Postingan

ILHAM, ANAK YANG MENGUATKAN

Gambar
Anak Inspiratif #02 ILHAM, ANAK YANG MENGUATKAN  @hmad Rasyid  Namaku Matrasit, kepala SDN Padangdangan I. Sejak Oktober lalu, kakiku belum bisa memakai sepatu. Aku hanya bisa memakai sandal gunung, sandal yang mengikat erat kedua kakiku ketika aku kemana-mana, termasuk ketika ke sekolah.  Aku masih menjalani ujian sakit. Setiap hari aku diantar sepeda oleh Pak Risqon, guru olahraga kami yang tinggal sedesa denganku. Beliau guru olahraga, ia yang sering mengingatkanku untuk banyak istirahat. Pagi itu, seperti biasa, sepeda berhenti di depan gerbang sekolah. Aku turun perlahan. Belum sempat aku berdiri tegak, sebuah suara kecil menyapaku. “Assalamu’alaikum, Pak…” Aku menoleh. Ilham, siswa kelas IV, sudah berdiri rapi di depanku. Tangannya terulur, matanya bening, senyumnya tipis tapi hangat. “Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil menjabat tangannya. Ilham menundukkan kepala. Aku pun refleks mencium keningnya. Kadang kening, kadang ubun-ubunnya. Ilham t...

SYIFA, OBAT DARI LAYAR KECIL

Gambar
Anak Inspiratif #01 SYIFA, OBAT DARI LAYAR KECIL  @hmad Rasyid  Namaku Matrasit, nama kecil dari seorang plt. kepala sekolah di SDN Padangdangan I, Pasongsongan. Sejak 6 Oktober 2025 lalu, hidupku berjalan lebih pelan. Kakiku belum sekuat dulu karena ujian sakit stroke.  Aku belajar sabar, belajar tersenyum, dan belajar kuat. O..., di antara hari-hari itu, ada satu nama kecil yang sering muncul di layar gawaiku: Syifa. Ya SYIFA, siswi kelas III. Pagi hari di sekolah, aku berdiri di dekat gerbang sedang berjalan santai dengan tongkat pramuka usang yang setia menemaniku berkeliling halaman sekolah dan kala aku berjemur ria di bawah terik sang surya. Anak-anak pun berdatangan. “Assalamu’alaikum, Bapak!” Suara kecil itu selalu lebih dulu terdengar. “Wa’alaikumussalam, Nak,” jawabku. Anak itu menatap kakiku. “Pak, hari ini sudah sembuh belum?” Aku tersenyum. “Masih proses pemulihan, Nak.” Anak itu yang ternyata bernama Syifa. Ia mengangguk serius. “Berarti doanya h...

MOMEN HANGAT UNTUK PASOKAN PROGRAM MBG -SPPG PADANGDANGAN I DI HARI KEDUA

Gambar
Catatan Kecil Kepala Sekolah*) MOMEN HANGAT UNTUK PASOKAN PROGRAM MBG - SPPG PADANGDANGAN I DI HARI KEDUA  @hmad Rasyid  Pada hari Jumat, 6 Februari 2026, tepat pukul 07.30 WIB, pasokan Program Makan Bergizi (MBG) dari SPPG Padangdangan memasuki area SDN Padangdangan I. Kedatangan program ini bertepatan dengan pelaksanaan kegiatan rutin sekolah, yaitu Jumat Sehat Jasmani dan Jumat Sehat Rohani, sehingga menciptakan suasana yang penuh semangat, kebersamaan, dan nuansa religius yang sangat bermakna bagi seluruh warga sekolah. Saat kendaraan MBG tiba, para siswa bersama para guru sedang melaksanakan kegiatan Jumat Sehat Jasmani berupa Senam Kebugaran Jasmani "Senam Anak Indonesia Hebat".  Senam ini diikuti dengan antusias oleh seluruh siswa bersama guru, mencerminkan semangat hidup sehat serta kesiapan jasmani sebelum memulai aktivitas belajar dan menerima asupan ilmu hikmah.  Kegiatan ini menjadi pembuka yang tepat sebelum dilanjutkan pada pembinaan rohani....

NISFU SYAKBAN DI UJUNG MADURA: TRADISI SALLIMAN DAN TUTUP BUKU AMAL

Gambar
NISFU SYAKBAN DI UJUNG MADURA: TRADISI SALLIMAN DAN TUTUP BUKU AMAL  @hmad Rasyid  Malam Nisfu Sya’ban di Sumenep selalu punya denyutnya sendiri yang terbilang unik. Udara Kota Sumenep terasa lebih hangat, bukan karena cuaca, melainkan karena sebuah tradisi yang membudaya saling menghangatkan hati. Dari pusat kota hingga pinggiran Manding, seperti Lalangon dan Kasengan lampu-lampu rumah menyala lebih awal, pintu-pintu terbuka lebih lama, dan senyum terasa lebih murah dibagikan. Bagi masyarakat yang menamakan diri Jam’iyah Ahlussunnah, malam pertengahan bulan Sya’ban bukan sekadar tanggal di kalender hijriah.  Malam itu diyakini sebagai saat diangkatnya catatan amal manusia, laporan resmi malaikat Raqib dan Atid ke Hadirat Allah SWT. Maka, sebelum “buku lama” ditutup dan “buku baru” dimulai, mereka ingin membersihkannya dengan doa dan maaf. "Nolganol" mereka istilahkan. Sejak awal Maghrib masjid-masjid dan mushola penuh. Masyarakat hadir memadatinya tempat-temp...

KALA HATI BELAJAR BERSERAH

Gambar
Cerpen Cahaya Dhuha #33 KALA HATI BELAJAR BERSERAH  @hmad Rasyid  Langit malam baru saja menelan sisa jingga Maghrib. Lampu-lampu rumah mulai menyala, dan aroma teh hangat menyeruak dari dapur. Di ruang tengah yang sederhana, Kakek Acit duduk bersila di atas karpet hijau, mushaf Al-Qur’an masih terbuka di pangkuannya. Daffa menutup buku Iqra'nya dengan napas panjang. “Huuu… akhirnya selesai juga,...” katanya sambil meregangkan tangan. “...Huruf ‘ain ini susah banget, Kek. Lidahku kayak keseleo.” Nadifa menoleh cepat. “Salah sendiri, bacanya sambil mikir camilan.” “Heh! Aku serius belajar, tahu,” bantah Daffa. Kakek Acit tertawa kecil. “Belajar Al-Qur’an itu memang butuh sabar. Lidah boleh capek, tapi hati jangan, Nak” Nadifa mengangguk sambil merapikan jilbabnya. “Kek, kok habis Maghrib rasanya adem ya?” “Itu bonus,” jawab Kakek Acit. “Bonus dari salat tepat waktu dan membaca firman Allah, Al-Qur'an.” Daffa mendengus manja. “Kalau gitu, kenapa hidup kad...

KISAH OASE PAGI

Cerpen Cahaya Dhuha #32 KISAH OASE PAGI  @hmad Rasyid  Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Matahari perlahan turun, seolah sengaja melambat agar manusia sempat merenung. Angin sore berembus pelan di halaman rumah tua bercat hijau pucat. Di beranda, Kakek Acit duduk di kursi kayu panjang, sambil memijat lututnya yang mulai sering protes jika cuaca berubah. Daffa duduk di lantai beralas tikar pandan, memainkan batu-batu kecil. Nadifa bersandar di tiang beranda, menggoyang-goyangkan kakinya sambil memegang segelas kopi pahit yang sudah cukup dingin untuk kakeknya. “Sabtu sore gini enaknya ngapain, Kek?” tanya Nadifa, matanya menerawang ke langit. Kakek Acit tersenyum. “Kalau menurut Kakek, paling enak itu… diam.” Daffa langsung protes, “Hah? Diam doang? Itu mah kayak patung di museum, Kek.” Kakek Acit terkekeh. “Nah, patung itu mahal, Nak. Kamu jangan meremehkan.” Nadifa ikut tertawa. “Kalau Daffa jadi patung, pasti patung yang lagi manyun.” “Heh!...” Daffa mendengus. “......

RESEP KELUARGA BAHAGIA DI WAKTU DHUHA

Cerpen Cahaya Dhuha #30 RESEP KELUARGA BAHAGIA DI WAKTU DHUHA  @hmad Rasyid  Pagi itu, matahari baru saja naik sepenggal tombak. Sinar dhuha menyelinap malu-malu lewat jendela kayu rumah tua Kakek Acit. Angin Minggu berhembus santai, membawa aroma kopi pahit panas dan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan. Ia nikmati sehabis salat Dhuha sebanyak dua salam. Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya, sarung dilipat rapi, peci coklat terbuat dari anyaman rotan miring sedikit—entah sengaja atau lupa dibenarkan. Di depannya, dua cucu kesayangannya duduk bersila: Daffa dengan wajah sok dewasa, dan Nadifa yang sejak tadi sibuk mengipas wajahnya dengan buku tulis. “Kek,...” ujar Nadifa sambil manyun, “...kenapa sih dhuha harus pagi-pagi? Panas.” Kakek Acit tersenyum. “Supaya kamu belajar, Nak. Bahagia itu nggak nunggu adem dulu.” Daffa terkekeh. “Berarti kalau nunggu kipas angin baru bahagia, salah dong, Kek?” “Nah, itu sudah mulai paham,...” jawab Kakek Acit sambil menunjuk...