SPGN 1987 ANTARA SEPEDA, SENJA, DAN CERITA YANG TAK PERNAH USAI

SPGN 1987 ANTARA SEPEDA, SENJA, DAN CERITA YANG TAK PERNAH USAI 
@hmad Rasyid 


Senja itu selalu datang lebih cepat di halaman sekolah kami. Dulu seolah ia tahu bahwa kami adalah anak-anak sore yang mengejar masa depan di antara bayang-bayang panjang. 

Aku, Matrasit, masih ingat betul bagaimana cerita itu dimulai pada tahun 1984, saat kami resmi menjadi bagian dari SPG Negeri Sumenep angkatan kedua.

“Sit, kamu yakin ini sekolah guru?” bisik Masturi sambil menyenggol lenganku.

“Kenapa?” tanyaku heran.

“Lah, kelasnya numpang di SD, masuknya sore lagi. Rasanya kayak sekolah rahasia,” jawabnya sambil terkekeh.
Aku tertawa. “Justru itu, Mas. Kita ini calon guru spesial.”

Kami memang memulai dari tempat sederhana. Menumpang di SDN Pamolokan I Kecamatan Kota. Kelas-kelasnya terasa sempit, papan tulisnya kadang masih berbekas tulisan anak SD pagi hari. Tapi di situlah mimpi kami bertunas.

Urip Junaidi, yang juga terbilang rada serius, pernah berkata, “Yang penting bukan gedungnya, tapi ilmunya kan?”

Bakri langsung menyahut, “Kalau gedungnya bagus, ilmunya bisa lebih semangat, Rip!”

“Kalau kamu, Masturi, yang penting kantinnya,” sela Gani, membuat kami semua pecah tertawa.

Hari-hari itu dipenuhi pelajaran Psikologi yang sering membuat dahi berkerut dalam mempelajari psikis seseorang. 

Adapun pelajaran Didaktik Metodik yang justru membuat hati hangat dalam berkemas sebagai calon guru profesional. Moh. Ramli, yang jago berhitung, sering jadi “penyelamat” kami.

“Ramli, ini rumusnya gimana?” tanyaku suatu sore.

Dia menghela napas dramatis. “Matrasit… kalau aku terus yang ngajarin, nanti aku minta bayaran.”

“Bayaran apa?” tanya Masturi cepat.

“Sepeda baru,” jawabnya santai.

“Wah, itu mah bukan bayaran, itu perampokan!” teriak Bakri.

Tawa kembali pecah.

Kartini dan Citra, dua sahabat yang selalu duduk di depan, sering jadi penyeimbang suasana. Kartini tegas dan rapi, sementara Citra lembut tapi penuh canda.

“Kalau kita ribut terus, nanti jadi guru apa?” tegur si Ibu Kita Kartini.

“Guru humor,” jawab Gani tanpa dosa.

Citra tersenyum. “Kalau begitu, muridnya pasti betah, Gan.”

*****

Memasuki tahun kedua, kami mendapat kabar besar: kami akan pindah ke gedung baru di Desa Patean, sekitar lima kilometer menuju selatan kota.

“Jauh juga ya,” gumamku.

“Lumayan buat olahraga,” kata Masturi sambil menepuk sepeda jengkinya.

Dan sejak itulah, jalan panjang menjadi bagian dari cerita kami. Sekolah sore berubah ke pagi hari.

Setiap pagi, kami harus mengayuh sepeda. Sepeda engkol khas 80-an, yang bunyinya kadang berderit seperti ikut berbicara. Laki-laki, hampir semua sama: berkeringat, tertawa, dan kadang saling mendahului.

Aku sendiri harus menempuh sekitar lima kilometer dari Pondok Pesantren Matholiul Anwar Kepanjin. Hidupku terbagi dua: siang hingga malam belajar agama, pagi menjadi calon guru.

“Sit, kau ini murid atau superhero?” tanya si Bakri suatu hari.

“Kenapa?” kataku.

“Sore mondok, pagi sekolah. Malamnya jangan-jangan patroli,” candanya.

Aku tersenyum. “Kalau aku superhero, kalian timku, Kri.”

“Berarti aku ketua timnya,” kata Gani cepat.

“Siapa bilang?” sahut Masturi. “Aku yang punya sepeda paling cepat!”

Urip menggeleng. “Kalian ini, bahkan superhero pun kalah ributnya.”

*****

Gedung baru kami di Patean sebenarnya belum sepenuhnya “jadi”. Tanahnya masih bekas sawah, sebagian berlumpur, bahkan sisa tanaman padi dan tembakau masih terlihat.

Hari pertama di sana, sepatu kami kotor semua.

“Ini sekolah atau sawah?” tanya Bakri sambil mengangkat sepatunya yang penuh lumpur.

“Sekolah masa depan,” jawab Urip mantap.

Kami tak hanya belajar di sana, tapi juga membangun.

Bahu-membahu, kami meratakan tanah, membersihkan rumput liar, menanam pepohonan, dan menciptakan halaman yang layak disebut sekolah.

“Kalau jadi guru nanti, kita bisa bilang ke murid: ini sekolah hasil kerja keras kami,” kata Kartini bangga.

“Kalau muridnya nakal, kita suruh mereka bangun sekolah juga,” sahut Gani.

“Biar tahu rasanya,” tambah Masturi.

Aku ingat bagaimana tangan kami kotor, tapi hati kami bersih oleh kebersamaan. Bahkan kerja berat pun terasa ringan karena kami melakukannya bersama.

Citra pernah berkata pelan, “Nanti kalau kita sudah tidak di sini, semoga tempat ini tetap hidup.”

Aku menatapnya. “Akan hidup, karena ada cerita kita di dalamnya.”

*****

Tahun demi tahun berlalu. Kami semakin dekat, semakin mengenal satu sama lain. Hingga akhirnya, kami sampai di tahun terakhir: 1987.

Ujian akhir — EBTANAS — menjadi bayang-bayang besar.

Perjalanan ke sekolah pun berubah. Kami tak lagi hanya mengandalkan sepeda. Kami mulai naik mobil carteran, taksi L300 berwarna putih yang sudah mulai usang.

“Wah, sekarang teman-teman sudah jadi orang kota,” kata Bakri sambil duduk di atas sepeda bututnya.

“Jangan sombong, itu cuma sementara,” jawab Urip.

Masturi menepuk jok mobil. “Yang penting tidak capek nggowes.”

“Dan tidak kehujanan,” tambah Citra.

Perjalanan di dalam mobil itu penuh cerita. Kadang kami bernyanyi, kadang saling mengejek, kadang diam - larut dalam pikiran masing-masing tentang masa depan.

Suatu hari, Ramli berkata pelan, “Nanti kalau kita lulus, apakah kita masih bisa seperti ini?”

Suasana mendadak hening.

Aku menjawab, “Mungkin tidak sama. Tapi kenangan ini akan tetap ada.”

Gani mencoba mencairkan suasana. “Kalau kangen, kita bikin reuni. Tapi syaratnya, Masturi harus traktir!”

“Kenapa aku?” protes Masturi.

“Karena kamu paling pelit,” jawab Bakri cepat.

“Eh, itu fitnah!” teriak Masturi.

Tawa kembali mengisi warung kecil di timur sekolah. Kantin yang sulit terlupakan sebagai pendengar setia kisah cinta kami.

*****

Tahun itu pun berlalu. Kami lulus. Jalan hidup membawa kami ke arah masing-masing.

Kini, SPG Negeri Sumenep telah berubah menjadi SMK Kabupaten Sumenep. Gedungnya berdiri megah di selatan Universitas Wiraraja.

Namun setiap kali aku melewati tempat itu, aku tak melihat gedungnya saja. Aku melihat bayangan kami — anak-anak muda dengan sepeda, dengan tawa, dengan mimpi.

Aku melihat Masturi yang selalu bercanda, Urip yang sok bijak, Bakri yang cerewet, Gani yang spontan, Ramli yang pintar, Kartini yang tegas, dan Citra yang lembut.

Aku melihat diriku sendiri. Matrasit yang pernah mengayuh sepeda lima kilometer, membawa dua dunia dalam satu langkah.

Dan dalam hati, aku berkata pelan, “Terima kasih… untuk semua kebersamaan itu.”

Seolah dari kejauhan, aku masih mendengar suara mereka, “Sit, jangan melamun! Ayo ke kelas!”

Aku tersenyum.

Kenangan itu… tak pernah benar-benar pergi, namun eksis terajut bersama dalam MASTEKSA.

AmbuEnten, 22 April 2026
#BerbagiItuIndah
#Mella'Ate
#KomalaMostekanaAte


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI