HARAPAN KAKEK ACIT
Cerpen Cahaya Dhuha #10 HARAPAN KAKEK ACIT @hmad Rasyid Suasana sore itu terasa lembut di teras rumah kayu milik Kakek Acit. Angin berhembus perlahan membawa wangi bunga melati yang tumbuh di sudut halaman. Di kursi rotan yang sudah mengilap dimakan usia, Kakek Acit duduk dengan sarung kotak dan kopiah hitam dari anyaman kesayangannya. Di pangkuannya, ada buku catatan tua berwarna coklat yang tepi halamannya mulai keriting. Dua cucunya, Daffa dan Nadifa, duduk bersila di depannya sambil mengupas mangga muda. Senyum mereka merekah, seperti matahari sore yang mengintip di balik dedaunan. “Cucu-cucuku sayang,...” ujar Kakek Acit sambil menatap lembut, “...hari ini kakek ingin bercerita sesuatu yang dulu sangat kakek sukai. Waktu muda dulu, kakek paling senang kalau ada orang berpidato. Suaranya lantang, katanya berisi, dan penuh semangat menyambut tamu di acara pernikahan atau kegiatan kampung. Kakek dulu bercita-cita bisa seperti itu.” Daffa mengangguk sambil mengunyah mangga pelan....