NASEHAT DI BALIK LAYAR

NASEHAT DI BALIK LAYAR
Karya Ahmad Rasyid 

Di sebuah desa kecil bernama Kampung Tenggina, berdiri sebuah musholla tua dengan papan nama sederhana: Al Barokah. Bangunannya tak besar, dindingnya sudah mulai retak di sana-sini, namun setiap sore, tempat itu hidup kembali oleh suara anak-anak yang mengaji, derai tawa polos, dan lantunan doa.

Di antara santri yang tekun mengaji, terdapat seorang anak bernama Farhan, cucu dari Irfan Setiawan, pengasuh musholla yang telah mengabdikan hidupnya sebagai guru ngaji sejak muda. Irfan bukan sekadar seorang pengajar, tapi juga tempat curhat, pelipur lara, sekaligus penjaga moral kampung. Orang-orang memanggilnya dengan hormat: Kak Irfan.

Farhan, sejak kecil dikenal cerdas dan cepat tanggap. Namun di balik kecerdasannya, terselip satu kelemahan: kecanduan gadget. HP menjadi sahabat karib yang selalu digenggam ke mana pun ia pergi—bahkan ke kamar mandi.

“Farhan, matikan HP-mu dulu, ayo kita mulai halaqah,” kata Irfan suatu sore.

“Iya, Kek… sebentar lagi, masih nonton...” sahut Farhan, tanpa mengangkat wajahnya.

Irfan hanya mengangguk. Ia tahu, ini bukan persoalan sepele. Ia tahu, masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan bentakan atau ancaman. Hati Farhan perlu disentuh, bukan digertak.

---

Suatu petang, matahari mulai tenggelam perlahan di balik perbukitan kecil. Musholla Al Barokah mulai sepi. Irfan, seperti biasa, membersihkan sajadah dan merapikan rak Al-Qur’an.

Saat itu, matanya menangkap sosok Farhan duduk di pojok musholla, tertunduk. Tangan kecilnya menggenggam HP, matanya sayu, wajahnya murung.

Irfan mendekat perlahan, duduk di sebelahnya, lalu menepuk bahu cucunya. “Wahai Farhan,” ucapnya lembut, “apa yang kamu cari dalam layar kecil itu, sampai kamu lupa bahwa dunia nyata menunggumu di sini?”

Farhan diam. Cahaya layar HP menari di wajahnya, namun matanya kosong. “Aku merasa... hampa, Kek. Tapi kalau tak pegang HP, malah tambah gelisah.”

Irfan mengangguk, lalu berkata lirih, “Nak, tahu tidak, bahwa kecanduan ini bukan cuma melelahkan tubuhmu, tapi juga menenggelamkan hatimu?”

Farhan menoleh pelan. “Kenapa, Kek? Bukankah di HP juga ada ilmu, ada hiburan, ada dakwah juga?”

“Benar, Nak. Tapi seperti pisau, HP itu tergantung siapa yang memegang dan bagaimana ia digunakan. Jika kau biarkan HP mengendalikan waktumu, maka ia akan mencuri hidupmu pelan-pelan.”

Farhan menunduk, menatap HP-nya. “Kadang aku ingin berhenti, Kek. Tapi tangan ini selalu ingin memegang. Mata ini selalu ingin melihat. Otakku seperti tak bisa diam tanpa layar.”

Irfan tersenyum kecil. “Itulah racun yang diselipkan dalam kenyamanan. Seperti lebah-lebah yang tampak manis, tapi bisa membuatmu tenggelam dalam sarangnya.”

Farhan mulai menitikkan air mata. “Apakah aku sudah terlambat, Kek?”

“Tidak, anakku. Belum terlambat selagi hatimu masih bisa mendengar. Kakek hanya ingin kamu tahu, ada dunia yang lebih luas dari layar kecil itu. Dunia yang nyata, yang bisa kamu sentuh dengan iman dan amal.”

Farhan terdiam. HP-nya ia letakkan di samping. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mendengarkan tanpa distraksi.

“Kau tahu, Nak,...” lanjut Irfan, “...di dunia ini, ada orang-orang yang buta bukan karena matanya tak bisa melihat, tapi karena hatinya tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang sia-sia.”

Farhan menyeka air matanya. “Lalu apa yang harus aku lakukan, Kek?”

Irfan menarik napas panjang, lalu berkata mantap, “Pertama, perbanyak duduk bersama Al-Qur’an. Biarkan hatimu akrab dengan cahaya yang tak padam. Kedua, sibukkan dirimu dengan hal-hal nyata: membantu orang tua, menyapa tetangga, membaca buku, atau menulis. Dan yang paling penting, minta kepada Allah agar hatimu dikuatkan. Tanpa pertolongan-Nya, kita tak akan mampu melawan hawa nafsu.”

Farhan mengangguk. Kali ini, dengan sungguh-sungguh.

Sejak hari itu, perubahan kecil mulai tampak. Ia mulai membatasi penggunaan HP. Ia mengganti jam bermain HP dengan menghafal surat pendek atau membaca kisah sahabat Nabi. Memang tidak langsung sempurna. Kadang-kadang ia masih tergoda, tapi ia segera ingat nasihat Kakek Irfan: “Layar yang terlalu lama ditatap bisa membutakan mata hati.”

---

Tahun berganti. Farhan tumbuh menjadi pemuda yang lembut dan menyejukkan. Di usianya yang menginjak dua puluh dua, ia sudah menjadi pengajar di musholla yang sama. Musholla Al Barokah kini tampak lebih bersih dan terurus. Dindingnya dicat ulang, dan di sisi samping telah dibangun ruangan kecil untuk perpustakaan.

Suatu malam, setelah shalat isya berjamaah, Farhan duduk bersama murid-murid kecilnya. Ia membuka kajian ringan tentang adab menggunakan teknologi.

“Anak-anak,” katanya sambil menatap wajah-wajah polos itu, “siapa di antara kalian yang sering main HP sebelum tidur?”

Beberapa tangan terangkat malu-malu. Farhan tersenyum, mengenali dirinya sendiri dalam anak-anak itu.

“Dulu, Kak Farhan juga begitu. HP tak lepas dari tangan. Tapi... tahukah kalian? Ketika kita terlalu dekat dengan layar, kita bisa jauh dari cahaya.”

“Cahaya apa, Kak?” tanya seorang anak kecil.

“Cahaya iman. Cahaya hati. Kalau kalian terlalu banyak menatap dunia dari layar, nanti kalian lupa menatap dunia dari Al-Qur’an.”

Anak-anak menyimak dengan mata yang berbinar. Ada keheningan yang tenang. Farhan tidak memaksa mereka untuk berhenti menggunakan HP, tapi ia membuka pintu kesadaran agar mereka tahu batasnya.

Dari kejauhan, Irfan melihat cucunya berbicara di hadapan para santri cilik. Wajahnya teduh, suaranya tenang, dan tutur katanya sarat makna. Ia teringat hari-hari dahulu, saat Farhan menangis dalam pelukannya karena tak mampu lepas dari layar kecil itu.

Kini, layar itu telah ia tinggalkan. Bukan dibuang, tapi dijinakkan.

Dan nasihat yang dulu disampaikan dengan penuh harap, kini telah menjadi cahaya yang diteruskan ke generasi berikutnya.

---

Malam itu, sebelum tidur, Irfan menulis di buku catatannya:

“Terkadang, sebuah nasihat tak perlu teriak di atas panggung. Cukup disampaikan dengan kelembutan di balik layar. Karena hati manusia—apalagi anak muda—lebih tersentuh oleh kasih sayang daripada kemarahan.”

Ia menutup bukunya, lalu tersenyum kecil.

Farhan telah menjadi bukti hidup bahwa cinta dan nasihat, jika disampaikan dengan sabar, bisa menembus layar paling gelap sekalipun.


AmbuEnten, 23 Des 2024


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI