagian inilah yang kemudian menumbuhkan : nilai rasa optimisme, cita-cita tinggi, haus pada kenikmatan, ada rasa senang/cinta/suka (demikian juga rasa benci), amarah membuncah, termasuk juga sifat syaitoni menjadi bagian dari nafsu. Ketiga hal itulah yang membedakan tingginya derajat manusia dibandingkan dengan makhluk yang lainnya.
Dalam KBBI istilah "orang" diartikan sebagai : manusia (dalam arti khusus) atau manusia (ganti diri ketiga yang tidak tentu). Masih dalam KBBI istilah "orang" yang merujuk pada kekhususan banyak dicontohkan. Misalnya :
~ orang am (awam) = manusia yang biasa (bersifat umum) baik dalam kadar keilmuan, derajat karakter, atau kepangkatan/tahta.
~ orang asing = anggota manusia yang belum dikenal / dari daerah (negara) lain.
~ orang atasan = orang atau sekelompok orang yang berstatus sosial tinggi dalam masyarakat.
~ orang merdeka = bukan budak (memiliki kebebasan dalam status sosial)
~ dan seterusnya....
Dalam Alquran terdapat kalimat seperti "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa..." atau "... dan janganlah mati kalian, kecuali kamu sekalian termasuk dalam golongan orang-orang yang Islam" atau "Sesungguhnya orang-orang kafir sama bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman". Dan banyak yang lainnya.
Pada penggalan ayat di atas menggunakan kata orang, bukan dengan kata manusia. Dimaksudkan untuk berfungsi kekhususan atau keadaan tertentu, misalnya sebuah golongan/kelompok, status genre, sifat/karakter, status sosial-ekonomi, dan atau aspek lain yang melekat pada diri manusia.
Makanya ada pemeo, "lebih mudah jadi orang ketimbang jadi manusia". Yaitu istilah orang lebih mengarah pada "person" dan bersifat perorangan, sedangkan "manusia" (human) lebih bersifat keumuman (universal) dengan segala keunikan dan pernik-pernik yang melingkupinya. Manusia itu identik dengan sifat/karakter yang menacu pada pokok kesempurnaan penciptaan. Menjadi manusia sempurna itu sebuah cita-cita, namun begitu sulit dicapainya dalam level kesempurnaan. Menjadi person atau perorangan lebih pada sempitnya lingkup pertanggungjawaban dengan tidak membawa keterlibatan (yang luas) personal lainnya.
Ada tambahan pendapat dari seseorang (yang tak tersebut namanya) bahwa kata orang dengan manusia dianalogikan seperti kata dalam bahasa Inggris, yaitu "House" dan "Home" yg artinya sama-sama "Rumah". Bedanya adalah jika
"House" lebih merujuk ke bangunan fisik rumah, sedangkan "Home" lebih merujuk ke suasana rumah itu, ada keluarga, ada rutinitas dan sinergitas, sampai suatu hubungan sistemik antar elemen di dalamnya.
Ada pula yang menginterpretasikan bahwa manusia, dalam istilah Sundan "manusa", sudah masuk tingkatan ilmu "mana nu sia", artinya tiada satupun yang merupakan "milikmu" atau "milik kita", kecuali milik Allah. Tidak ada rasa keakuan atas ilmu, harta, tahta, dan jabatan, kesombongan, rasa memiliki, karena benar-benar menyadari bahwa semua yang ada dalam diri kita adalah milik Allah. Maka kehidupannya sudah di posisi "ibadah". Hidupnya penuh dgn kebaikan, berbagi, akhlaq yang baik, bersyukur dan bentuk kebaikan lainnya.
Adapun tingkatan "orang", jika versi bahasa Sunda adalah "jelema". Tingkatan ilmunya masih dalam tahapan "juljel". Masih dalam proses berusaha/berjuang untuk mengendalikan "nafsu" sehingga selalu ta'awudz (berlindung kepada Allah dari syaitan yg terkutuk). Hatinya masih disibukkan oleh rasa memiliki, tidak mau hartanya berkurang, enggan berbagi, serakah, dengki, kikir, iri hati, suka menghina, merendahkan orang lain, tidak bersyukur dan penyakit hati lainnya. Jangankan untuk beribadah, bisa mengendalikan diri saja sudah sangat sulit. Makanya dalam rukun Islam ada rukun shalat, puasa ramadhan & zakat sebagai "latihan" sehingga tingkatan "orang/jelema" bisa naik pada tingkatan "Manusia/manusa" yg hidupnya penuh dgn "IBADAH".
Maaf jikalau kurang berkenan..
Kebenaran mutlak milik Allah, sedang saya alfakir hanyalah seorang manusia yang kenyal dengan sifat kealpaan, kekurangan dan lupa.
Alhamdulillah...
Sumene, 20092018
Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dari tanah. Dialah Adam (seorang laki-laki). Allah juga menciptakan Siti Hawa (seorang perempuan) dengan bahan dari tulang rusuk kiri bagian bawah Adam (sebab itu satu dari tulang rusuk keturunan Adam tidak menyatu sebagaimana tulang lainnya). Sedangkan kita setelah penciptaan Adam dan Hawa adalah anak keturunannya dengan cara dilahirkan oleh Ibu Hawa yang dikenal dengan sebutan Bani Adam.
Allah ciptakan manusia dalam keadaan _fi ahsani taqwim_ yaitu diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, diharapkan agar menjadi manusia yang pandai bersyukur.
Dalam KBBI, kata "manusia" diartikan sebagai makhluk yang berakal budi. Manusia dilengkapi "akal pikiran" untuk berpikir secara logis yang dapat diterima oleh manusia (sosial) lainnya. Manusia dilengkapi dengan "hati" yaitu segumpal darah yang dapat menentukan prilaku baik atau buruknya seseorang. Pabila hatinya baik, maka baik pula prilaku dan efeknya. Begitu juga sebaliknya. Manusia juga dilengkapi dengan "nafsu syahwat", bagian inilah yang kemudian menumbuhkan : nilai rasa optimisme, cita-cita tinggi, haus pada kenikmatan, ada rasa senang/cinta/suka (demikian juga rasa benci), amarah membuncah, termasuk juga sifat syaitoni menjadi bagian dari nafsu. Ketiga hal itulah yang membedakan tingginya derajat manusia dibandingkan dengan makhluk yang lainnya.
Dalam KBBI istilah "orang" diartikan sebagai : manusia (dalam arti khusus) atau manusia (ganti diri ketiga yang tidak tentu). Masih dalam KBBI istilah "orang" yang merujuk pada kekhususan banyak dicontohkan. Misalnya :
~ orang am (awam) = manusia yang biasa (bersifat umum) baik dalam kadar keilmuan, derajat karakter, atau kepangkatan/tahta.
~ orang asing = anggota manusia yang belum dikenal / dari daerah (negara) lain.
~ orang atasan = orang atau sekelompok orang yang berstatus sosial tinggi dalam masyarakat.
~ orang merdeka = bukan budak (memiliki kebebasan dalam status sosial)
~ dan seterusnya....
Dalam Alquran terdapat kalimat seperti "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa..." atau "... dan janganlah mati kalian, kecuali kamu sekalian termasuk dalam golongan orang-orang yang Islam" atau "Sesungguhnya orang-orang kafir sama bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman". Dan banyak yang lainnya.
Pada penggalan ayat di atas menggunakan kata orang, bukan dengan kata manusia. Dimaksudkan untuk berfungsi kekhususan atau keadaan tertentu, misalnya sebuah golongan/kelompok, status genre, sifat/karakter, status sosial-ekonomi, dan atau aspek lain yang melekat pada diri manusia.
Makanya ada pemeo, "lebih mudah jadi orang ketimbang jadi manusia". Yaitu istilah orang lebih mengarah pada "person" dan bersifat perorangan, sedangkan "manusia" (human) lebih bersifat keumuman (universal) dengan segala keunikan dan pernik-pernik yang melingkupinya. Manusia itu identik dengan sifat/karakter yang menacu pada pokok kesempurnaan penciptaan. Menjadi manusia sempurna itu sebuah cita-cita, namun begitu sulit dicapainya dalam level kesempurnaan. Menjadi person atau perorangan lebih pada sempitnya lingkup pertanggungjawaban dengan tidak membawa keterlibatan (yang luas) personal lainnya.
Ada tambahan pendapat dari seseorang (yang tak tersebut namanya) bahwa kata orang dengan manusia dianalogikan seperti kata dalam bahasa Inggris, yaitu "House" dan "Home" yg artinya sama-sama "Rumah". Bedanya adalah jika
"House" lebih merujuk ke bangunan fisik rumah, sedangkan "Home" lebih merujuk ke suasana rumah itu, ada keluarga, ada rutinitas dan sinergitas, sampai suatu hubungan sistemik antar elemen di dalamnya.
Ada pula yang menginterpretasikan bahwa manusia, dalam istilah Sundan "manusa", sudah masuk tingkatan ilmu "mana nu sia", artinya tiada satupun yang merupakan "milikmu" atau "milik kita", kecuali milik Allah. Tidak ada rasa keakuan atas ilmu, harta, tahta, dan jabatan, kesombongan, rasa memiliki, karena benar-benar menyadari bahwa semua yang ada dalam diri kita adalah milik Allah. Maka kehidupannya sudah di posisi "ibadah". Hidupnya penuh dgn kebaikan, berbagi, akhlaq yang baik, bersyukur dan bentuk kebaikan lainnya.
Adapun tingkatan "orang", jika versi bahasa Sunda adalah "jelema". Tingkatan ilmunya masih dalam tahapan "juljel". Masih dalam proses berusaha/berjuang untuk mengendalikan "nafsu" sehingga selalu ta'awudz (berlindung kepada Allah dari syaitan yg terkutuk). Hatinya masih disibukkan oleh rasa memiliki, tidak mau hartanya berkurang, enggan berbagi, serakah, dengki, kikir, iri hati, suka menghina, merendahkan orang lain, tidak bersyukur dan penyakit hati lainnya. Jangankan untuk beribadah, bisa mengendalikan diri saja sudah sangat sulit. Makanya dalam rukun Islam ada rukun shalat, puasa ramadhan & zakat sebagai "latihan" sehingga tingkatan "orang/jelema" bisa naik pada tingkatan "Manusia/manusa" yg hidupnya penuh dgn "IBADAH".
Maaf jikalau kurang berkenan..
Kebenaran mutlak milik Allah, sedang saya alfakir hanyalah seorang manusia yang kenyal dengan sifat kealpaan, kekurangan dan lupa.
Alhamdulillah...
Sumene, 20092018
Insyaallah lanjut teruuuus
BalasHapus