Asapo' Sahadat Abantal Iman


#09 SERI PAREBASAN MADURA 

 Asapo' Sahadat Abantal Iman 

Selain berperangai keras dan berpendirian kuat, bangsa Madura dikenal pula sebagai bangsa yang religius. Wujud religius, mereka selalu tawaduk dan taat terhadap titah Kyai. Mereka meyakini apa yang keluar dari lisan Kyai merupakan pengejawantahan dari rahasia Alquran. Bahkan segi-segi kehidupan yang detail mesti menunggu berkah Kyai. Tak akan dilakukannya bila belum mendapatkan restu dan petnjuknya, di samping atas rida orang tua. Kuat dalam memegang prinsip "bapa' babu' guru rato" yang harus diikuti dan ditaati. Prinsip ini kemudian membudaya. 

Hampir di setiap rumah selalu terdapat musalla walaupun semi permanen. "Paddusan" atau tempat wuduk yang terbuat dari tempayan besar menghiasi sebelahnya. Pakaian koko dan kopiah putih selalu dikenakannya, walau mereka belum melaksanakan ibadah haji. Mereka mengiaskan bahwa sesuatu yang putih akan menjadi cerminan hati yang suci. 

Demikian dalam peribahasa Madura disandangkan "asapao' sahadat abantal iman" bagi mereka yang kokoh dan taat dalam menjalankan syariat agama. Syahadat menjadi landasan sekaligus benteng dalam setiap tindakan. Ialah selimut kehidupan. Sedangkan iman menjadi sandaran peneguh keyakinan. Bahwa segala sesuatu adalah dari, oleh, dan untuk Allah semata. 

Satatta' dhaunna memba # Satangkep dhaunna nangka 
Abukka' labang sowarga # Aentep labang naraka

 #ArtikelTigaAlinea
 #by. Ahmad Rasyid 
 #Ambunten, 25 Juli 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI