Akantha Kampowan Sekkem
#04 SERI PAREBASAN MADURA
Akantha Kampowan Sekkem
Setiap orang akan pernah merasakan kemarahan. Yaitu suatu emosi yang secara fisik mengakibatkan peningkatan: denyut jantung, tekanan darah, adrenalin (sejenis hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan gerak cepat tubuh), dan noradrenalin (sejenis sel yang berfungsi untuk mobilisasi otak dan tubuh untuk bergerak cepat). (wikipedia.org) Biasanya marah itu timbul sebab perasaan yang dominan secara perilaku, berupa ekspresif luar pada raut muka (wajah), gigi gemeretak, mata melotot, nafas tersengal, dan suara yang relatif keras. Marah juga sebab respon psikhologis atas tekanan dari pihak luar, semacam tindakan untuk menghindari (penyelamatan diri) selagi mungkin sehingga terkadang sampai terjadi agresi publik. Faktor kognitif yang dapat memicu rasa marah, salah satunya sebab kurangnya pemahaman terhadap pokok masalah atau tak mampu menemukan solusi upaya penyelesaian masalah.
Orang yang sedang marah sangat mungkin untuk melakukan kesalahan apabila terjadi kehilangan kemampuan pengendalian diri. Ia cenderung menilai lawan subjektif. Apabila hal itu terjadi dapat berdampak pada kualitas hidup pribadi dan sosial pula. Dari segi lain, kemarahan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif. Artinya apabila seseorang melakukan kesalahan dapat terkoreksi oleh kemarahan orang lain.
Tabiat seseorang dalam hal kemarahan berbeda-beda, ada yang mudah marah, tapi cepat redanya; ada yang sulit marah, tapi ketika marah ekspresinya sulit diredam. Yang paling berbahaya dampaknya apabila seseorang tidak menampakkan ekspresi kemarahan sehingga orang lain tidak mengira bahwa ia sedang marah. Ia memendamnya sekaligus akan memuntahkan aksi kemarahannya setelah orang lain lengah. Sebagaimana dalam peribahasa Madura "akantha kampowan sekkem". Istilah "kampowan" bermakna bara api (apoy mardha) yang terkumpul dalam satu tempat, berwarna merah, dan sangatlah panas. "Sekkem" adalah sebagian atau keseluruhan dari tumbuhan padi berupa: batang, dedaunan, dan atau kulit yang sudah mengering serta terpisah dengan bijinya (beras). Benda itu sangat mudah terbakar. Secara simbolik peribahasa "akantha kampowan sekkem" diucapkan (disandangkan) pada seseorang yang memiliki karakter sangat pendendam dan siap bereaksi "menikam" dari belakang ketika lawan tak menyadarinya. Dalam hal ini ia tidak jelas apakah kawan atau lawan. Sebab itu diperlukan kewaspadaan yang ekstra ketika menghadapi orang yang berkarakteristik semacam itu.
#ArtikelTigaAlinea
#by. Ahmad Rasyid
#Ambunten, 26 Mei 2020
Akantha Kampowan Sekkem
Setiap orang akan pernah merasakan kemarahan. Yaitu suatu emosi yang secara fisik mengakibatkan peningkatan: denyut jantung, tekanan darah, adrenalin (sejenis hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan gerak cepat tubuh), dan noradrenalin (sejenis sel yang berfungsi untuk mobilisasi otak dan tubuh untuk bergerak cepat). (wikipedia.org) Biasanya marah itu timbul sebab perasaan yang dominan secara perilaku, berupa ekspresif luar pada raut muka (wajah), gigi gemeretak, mata melotot, nafas tersengal, dan suara yang relatif keras. Marah juga sebab respon psikhologis atas tekanan dari pihak luar, semacam tindakan untuk menghindari (penyelamatan diri) selagi mungkin sehingga terkadang sampai terjadi agresi publik. Faktor kognitif yang dapat memicu rasa marah, salah satunya sebab kurangnya pemahaman terhadap pokok masalah atau tak mampu menemukan solusi upaya penyelesaian masalah.
Orang yang sedang marah sangat mungkin untuk melakukan kesalahan apabila terjadi kehilangan kemampuan pengendalian diri. Ia cenderung menilai lawan subjektif. Apabila hal itu terjadi dapat berdampak pada kualitas hidup pribadi dan sosial pula. Dari segi lain, kemarahan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif. Artinya apabila seseorang melakukan kesalahan dapat terkoreksi oleh kemarahan orang lain.
Tabiat seseorang dalam hal kemarahan berbeda-beda, ada yang mudah marah, tapi cepat redanya; ada yang sulit marah, tapi ketika marah ekspresinya sulit diredam. Yang paling berbahaya dampaknya apabila seseorang tidak menampakkan ekspresi kemarahan sehingga orang lain tidak mengira bahwa ia sedang marah. Ia memendamnya sekaligus akan memuntahkan aksi kemarahannya setelah orang lain lengah. Sebagaimana dalam peribahasa Madura "akantha kampowan sekkem". Istilah "kampowan" bermakna bara api (apoy mardha) yang terkumpul dalam satu tempat, berwarna merah, dan sangatlah panas. "Sekkem" adalah sebagian atau keseluruhan dari tumbuhan padi berupa: batang, dedaunan, dan atau kulit yang sudah mengering serta terpisah dengan bijinya (beras). Benda itu sangat mudah terbakar. Secara simbolik peribahasa "akantha kampowan sekkem" diucapkan (disandangkan) pada seseorang yang memiliki karakter sangat pendendam dan siap bereaksi "menikam" dari belakang ketika lawan tak menyadarinya. Dalam hal ini ia tidak jelas apakah kawan atau lawan. Sebab itu diperlukan kewaspadaan yang ekstra ketika menghadapi orang yang berkarakteristik semacam itu.
#ArtikelTigaAlinea
#by. Ahmad Rasyid
#Ambunten, 26 Mei 2020
Komentar
Posting Komentar