MAIN BOLA DI BAWAH CAHAYA REMBULAN

Cerpen Cahaya Dhuha #09

MAIN BOLA DI BAWAH CAHAYA REMBULAN 
@hmad Rasyid 

Malam itu, bulan purnama menggantung tinggi di atas atap Musholla Al Hikmah. Cahayanya menembus genting kaca, jatuh lembut ke lantai marmer yang dingin, menciptakan kilau putih keperakan. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari arah kebun pisang, sementara dari halaman musholla terdengar tawa riang para santri kecil yang bermain sambil menunggu Ustadz Karim datang untuk mengisi renungan malam.

“Eh, Daffa! Bola-nya ke atap!” seru Ahmadi sambil menunjuk ke atas.

Daffa mendongak. “Aduh, gimana nih, Ahmadi? Itu bola satu-satunya!”

“Udah, biar aku panjat tembok aja,” kata Bilqis, suaranya penuh semangat tapi matanya menyala nakal.

“Jangan!” potong Nadifa cepat. “...Nanti jatuh! Ustadz Karim marah, lho. Kemarin aja kamu hampir nyungsep ke got waktu ambil sandal.”

Riskiyah tertawa cekikikan. “Hehehe... iya, Bilqis mah berani tapi ceroboh.”

Namun Bilqis tak mau kalah. Ia sudah menarik sarungnya, menggulung ke lutut, lalu menapaki tembok kecil samping musholla. Semua santri menahan napas. Bulan purnama di atas sana seolah ikut menyorot keberaniannya. Tapi baru dua langkah, kaki Bilqis terpeleset, membuat batu bata di pinggir tembok terlepas dan jatuh.

“Waaah!” Bilqis terjatuh ke belakang, untung Daffa cepat menangkapnya.

“Bilqis!” seru Nadifa panik.

Mereka semua membeku. Bilqis meringis, lututnya lecet.

Suasana riuh tawa tadi mendadak berubah sunyi. Angin malam berembus membawa aroma tanah dan kecemasan.

Tak lama kemudian, suara langkah lembut terdengar dari arah dalam musholla. Ustadz Karim keluar sambil membawa Al-Qur’an kecil di tangan. Jubah putihnya berkilau terkena cahaya bulan. Wajahnya teduh, tapi sorot matanya tajam — penuh kasih, namun penuh makna.

“Kenapa ini? Ada yang jatuh?” tanyanya pelan.

Tak ada yang menjawab.

Ahmadi menunduk. Nadifa menggigit bibir. Daffa menatap lantai. Sementara Bilqis, yang duduk sambil memegang lutut, mencoba tersenyum. “Nggak apa-apa, Ustadz... cuma lecet dikit.”

Ustadz Karim menatap sekeliling. “Kalian sedang bermain bola di halaman musholla, ya?”

Riskiyah pelan menjawab, “Iya, Ustadz. Tapi bolanya nyangkut di atap.”

Ustadz Karim mengangguk pelan. “Dan kalian pikir, memanjat tembok malam-malam untuk mengambilnya adalah solusi terbaik?”

Semua diam.

“Kadang, anak-anak...” lanjut Ustadz Karim dengan suara lembut, “...kita terburu-buru ingin menyelesaikan sesuatu tanpa berpikir. Sama seperti orang dewasa yang terburu-buru ingin sukses tanpa sabar. Hasilnya, bukan tujuan yang tercapai, malah luka yang didapat.”

Daffa menatap Ustadznya dengan mata lebar. “Jadi... salah ya, Ustadz?”

“Tidak selalu salah,...” jawabnya sambil tersenyum. “...Yang salah adalah kalau kita tidak belajar dari rasa sakitnya. Bilqis tadi terluka, tapi yang lebih penting, apakah kalian belajar sesuatu dari itu?”

Bilqis menunduk. “Saya belajar... kalau nekat itu nggak selalu keren, Ustadz.”

Semua tertawa kecil, tapi suasananya mulai hangat lagi.

Ustadz Karim duduk di lantai marmer, lalu mengisyaratkan para santri untuk mendekat. Mereka membentuk lingkaran. Di tengah mereka, cahaya bulan masuk lewat jendela, membentuk lingkar putih di lantai, seperti panggung kecil untuk renungan malam.

“Anak-anak,...” katanya lembut, “...malam ini bulan purnama. Cahayanya indah, tapi bukan karena bulan punya cahaya sendiri. Bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap mereka satu-satu. “Begitu juga hati kita. Hati manusia takkan pernah benar-benar terang kalau tidak memantulkan cahaya iman dari Allah.”

Daffa bertanya polos, “Tapi, Ustadz... kenapa kadang hati kita malah gelap? Padahal kita salat, ngaji juga...”

Pertanyaan itu membuat Nadifa dan Bilqis ikut menatap penasaran.

Ustadz Karim tersenyum. “Karena terkadang, kita terlalu sibuk dengan cahaya diri sendiri. Kita ingin terlihat pintar, ingin dipuji, ingin cepat berhasil — padahal lupa siapa sumber cahaya yang sebenarnya. Dari situlah muncul rasa takut dan cemas.”

“Cemas?” ulang Ahmadi.

“Iya,” jawab Ustadz Karim. “Rasa takut gagal, takut miskin, takut masa depan tak seindah rencana. Kita sibuk menghitung kemungkinan buruk, hingga lupa menghitung betapa banyak nikmat yang sudah Allah beri.”

Riskiyah menatap bulan di atas sana. “Kayak waktu aku takut nggak bisa ranking satu lagi, Ustadz...”

“Benar,...” kata Ustadz Karim lembut. “...³Itulah kecemasan. Ia bukan tanda kamu lemah, tapi tanda kamu terlalu bergantung pada dirimu sendiri, bukan pada Allah.”

Hening sejenak. Angin malam menembus celah jendela, membuat tirai putih bergerak pelan seperti ombak.

“Allah sudah berfirman,” lanjut Ustadz Karim, suaranya bergetar indah,
‘Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.’ (QS. Ath-Thalaq: 3).

“Cukup,...” ulangnya pelan. “...Satu kata yang menenangkan. Bila Allah yang mencukupkan, maka kekurangan pun terasa cukup, dan kegagalan pun bisa jadi jalan menuju keberkahan.”

Bilqis mengusap lututnya yang lecet, tersenyum kecil. “Jadi... luka pun bisa jadi pelajaran ya, Ustadz?”

Ustadz Karim tersenyum. “Iya, Nak. Karena Allah ingin kita lebih dekat, bukan lebih takut.”

Daffa menunduk. “Saya jadi ingat, Ustadz... waktu Ayah marah karena saya gagal lomba hafalan, saya takut banget. Tapi malam ini saya jadi ngerti. Mungkin saya cuma perlu bilang dalam hati, ‘Cukuplah Allah bagiku.’”

Ustadz Karim menatapnya penuh bangga. “Itu kalimat yang sangat indah, Daffa. Jika semua orang bisa berkata begitu dengan yakin, dunia ini akan lebih damai.”

Mereka semua terdiam. Hanya suara jangkrik dan desir daun pisang yang terdengar. Bulan purnama di atas musholla semakin terang, memantulkan cahaya ke wajah-wajah kecil yang mulai tenang.

Setelah beberapa saat, Ustadz Karim menutup renungan dengan doa: “Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal, tenangkanlah hati kami dengan takdir-Mu, dan jauhkan kami dari rasa takut yang tidak perlu.”

Para santri mengamini dalam haru.

Ketika doa usai, mereka masih duduk memandangi bulan. Tidak ada lagi yang membicarakan bola yang nyangkut di atap. Tak ada pula yang mengeluh. Malam yang semula riuh kini berubah menjadi tenang — bukan karena mereka lelah, tapi karena hati mereka telah belajar sesuatu: bahwa ketenangan tidak datang dari mainan, bukan dari keberanian, tapi dari keyakinan.

Ustadz Karim berdiri, menepuk bahu Daffa. “Ayo, besok pagi kita ambil bola itu sama-sama, tapi pakai tangga. Dengan cara yang benar.”

Semua tertawa.

“Ustadz...” panggil Nadifa pelan. “Kalau nanti saya takut masa depan saya nggak bagus, boleh ya saya bilang lagi, ‘Cukuplah Allah bagiku’?”

Ustadz Karim mengangguk, menatap bulan yang bundar sempurna.
“Boleh, Nadifa. Ucapkan setiap kali hatimu cemas. Karena saat Allah jadi sandaran, tak ada kegagalan yang menakutkan, dan tak ada kemiskinan yang membuat kecil hati.”

Malam semakin larut. Satu per satu santri mulai masuk ke musholla, bersiap tidur. Di luar, bola yang nyangkut di atap tetap di sana, tapi kini tak lagi penting. Yang penting adalah cahaya bulan — dan cahaya hati yang baru saja mereka temukan.

#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 28 Oktober 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI