Akantha Mennya' ban Aeng
#05 SERI PAREBASAN MADURA
Akantha Mennya' ban Aeng
Kita sering disuguhkan tontonan film kartun asal Amerika yang bertajuk "Tom and Jerry" di salah satu stasiun tv. Prilaku Tom (kucing) dengan Jerry (tikus) memang sangat ekspresif. Keduanya sama-sama gesit dan terengginas. Tergambar dua karakter binatang yang sangat berbeda. Antara keduanya tidak pernah ada kesamaan atau kecocokan. Si Jerry tampak gemes yang selalu memancing emosi, sebaliknya si Tom dibuat geram sebab ulahnya. Ia ingin menangkap dan akan mempermalukan si Jerry, namun hajatnya selalu gagal. Antara keduanya selalu berseberangan arah, tak pernah bertemu dalam suatu tujuan yang sama.
Dalam peribahasa Madura digambarkan seperti hubungan antara minyak (mennya') dengan air (aeng). "Mennya'" (mintak tanah/minyak goreng) ketika bercampur atau sengaja dipertemukan dengan "aeng" tidak akan pernah terlarut atau menyatu. "Mennya'" akan berbentuk gelembung-gelembung di dasar air, atau sebaliknya. Tampak kentara bila keduanya (seolah-olah) selamanya tak akan pernah menyatu. Terkecuali kedua zat yang berbeda itu bertemu dalam sebuah adonan, misalnya kue. Tetapi ketika sama-sama berdiri sendiri akan kembali pada sifat asalnya, tidak saling menyatu walaupun antara keduanya bertemu dalam satu wadah sekalipun.
Dalam kehidupan sosial, pribadi manusia yang memiliki karakter seperti air dan minyak akan nampak selalu berseteru dan tidak pernah akur. Mereka akan saling bersilang pendapat dan berupaya untuk mempertahankan pendapat diri sendiri sekaligus berupaya untuk saling menjatuhkan. Tidak pernah terlintas untuk berusaha menyamakan persepsi. Mereka akan saling ngotot, perseteruan akan bertambah jadi. Suatu sifat yang sebenarnya kurang baik untuk diteladani. Semestinya harus disadari bahwa setiap orang pasti akan ada perbedaan. Yang terpenting pula adanya kemauan untuk mengambil manfaat dari suatu perbedaan. Bahwa perbedaan itu mengandung hikmah yang besar. Sebab itu perbedaan karakteristik perlu dicarikan solusi untuk menyamakan persepsi dalam kerangka untuk memupuk dan melestarikan keharmonisan hubungan sosial. Yaitu untuk membangun prikehidupan yang adil dan beradab. Belajar dari hubungan sifat "aeng" dan "mennya'" seharusnya menjadi motivasi untuk pengendalian etika dan estetika sosial sehingga tercermin lebih indah.
#ArtikelTigaAlinea
#by. Ahmad Rasyid
#RSU Sumekar, 28 Mei 2020
Akantha Mennya' ban Aeng
Kita sering disuguhkan tontonan film kartun asal Amerika yang bertajuk "Tom and Jerry" di salah satu stasiun tv. Prilaku Tom (kucing) dengan Jerry (tikus) memang sangat ekspresif. Keduanya sama-sama gesit dan terengginas. Tergambar dua karakter binatang yang sangat berbeda. Antara keduanya tidak pernah ada kesamaan atau kecocokan. Si Jerry tampak gemes yang selalu memancing emosi, sebaliknya si Tom dibuat geram sebab ulahnya. Ia ingin menangkap dan akan mempermalukan si Jerry, namun hajatnya selalu gagal. Antara keduanya selalu berseberangan arah, tak pernah bertemu dalam suatu tujuan yang sama.
Dalam peribahasa Madura digambarkan seperti hubungan antara minyak (mennya') dengan air (aeng). "Mennya'" (mintak tanah/minyak goreng) ketika bercampur atau sengaja dipertemukan dengan "aeng" tidak akan pernah terlarut atau menyatu. "Mennya'" akan berbentuk gelembung-gelembung di dasar air, atau sebaliknya. Tampak kentara bila keduanya (seolah-olah) selamanya tak akan pernah menyatu. Terkecuali kedua zat yang berbeda itu bertemu dalam sebuah adonan, misalnya kue. Tetapi ketika sama-sama berdiri sendiri akan kembali pada sifat asalnya, tidak saling menyatu walaupun antara keduanya bertemu dalam satu wadah sekalipun.
Dalam kehidupan sosial, pribadi manusia yang memiliki karakter seperti air dan minyak akan nampak selalu berseteru dan tidak pernah akur. Mereka akan saling bersilang pendapat dan berupaya untuk mempertahankan pendapat diri sendiri sekaligus berupaya untuk saling menjatuhkan. Tidak pernah terlintas untuk berusaha menyamakan persepsi. Mereka akan saling ngotot, perseteruan akan bertambah jadi. Suatu sifat yang sebenarnya kurang baik untuk diteladani. Semestinya harus disadari bahwa setiap orang pasti akan ada perbedaan. Yang terpenting pula adanya kemauan untuk mengambil manfaat dari suatu perbedaan. Bahwa perbedaan itu mengandung hikmah yang besar. Sebab itu perbedaan karakteristik perlu dicarikan solusi untuk menyamakan persepsi dalam kerangka untuk memupuk dan melestarikan keharmonisan hubungan sosial. Yaitu untuk membangun prikehidupan yang adil dan beradab. Belajar dari hubungan sifat "aeng" dan "mennya'" seharusnya menjadi motivasi untuk pengendalian etika dan estetika sosial sehingga tercermin lebih indah.
#ArtikelTigaAlinea
#by. Ahmad Rasyid
#RSU Sumekar, 28 Mei 2020
Komentar
Posting Komentar