TANGISAN DAFFA
TANGISAN DAFFA


Karya Ahmad Rasyid
Senja merangkak pelan di langit desa AmbuEnten. Angin lembut membawa harum tanah basah setelah hujan semalaman, menyelinap di sela dedaunan jeruk purut yang menjuntai di halaman belakang rumah Kek Acit. Di beranda kayu yang telah berumur puluhan tahun, seorang anak lelaki kecil duduk sambil memeluk lutut. Namanya Daffa. Usianya baru lima tahun, dan matanya masih sembab karena tangis.
Kek Acit, lelaki tua dengan janggut putih selebat kabut pagi, duduk tak jauh dari cucunya itu. Tangannya sibuk mengupas jeruk siam dengan pisau kecil yang sudah tumpul. Ia menatap Daffa sesekali, lalu tersenyum kecil. Tidak ada teguran.
“Daffa sedih, ya?” tanya Kek Acit perlahan, seolah kata-katanya ditiup angin sore.
Daffa mengangguk pelan. “Aisyah bilang gambar Daffa jelek. Terus... terus Bunda tadi bilang jangan nangis terus. Katanya anak laki-laki nggak boleh cengeng, Kek”
Kek Acit mengangguk pelan, menaruh jeruk yang sudah dikupas ke piring rotan.
“Boleh Kakek cerita sesuatu?” tanyanya.
Daffa memandang Kek Acit dengan mata bulat yang masih basah. Ia mengangguk kecil.
“Dulu waktu Ibumu, Bunda Anisa, masih kecil, dia juga gampang menangis. Pernah waktu hujan deras, ia menangis hanya karena kupu-kupu yang biasa bermain di taman tidak datang. Waktu itu aku juga bingung, kok hal kecil bisa bikin menangis? Tapi ternyata…”
Kek Acit diam sejenak, menatap langit yang mulai jingga.
“Ternyata itu bukan hal kecil. Karena hati anak-anak tidak melihat dunia dengan mata saja, tapi juga dengan rasa. Dan hatimu, Daffa, adalah hati yang masih jernih.”
Daffa terdiam. Ia tidak sepenuhnya paham, tapi ada kehangatan yang menetes ke dalam dadanya. Ia menggeser duduknya, mendekat ke kakeknya.
“Tapi Bunda bilang harus belajar kuat,” gumamnya.
“Betul. Tapi kuat bukan berarti nggak boleh menangis,” ujar Kek Acit sambil tersenyum. “Kamu tahu Nabi kita, Nabi Muhammad? Beliau juga menangis. Waktu melihat orang miskin, waktu kehilangan orang yang beliau cintai, beliau menangis. Tangisan bukan tanda lemah, tapi tanda hati kita masih hidup.”
Daffa memandang kakeknya dalam-dalam. “Jadi... Daffa nggak salah nangis?”
Kek Acit menggeleng. “Tidak. Daffa sedang belajar mengenal kecewa. Itu penting. Nanti saat Daffa besar, Daffa akan lebih mudah memahami orang lain yang sedang sedih, karena Daffa sendiri pernah merasakannya.”
Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar suara Aisyah, sepupu Daffa. “Daffaaa, ayo main lagi! Udah selesai hujannya!”
Daffa menoleh ke dalam. Ia ragu. Tapi Kek Acit menepuk pelan punggung cucunya.
“Pergilah. Tapi sebelum itu...” Kek Acit membuka tangan lebar. “Peluk dulu Kakek yuk! Biar semangatnya penuh.”
Daffa tersenyum dan memeluk Kek Acit erat-erat.
---
Di ruang tengah, Bunda Anisa sedang melipat baju sambil sesekali melirik ke luar jendela. Ayah Bahul duduk membaca koran tua yang mulai menguning. Ia berkata pelan, “Tadi Daffa nangis lagi, ya?”
Bunda mengangguk. “Sudah berhari-hari. Kalau tersinggung sedikit, langsung menangis. Tadi siang waktu menggambar, dikritik Aisyah saja langsung pecah tangisnya. Aku kadang... merasa gagal. Merasa, apakah aku terlalu lembut, atau malah terlalu keras?”
Ayah Bahul menutup koran dan menatap istrinya. “Aku juga sempat berpikir begitu. Tapi aku baca artikel tentang perkembangan otak anak. Ternyata, anak itu memang belum bisa mengatur emosinya sendiri. Tangisan mereka itu seperti pelatihan, bukan kelemahan.”
Bunda Anisa terdiam. “Tapi orang-orang bilang, laki-laki jangan cengeng…”
“Dan orang-orang juga pernah bilang bahwa menangis itu memalukan,” sahut si ayah pelan, “Tapi dalam Alquran justru menyebut tangisan karena kebenaran sebagai tanda khusyuk. Kita yang harus belajar membedakan, mana tangis yang melemahkan, dan mana yang sedang menguatkan hati.”
Bunda menatap suaminya. “Kek Acit pernah bilang, Daffa itu anak yang peka. Tangisnya mungkin membuat kita repot, tapi suatu hari... mungkin karena itu, ia jadi orang yang peduli pada orang lain.”
Ayah Bahul tersenyum. “Sepertimu.”
Bunda tersenyum malu.
---
Sore itu Daffa dan Aisyah bermain di halaman, melompati genangan air. Aisyah mendekat dan berkata, “Daffa, maaf ya tadi aku bilang gambarmu jelek. Aku nggak sengaja....”
Daffa memandang sepupunya. Ia menarik napas, lalu mengangguk. “Nggak apa-apa. Daffa tadi nangis karena sedih... tapi sekarang udah mendingan. Soalnya Kakek bilang itu tandanya Daffa belajar ngerti kecewa.”
Aisyah mengerutkan dahi. “Kek Acit bilang gitu?”
Daffa mengangguk dengan bangga. “Kek Acit bilang, orang yang mudah nangis itu hatinya lembut. Dan... hatinya hidup.”
Aisyah tersenyum. “Aku juga kadang nangis, kok. Waktu boneka kelinciku hilang, aku nangis dua jam lo.”
Mereka berdua tertawa.
Dari beranda, Kek Acit memandangi cucu-cucunya bermain. Matanya berkaca. Ia mengingat masa kecil anak-anaknya. Betapa cepat waktu berlalu. Tapi satu hal tidak pernah berubah: Hati anak-anak, bila dijaga dengan cinta, akan tumbuh menjadi pohon yang kuat dan rindang.
Ia menggumam pelan ayat yang telah lama menjadi doa dalam sujudnya:
"Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis, dan mereka bertambah khusyuk..." (QS. Al-Isra: 109)
---
Malam menjelang. Di kamar, Daffa memeluk selimut. Bunda duduk di sisinya, membenarkan guling yang hampir jatuh.
“Bunda...” bisik Daffa.
“Iya, Sayang?”
“Kalau Daffa nangis, Bunda marah nggak?”
Bunda menggeleng. “Nggak. Tapi kadang Bunda bingung. Tapi Bunda belajar. Kalau Daffa nangis, Bunda sekarang mau dengarkan. Peluk. Biar Daffa tahu, Daffa nggak sendirian.”
Daffa tersenyum kecil. “Terima kasih, Bunda. Adek sayang Bunda.... ”
Bunda memeluk Daffa erat-erat. “Nggak apa-apa sedih, ya. Bunda di sini.”
Daffa memejamkan mata, tenang. Buliran air matanya seperti air mata yang jatuh malam ini, pelan-pelan hatinya tumbuh—dengan lembut dan utuh.
Padangdangan, 11 Juni 2025
Komentar
Posting Komentar