Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

HARAPAN KAKEK ACIT

Cerpen Cahaya Dhuha #10 HARAPAN KAKEK ACIT @hmad Rasyid  Suasana sore itu terasa lembut di teras rumah kayu milik Kakek Acit. Angin berhembus perlahan membawa wangi bunga melati yang tumbuh di sudut halaman. Di kursi rotan yang sudah mengilap dimakan usia, Kakek Acit duduk dengan sarung kotak dan kopiah hitam dari anyaman kesayangannya. Di pangkuannya, ada buku catatan tua berwarna coklat yang tepi halamannya mulai keriting. Dua cucunya, Daffa dan Nadifa, duduk bersila di depannya sambil mengupas mangga muda. Senyum mereka merekah, seperti matahari sore yang mengintip di balik dedaunan. “Cucu-cucuku sayang,...” ujar Kakek Acit sambil menatap lembut, “...hari ini kakek ingin bercerita sesuatu yang dulu sangat kakek sukai. Waktu muda dulu, kakek paling senang kalau ada orang berpidato. Suaranya lantang, katanya berisi, dan penuh semangat menyambut tamu di acara pernikahan atau kegiatan kampung. Kakek dulu bercita-cita bisa seperti itu.” Daffa mengangguk sambil mengunyah mangga pelan....

MAIN BOLA DI BAWAH CAHAYA REMBULAN

Cerpen Cahaya Dhuha #09 MAIN BOLA DI BAWAH CAHAYA REMBULAN  @hmad Rasyid  Malam itu, bulan purnama menggantung tinggi di atas atap Musholla Al Hikmah. Cahayanya menembus genting kaca, jatuh lembut ke lantai marmer yang dingin, menciptakan kilau putih keperakan. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari arah kebun pisang, sementara dari halaman musholla terdengar tawa riang para santri kecil yang bermain sambil menunggu Ustadz Karim datang untuk mengisi renungan malam. “Eh, Daffa! Bola-nya ke atap!” seru Ahmadi sambil menunjuk ke atas. Daffa mendongak. “Aduh, gimana nih, Ahmadi? Itu bola satu-satunya!” “Udah, biar aku panjat tembok aja,” kata Bilqis, suaranya penuh semangat tapi matanya menyala nakal. “Jangan!” potong Nadifa cepat. “...Nanti jatuh! Ustadz Karim marah, lho. Kemarin aja kamu hampir nyungsep ke got waktu ambil sandal.” Riskiyah tertawa cekikikan. “Hehehe... iya, Bilqis mah berani tapi ceroboh.” Namun Bilqis tak mau kalah. Ia sudah menarik sarungnya, menggulung ke lutut...

MENDONGENG DI BAWAH CAHAYA REMBULAN

Cerpen Cahaya Dhuha #08  MENDONGENG DI BAWAH CAHAYA REMBULAN  @hmad Rasyid  Malam itu angin berembus pelan di serambi rumah Kek Acit. Lampu teplok di sudut ruangan bergetar ditiup angin laut yang datang dari arah utara. Di sampingnya, dua cucu kesayangannya — Daffa dan Nadifa — duduk bersila sambil menatap kakeknya dengan mata penuh harap. “Ceritain dongeng lagi, Kek,” pinta Nadifa dengan nada manja. Kek Acit tersenyum. “Hehehe… kalian ini belum bosan mendengar dongeng Kakek, ya?” “Enggak, Kek! Cerita Kakek tuh selalu ada hikmahnya,” sambung Daffa, matanya berbinar. Kek Acit menatap langit malam. Bulan separuh tergantung, dikelilingi bintang-bintang kecil. “Baiklah,..." katanya pelan, “...malam ini Kakek akan bercerita tentang dua saudara yang mendapatkan pesan terakhir dari ayahnya sebelum sang ayah meninggal dunia.” Daffa dan Nadifa saling berpandangan. Suasana hening sejenak. Hanya suara jangkrik yang terdengar di luar. “Dulu,...” Kek Acit memulai dengan nada lembut, “...

MENERIMA KETIDAKSEMPURNAAN

Cerpen Cahaya Dhuha #07 MENERIMA KETIDAKSEMPURNAAN @hmad Rasyid  Pagi itu, cahaya dhuha menembus kisi-kisi jendela musholla Al-Hikmah. Lembut dan hangat, seolah membelai hati siapa saja yang datang dengan niat tulus. Karpet hijau telah disapu, rak Al-Qur’an rapi berjajar, dan aroma sabun lantai masih terasa. Di saf depan, Ustadz Karim duduk bersila dengan kitab kecil di tangannya. Sorot matanya teduh, namun tajam seperti selalu siap menembus kegelisahan siapa pun yang duduk di hadapannya. “Anak-anak, sebelum kita mulai halaqah dhuha, Ustadz ingin kalian berbagi tentang hal yang membuat kalian gelisah akhir-akhir ini,...” katanya dengan suara lembut. “...Kadang, cahaya dhuha paling terasa ketika hati kita sedang gelap.” Daffa, anak laki-laki berusia enam belas tahun, menunduk. Tangannya menggenggam tasbih kecil, tapi butirannya tak bergerak. Nadifa, adiknya yang duduk di sebelah, melirik dengan khawatir. Sementara Bilqis, sahabat mereka berdua, hanya diam menatap sajadah biru di dep...

JALAN PULANG' NASIHAT USTAD KARIM

Cerpen Cahaya Dhuha #06 'JALAN PULANG' NASIHAT USTAD KARIM  @hmad Rasyid  Sore itu, langit pesantren kecil di musholla Al Hikmah mulai berwarna jingga keemasan. Suara burung pipit berkejaran di atas menara mushalla. Dari dalam serambi, terdengar suara lembut Ustad Karim melantunkan ayat Al-Qur’an, diikuti beberapa santri yang duduk melingkar di hadapannya. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُم  Suaranya tenang, dalam, seakan menembus dada siapapun yang mendengar. Setelah ayat itu selesai, beliau menatap wajah-wajah muda di hadapannya: Daffa, Nadifa, Arifin, Ahmadi, dan Riskiyah. “Anak-anakku,...” katanya perlahan, “... kita semakin bertambah usia, mestinya semakin dekat hati kita kepada Allah. Tapi, kadang justru yang terjadi sebaliknya.” Daffa, yang duduk paling depan, menunduk. Ia masih berusia 8 tahun, tapi akhir-akhir ini hatinya sering gelisah. Bukan karena pelajaran, tapi karena dunia luar mulai m...

KETIKA API BERTEMU AIR

Cerpen Cahaya Dhuha #05  KETIKA API BERTEMU AIR  @hmad Rasyid  Sore itu, langit seperti menahan napas. Awan berarak pelan di atas atap rumah sederhana milik keluarga Bahul dan Anisa. Dari arah musholla kampung, musholla Al Hikmah suara anak-anak mengaji mulai bergema. Di ruang tamu yang hangat, terdengar tawa kecil Nadhifa yang sedang bermain boneka bersama kakaknya, Daffa—si bocah TK yang baru belajar membaca huruf hijaiyah. “Kaaf… laam… miim…” ucap Daffa terbata-bata. “Pintar, Kakak gaes!” seru Nadhifa, adiknya sambil bertepuk tangan kecil. Bunda Anisa yang sedang menyapu lantai menatap mereka dengan senyum penuh kasih. Di pojok rumah, aroma teh panas tercium lembut. Tapi suasana damai itu perlahan berubah ketika suara motor berhenti di depan rumah. “Assalamu’alaikum…” suara berat Ayah Bahul terdengar, sedikit serak. “Wa’alaikumussalam…” jawab Anisa cepat, namun nada suaranya terdengar canggung. Ayah Bahul masuk, wajahnya lelah. Baju kerjanya masih berdebu. Ia menaruh t...

CAHAYA DI MUSHOLLA AL-HIKMAH, SETELAH MAGHRIB

Cerpen Cahaya Dhuha #04  CAHAYA  DI MUSHOLLA AL-HIKMAH, SETELAH MAGHRIB  @hmad Rasyid  Langit sore itu berangsur gelap. Cahaya jingga yang tersisa di ufuk barat mulai meredup, digantikan oleh cahaya lembut lampu-lampu musholla Al-Hikmah. Suara jangkrik bersahut di kejauhan, berselingan dengan lantunan ayat suci dari anak-anak yang sedang mengaji. Ustadz Karim duduk di barisan saf depan, bersandar lembut pada tiang musholla yang catnya mulai mengelupas. Wajahnya teduh, jenggot putihnya berkilau terkena sinar lampu. Di hadapannya, tiga anak muda duduk rapi: Daffa, Nadhifa, dan Arifin. Mereka baru saja selesai shalat berjamaah Maghrib. “Ustadz,” Daffa membuka percakapan sambil melipat sarungnya. “Tadi di berita ada orang ditangkap karena korupsi... jumlahnya triliunan, ustadz. Padahal katanya, hidupnya udah mapan. Rumahnya banyak, mobilnya banyak, bisnisnya besar. Kenapa ya, ustadz, orang yang sudah kaya masih saja nekat begitu?” Nadhifa, adik Daffa, menatap kakaknya de...

HATI YANG SENANTIASA BERUBAH

Cerpen Cahaya Dhuha #03  HATI YANG SENANTIASA BERUBAH @hmad Rasyid Langit sore itu lembut. Warna oranye memantul di kaca jendela musalla kecil di pinggir desa Ambunten. Azan ashar baru saja usai, menyisakan gema lirih yang bergaung di udara. Di dalam musalla, Ustadz Karim, guru ngaji yang dikenal sabar namun tegas, duduk bersila menghadap mushaf, bibirnya bergetar membaca ayat terakhir surat Al-Furqan. Di seberangnya, dua murid kesayangannya—Daffa dan adiknya Nadifa masih mengeja huruf hijaiyah dengan suara pelan. Sementara itu, di halaman depan, terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan cepat dan kasar. Itu Kasmito, si pemuda yang dulu pernah belajar di musalla yang sama, namun kini jarang terlihat, kecuali jika ada urusan yang tidak baik. ***** Kasmito berteriak dari luar, "Karim! Aku tahu kau di dalam! Keluar!" Suara keras itu membuat burung-burung beterbangan dari pohon di samping musalla. Daffa menoleh ke arah pintu, wajahnya tegang. Nadifa menggenggam tangan kakakn...