CAHAYA DI MUSHOLLA AL-HIKMAH, SETELAH MAGHRIB

Cerpen Cahaya Dhuha #04 

CAHAYA  DI MUSHOLLA AL-HIKMAH, SETELAH MAGHRIB 
@hmad Rasyid 

Langit sore itu berangsur gelap. Cahaya jingga yang tersisa di ufuk barat mulai meredup, digantikan oleh cahaya lembut lampu-lampu musholla Al-Hikmah. Suara jangkrik bersahut di kejauhan, berselingan dengan lantunan ayat suci dari anak-anak yang sedang mengaji.

Ustadz Karim duduk di barisan saf depan, bersandar lembut pada tiang musholla yang catnya mulai mengelupas. Wajahnya teduh, jenggot putihnya berkilau terkena sinar lampu. Di hadapannya, tiga anak muda duduk rapi: Daffa, Nadhifa, dan Arifin.

Mereka baru saja selesai shalat berjamaah Maghrib.

“Ustadz,” Daffa membuka percakapan sambil melipat sarungnya. “Tadi di berita ada orang ditangkap karena korupsi... jumlahnya triliunan, ustadz. Padahal katanya, hidupnya udah mapan. Rumahnya banyak, mobilnya banyak, bisnisnya besar. Kenapa ya, ustadz, orang yang sudah kaya masih saja nekat begitu?”

Nadhifa, adik Daffa, menatap kakaknya dengan heran. “Iya, Kak Daffa benar, ustadz. Aku juga sering dengar berita begitu. Orang-orang yang kelihatannya sudah cukup malah serakah.”

Ustadz Karim tersenyum kecil. Ia menatap anak-anak itu dengan mata lembut namun dalam. “Itulah, nak... tabiat manusia. Kadang manusia sudah sampai pada titik nyaman kehidupannya. Gajinya besar, rumah ada, kendaraan ada, usaha jalan. Tapi hatinya... masih belum tenang.”

Arifin yang dari tadi diam akhirnya ikut bersuara. “Jadi... bukan soal banyak atau sedikit, ustadz?”

“Bukan, Arifin,” jawab Ustadz Karim pelan tapi tegas. “Masalahnya bukan di jumlah harta, tapi di rasa cukup. Kalau hati tak pernah merasa cukup, diberi sejuta pun masih merasa kurang.”

Ia menatap ke arah mihrab, lalu melanjutkan dengan suara lirih yang menenangkan.
“Allah Ta’ala sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an... ‘Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.’ (QS. Saba’: 13).”

Daffa menunduk. “Berarti... sedikit sekali orang yang benar-benar bersyukur ya, ustadz?”

Ustadz Karim mengangguk. “Iya, Daffa. Padahal kalau mau bersyukur, hidup itu tenang. Kalau mau qona’ah—merasa cukup, maka rezeki yang sedikit pun terasa luas.”

Hening sejenak. Angin malam berhembus dari jendela musholla yang terbuka, menggoyang sajadah di sisi kiri.

Nadhifa memecah keheningan. “Ustadz, tapi kenapa manusia bisa tamak begitu? Padahal sudah bahagia, sudah punya segalanya.”

Ustadz Karim tersenyum lagi. “Nak, ketamakan itu ibarat api kecil di dada. Kalau tidak dipadamkan dengan iman dan rasa syukur, api itu akan membesar, membakar hati pelakunya sendiri.”

Ia menarik napas perlahan, lalu menatap ketiganya satu per satu. “Manusia sering lupa bahwa kebahagiaan bukan di jumlah harta, tapi di rasa syukur. Nabi ﷺ bersabda, ‘Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.’”

Arifin mengangguk pelan. “Berarti... orang yang kaya tapi tidak bersyukur, sebenarnya miskin ya, ustadz?”

“Benar sekali, Arifin,” ujar Ustadz Karim sambil menepuk bahunya. “Dan sebaliknya, orang yang hidup sederhana tapi hatinya penuh syukur—itulah orang yang paling kaya.”

Daffa termenung. “Kadang aku iri, ustadz. Lihat teman-teman yang hidupnya serba mudah, gadget baru, liburan terus. Padahal aku tahu, aku juga nggak kekurangan. Tapi rasa iri itu kadang muncul sendiri...”

Ustadz Karim menatap Daffa lembut. “Itulah ujian hati, Daffa. Setan bekerja lembut di situ membisikkan bahwa apa yang kamu punya belum cukup. Maka setiap kali rasa iri itu datang, lawan dengan doa dan dzikir. Ucapkan dalam hati: Alhamdulillah ‘ala kulli hal.”

Nadhifa menyahut cepat, “Alhamdulillah ‘ala kulli hal... artinya apa, ustadz?”

“Artinya, segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan,” jawab Ustadz Karim. “Kalau kita terbiasa mengucapkannya, hati jadi tenang. Kita tidak mudah silau oleh dunia.”

Tiba-tiba, Arifin tersenyum miring. “Ustadz, tapi kalau orang yang korupsi itu tahu ayat dan hadits, tahu dosa besar, kenapa masih berani juga?”

Pertanyaan itu membuat Daffa dan Nadhifa ikut menatap Ustadz Karim dengan penasaran.

Ustadz Karim menunduk sejenak. “Karena tahu belum tentu sadar, Arifin. Banyak orang tahu mana yang halal dan haram, tapi tidak semua yang tahu itu takut kepada Allah.”

Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang dalam.
“Dulu, para sahabat Rasul kalau dapat satu dinar saja, mereka menangis karena takut tidak amanah. Sekarang... banyak orang justru menumpuk harta tanpa peduli dari mana asalnya. Itulah tanda lemahnya iman.”

Daffa menggigit bibir. “Berarti orang itu bukan hanya tamak, tapi juga jauh dari Allah?”

“Benar,” jawab Ustadz Karim. “Kalau hatinya dekat dengan Allah, pasti malu. Karena harta haram itu tidak akan pernah membawa berkah. Bisa jadi banyak, tapi membuat gelisah, sakit, atau keluarganya hancur. Itulah balasan dunia sebelum akhirat.”

Suasana musholla terasa hening lagi. Lampu neon menggantung redup, sementara suara anak-anak kecil dari luar terdengar mengaji: ‘Inna a’thainaka al-kautsar...’

Nadhifa menatap Ustadz Karim dengan mata berbinar. “Ustadz, kalau kita mau jadi orang yang bersyukur dan qona’ah, harus mulai dari mana?”

Pertanyaan itu membuat Ustadz Karim tersenyum lebar. “Pertanyaan bagus, Nadhifa. Bersyukur itu dimulai dari hati, lidah, dan perbuatan. Dari hati—kita ridha pada apa yang Allah beri. Dari lidah—kita sering mengucap Alhamdulillah. Dan dari perbuatan—kita gunakan nikmat itu untuk kebaikan.”

Arifin menimpali, “Berarti kalau aku dikasih rezeki, misalnya uang jajan lebih, lalu aku sedekahkan sebagian, itu bentuk syukur juga ya, ustadz?”

“Betul sekali, Arifin. Syukur yang sejati adalah ketika nikmat membuatmu semakin dekat kepada Allah, bukan semakin lalai.”

Daffa tersenyum, matanya berbinar. “Ustadz, boleh saya simpulkan? Kalau begitu... orang yang bersyukur itu hidupnya tenang. Tapi orang yang tamak — meskipun kaya — hatinya tetap miskin.”

Ustadz Karim mengangguk mantap. “Engkau benar, Daffa. Dan ketenangan hati itu lebih mahal daripada sejuta emas.”

Beliau lalu meraih mushaf kecil di sampingnya, membuka halaman yang telah ditandai. “Allah berfirman dalam surat Saba’ ayat 13,” ujarnya lirih, "Wa qalīlun min ‘ibādiya sy-syakūr’—‘Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.’”

Semua terdiam. Hanya suara daun mangga di halaman musholla yang bergesekan ditiup angin malam.

Lalu, Ustadz Karim memejamkan mata sejenak, berdoa dengan penuh haru, “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami hati yang bersyukur.
Cukupkan kami dengan yang halal, jauhkan kami dari yang haram,
Dan cukupkan kami dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu. Jadikan kami orang yang tenang dalam qona’ah,
Dan kuat dalam iman menghadapi dunia yang menipu ini.”

Daffa, Nadhifa, dan Arifin menunduk, menirukan doa itu dengan suara pelan.
Suasana musholla terasa sangat damai.

Beberapa jamaah lain yang baru datang untuk Isya memperhatikan mereka dari jauh, tersenyum haru.

Setelah doa selesai, Ustadz Karim menatap mereka bertiga dengan penuh kasih. “Anak-anakku,...” katanya lembut, “...ingatlah! Dunia ini akan berlalu. Harta, jabatan, semua hanya titipan. Yang kekal hanyalah amal dan rasa syukur.”

Arifin mengangguk dalam-dalam. “InsyaAllah, ustadz. Mulai malam ini, saya ingin belajar qona’ah.”

Daffa tersenyum pada adiknya. “Ayo, Nadhifa, kita juga belajar bersyukur, ya.”

Nadhifa menjawab dengan semangat, “Iya, Kak! Mulai dari hal kecil. Dari ucapan Alhamdulillah!”

Ustadz Karim tertawa kecil. “Nah, begitu. Karena orang yang terbiasa bersyukur, hidupnya akan ringan. Dunia ini terasa indah walau sederhana.”

Azan Isya pun berkumandang dari menara musholla.
Suara muadzin menggema lembut, memecah keheningan malam.

Ustadz Karim berdiri, menepuk bahu mereka satu per satu. “Yuk, kita sempurnakan malam ini dengan shalat. Karena di dalam sujud, syukur itu menemukan bentuknya.”

Dan mereka pun berdiri bersama.
Menata saf, merapikan niat, menyatukan hati di bawah cahaya iman.

Malam di Musholla Al-Hikmah menjadi saksi
bahwa kebahagiaan sejati bukan di banyaknya dunia,
melainkan di tenangnya hati yang tahu bersyukur. 

AmbuEnten, 21 Oktober 2025
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI