PAGI HARI DI SERAMBI KEK ACIT
PAGI HARI DI SERAMBI KEK ACIT Karya Ahmad Rasyid Mentari baru saja menembus celah dedaunan jambu di halaman belakang. Embun masih menggantung di ujung daun, dan suara cericit burung-burung ulat berpadu dengan desir angin yang menyejukkan hati. Di serambi kayu rumah tua yang masih kokoh berdiri, duduklah seorang lelaki paruh baya berjanggut putih, Kek Acit, ditemani secangkir kopi hitam pahit dan suara khas kayu yang berderit bila bergeser. Tiba-tiba terdengar suara kecil mendekat, diselingi bunyi “dor-dor!” dan teriakan penuh semangat. “Dor! Aku tentara! Aku tangkap penjahat!” seru Daffa, cucu pertama Kek Acit, sambil mengacungkan pistol mainan plastiknya. Kek Acit tersenyum. Ia meletakkan kopinya dan merentangkan tangan, menangkap tubuh mungil cucunya yang melompat ke pangkuannya. “Wah, Daffa mau jadi tentara, ya?” tanya Kek Acit sambil mengusap kepala cucunya yang lebat rambutnya. “Iya, Kek! Kalau besar nanti Daffa mau jadi tentara biar bisa jaga negara dan tembak ya...