UNJUK KENANG PISAH DI ANTARA PUING REGULASI

UNJUK KENANG PISAH DI ANTARA PUING REGULASI
Karya Ahmad Rasyid 

Malam itu langit desa Kongjukong bertabur bintang. Angin berhembus lembut melewati pohon kelapa yang berdiri diam di halaman sekolah dasar satu-satunya di desa itu.

Di antara terangnya lampu temaram dan deretan bangku plastik yang tersusun rapi di halaman sekolah, malam perpisahan kelas enam pun dimulai. Meski sederhana, bagi masyarakat desa ini, malam itu adalah malam sakral, malam haru, malam penuh makna: malam pelepasan anak-anak mereka menuju gerbang masa depan.

Pak Hasian Deh, Kepala Sekolah yang telah sepuluh tahun mengabdi di SDN Kongjukong, berdiri di balik panggung kecil beralas karpet biru yang warnanya sudah lusuh. Ia menatap satu per satu wajah para siswa, guru, dan orang tua yang memenuhi halaman sekolah. Matanya berkaca-kaca, bukan karena lampu sorot bekas hajatan sunatan yang menyilaukan, tapi karena batinnya terbelah antara aturan dan harapan.

Suaranya bergetar saat memulai pidato.

"Bapak dan Ibu yang saya hormati... anak-anakku yang saya cintai... Malam ini bukan sekadar perpisahan. Malam ini adalah simbol, bahwa kalian telah menyelesaikan satu jenjang penting dalam kehidupan." Pak Hasian Deh mulai menggugah rasa.

Di antara hadirin, tampak seorang ibu berkebaya sederhana menggenggam erat tangan putrinya. Air matanya jatuh, namun senyumnya tetap mengembang. Ia adalah Bu Nanti, penjual gorengan keliling, yang sejak sebulan terakhir menyisihkan penghasilannya demi menjahitkan kebaya untuk malam ini. Bukan untuk tampil mewah, melainkan sebagai penghormatan bagi anaknya, bagi sekolah, dan bagi masa depan yang diimpikan.

Di panggung, Pak Hasian Deh melanjutkan, "Saya tahu, malam ini banyak di antara Bapak dan Ibu yang rela berkorban, ada yang menjual hasil kebun lebih awal, ada pula yang menyumbang karpet, bahkan lampu panggung ini... semuanya demi memberi kenangan terakhir bagi anak-anak kita."

Suasana menjadi hening. Lalu terdengar isakan kecil dari salah satu siswa perempuan di barisan depan. Dialah Rahma, murid yang selalu duduk di barisan pertama, yang bercita-cita menjadi guru. Ia tahu, malam ini bukan sekadar perpisahan dengan teman-teman, tapi mungkin juga terakhir kalinya mereka semua berkumpul sebelum terpisah ke SMP yang berbeda di kota.

Sementara itu, di balik panggung, Bu Uji, guru kelas enam yang sudah tiga puluh tahun mengajar, tengah menenangkan dirinya. Ia tahu, setelah ini, ia akan naik ke atas panggung untuk memanggil satu per satu anak-anak yang telah ia bimbing. Tapi hatinya bimbang. Ia tahu betul, aturan dari dinas sangat ketat. Bahkan acara malam ini pun mereka gelar dengan ‘kode-kode’ agar tidak disebut pelanggaran.

"Bu Uji..." bisik Pak Hasian Deh dari belakang panggung. "Ibu siap, ya. Nanti kalau ada yang tanya, bilang saja ini hanya syukuran kecil antar wali murid."

Bu Uji mengangguk dengan wajah letih. “Iya, Pak. Tapi kalau sampai sobat tuh datang lagi kayak tahun lalu... saya benar-benar sport jantung nih.”

Pak Hasian Deh hanya tersenyum pahit. “Tenang Bu, penjaga sekolah kita sudah siap. Kalau ada sobat tu, langsung dihadang. Katanya dia punya trik.”

Tak lama kemudian, suara penjaga sekolah, Pak Endi, terdengar dari pinggir lapangan. Dengan mikrofon yang entah dari mana asalnya, ia berkata lantang,

“Acara ini murni atas keinginan dan inisiatif wali murid! Tidak ada paksaan, tidak ada pungutan. Kalau ada yang ingin bertanya, silakan nanti temui saya di belakang warung kopi Ma' Yem!”

Beberapa orang tua tertawa kecil, mencairkan suasana. Tapi Pak Hasian Deh tahu, tawa itu hanyalah tameng dari kekhawatiran yang mendalam. Ia sendiri semalam tidak bisa tidur, memikirkan bagaimana jika besok surat teguran datang, atau lebih parah lagi—pemeriksaan dadakan oleh auditor.

Namun malam terus berjalan. Prosesi pemanggilan nama, pembacaan puisi oleh siswa, persembahan lagu perpisahan, semuanya mengalir dengan lancar. Bahkan di akhir acara, para orang tua berdiri, menyanyikan lagu “Hymne Guru” bersama anak-anak mereka.

Air mata tumpah. Tidak ada satu pun yang bisa menahan haru ketika suara anak-anak menyatu: Engkau laksana pelita dalam kegelapan, engkau patriot pahlawan bangsa... Tanpa tanda jasa....

Di saat seperti itulah, segala kekhawatiran dan tekanan aturan seolah menguap. Di momen itu, semua merasa satu: guru, siswa, orang tua. Mereka bukan sedang melanggar aturan, mereka sedang merayakan hasil jerih payah bertahun-tahun. Mereka sedang mengabadikan momen yang mungkin hanya sekali seumur hidup bagi banyak dari anak-anak itu.

Setelah acara selesai dan tamu mulai meninggalkan lokasi, Pak Hasian Deh duduk sendirian di bangku plastik paling belakang. Matanya menatap langit yang kini dihiasi awan tipis. Langkah kaki seseorang mendekat. Ternyata Pak Endi.

“Pak... acara sukses. Aman. Sobat tu nggak nongol. Kita selamat,” katanya sambil tersenyum lebar, meski masih ada sisa upil di sudut hidungnya.

Pak Hasian Deh terkekeh lemah. “Terima kasih, Pak Endi. Jujur... saya tadi sampai mimpi buruk soal acara ini. Dalam mimpi saya, semua datang: Sobat tu, auditor dan surat regrouping!”

“Ya ampun, Pak... mimpi macam apa itu?” celetuk Pak Endi.

“Serius. Bahkan ada suara orang teriak, ‘Pak, sudah jam dua siang, waktunya cek out!’”

“Lho, itu mah mimpi Bapak lagi tidur di hotel! Hahaha!”

Pak Hasian Deh ikut tertawa. “Mungkin. Tapi yang pasti... malam ini bukan mimpi. Ini nyata. Dan saya rasa... perpisahan ini membawa sesuatu.”

Pak Endi mengangguk. “Membawa harapan ya, Pak?”

Pak Hasian Deh menoleh. “Bukan cuma harapan. Tapi juga keberanian. Keberanian untuk tetap memanusiakan anak-anak kita di tengah kekakuan aturan.”

Mereka berdua diam sejenak. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari semak-semak. Lalu Pak Endi berkata lirih,

“Pak... kalau pun besok sekolah ini ditutup karena murid makin sedikit... setidaknya malam ini kita bisa bilang: kita sudah melakukan yang terbaik.”

Pak Hasian Deh tersenyum. “Ya... ya... ya.... Dan malam ini... perpisahan benar-benar membawa makna.”

AmbuEnten, 6 Juni 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI