HATI YANG SENANTIASA BERUBAH

Cerpen Cahaya Dhuha #03 

HATI YANG SENANTIASA BERUBAH
@hmad Rasyid


Langit sore itu lembut. Warna oranye memantul di kaca jendela musalla kecil di pinggir desa Ambunten. Azan ashar baru saja usai, menyisakan gema lirih yang bergaung di udara. Di dalam musalla, Ustadz Karim, guru ngaji yang dikenal sabar namun tegas, duduk bersila menghadap mushaf, bibirnya bergetar membaca ayat terakhir surat Al-Furqan.

Di seberangnya, dua murid kesayangannya—Daffa dan adiknya Nadifa masih mengeja huruf hijaiyah dengan suara pelan. Sementara itu, di halaman depan, terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan cepat dan kasar.

Itu Kasmito, si pemuda yang dulu pernah belajar di musalla yang sama, namun kini jarang terlihat, kecuali jika ada urusan yang tidak baik.

*****

Kasmito berteriak dari luar,
"Karim! Aku tahu kau di dalam! Keluar!"

Suara keras itu membuat burung-burung beterbangan dari pohon di samping musalla. Daffa menoleh ke arah pintu, wajahnya tegang. Nadifa menggenggam tangan kakaknya erat-erat.

Nadifa: “Kak… Kasmito datang lagi, ya? Aku takut…”

Daffa: “Tenang, Nadifa. Ada Kiai Karim. Beliau gak akan biarkan kita kenapa-napa.”

Ustadz Karim menutup mushaf perlahan, lalu menatap murid-muridnya dengan lembut.

Ustdz Karim: “Jangan takut. Hati yang dipenuhi doa takkan gentar menghadapi amarah orang yang gelap hatinya. Duduklah kalian di pojok, jangan keluar sebelum aku panggil.”

Ia berdiri, melangkah keluar dengan langkah mantap.

Di depan musalla, Kasmito berdiri dengan wajah muram, matanya merah. Di tangannya ada surat pemberitahuan tentang pembongkaran tanah musalla, tanah wakaf peninggalan ayah Ustadz Karim.

Kasmito: “Kau dengar kabar itu, Karim? Tanah ini akan diganti jadi lahan pasar! Aku cuma datang ngasih tahu. Kau mending segera pindahkan semua kitabmu sebelum alat berat datang besok pagi.”

Ustadz Karim dengan sikap tenang menjawabnya,“Kau tahu, Mito, tanah ini diwakafkan. Ada sertifikatnya. Tidak bisa seenakmu dirampas.”

Kasmito: “Wakaf? Haha! Itu dulu, sebelum ayahmu meninggal. Sekarang aku punya surat kepemilikan baru. Aku beli dari kepala desa!”

Ustadz Karim: “Surat palsu tidak akan membuatmu bahagia, Mito. Hatimu sedang buta. Kau jual hatimu dengan harga tanah suci.”

Kasmito mendengus. “Cukup! Jangan sok suci kau, Karim! Kau pikir kau lebih dekat dengan Tuhan karena rajin sholat Dhuha? Kau pikir hatimu lebih bersih? Aku juga dulu ngaji di sini! Tapi, lihat Tuhan tak pernah menolongku saat aku miskin!”

Suaranya pecah di akhir kalimat. Ada amarah, tapi juga luka yang dalam.

*****

Aliran, santri muda yang baru datang membawa air wudhu, berhenti di tangga musalla. Ia menatap keduanya bergantian, bingung harus ikut siapa.

Aliran: “Kiai, biar saya yang urus Kasmito. Dia mungkin cuma emosi…”

Ustadz Karim sambil mengangkat tangan berkata, “Tidak, Aliran. Biarkan aku bicara dengan hatinya.”

Ustadz Karim: “Mito, aku tahu kau kecewa. Tapi jangan salahkan Tuhan atas nasibmu. Hatimu berubah bukan karena Allah tak adil, tapi karena kau menjauh dari-Nya.”

Kasmito: “Jangan bicara tentang hati! Kau tak tahu rasanya hidup lapar! Aku dulu juga berdoa. Tapi makin aku sujud, makin aku jatuh. Sampai kapan?!”

Ustadz Karim menatapnya dalam. “Hati manusia memang mudah berubah, Mito. Bahkan Rasulullah saja berdoa agar hatinya diteguhkan.”

Lalu dengan suara lembut, ia melantunkan doa, “Ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ‘ala diinik.”

Kasmito terdiam. Suara doa itu seperti angin sejuk yang menembus panasnya sore. Tapi hanya sekejap, ia kembali berteriak.

Kasmito: “Cukup! Aku tak percaya lagi pada doa! Aku percaya pada uang dan kekuasaan!”

Ia berbalik, berjalan cepat ke arah jalan desa. Namun di ujung gang, Daffa tiba-tiba berlari mengejarnya.

Daffa: “Om Kasmito! Tunggu!”

Kasmito berhenti, menatap bocah itu dengan mata yang masih penuh api.

Kasmito: “Apa lagi, bocah?”

Daffa: “Kata Kiai, hati manusia bisa berubah. Tapi aku yakin Om masih punya hati baik.”

Kasmito: “Bocah, jangan sok tahu urusan orang dewasa!”

Daffa: “Aku gak sok tahu. Tapi waktu aku sedih karena dulu masalah yang pernah menimpa keluargaku, Kiai bilang: ‘Kalau hatimu sakit, bacalah Qur’an. Karena Qur’an itu obat.’ Mungkin Om cuma sakit hati… belum sembuh aja.”

Ucapan polos itu membuat Kasmito tertegun. Ada kilatan kecil di matanya. Tapi sebelum ia sempat menjawab, kerumunan warga berdatangan. Rupanya berita soal rencana pembongkaran musalla sudah menyebar.

Aliman: “Benarkah, Kasmito, kau jual tanah wakaf ini?!”

Solihin: “Kau gila? Ini tempat anak-anak belajar Qur’an tiap sore!”

Keramaian mulai memanas. Beberapa warga mengelilingi Kasmito, suara-suara protes bersahutan.

Aliran berdiri di tengah mereka, mencoba menenangkan. “Saudara-saudara! Jangan marah dulu! Mari kita dengar penjelasan Kasmito baik-baik!”

Tapi suara massa makin keras. Nadifa yang melihat dari jendela menitikkan air mata.

Nadifa, “Kak, kenapa orang-orang marah? Aku takut musalla kita dirobohkan…”

Daffa menguatkan, “Jangan takut, Nadifa. Cahaya Dhuha gak akan padam. Allah pasti jaga tempat ini.”

Ustadz Karim melangkah maju ke tengah kerumunan. Suaranya tenang tapi berwibawa. “Saudara-saudaraku, jangan biarkan hati kita terbakar oleh marah. Bukankah Rasulullah bersabda, orang kuat bukanlah yang menang berkelahi, tapi yang mampu menahan amarah?”

Suasana perlahan hening.

Lalu Ustadz Karim menoleh pada Kasmito. “Mito, aku tidak akan melawanmu dengan kekerasan. Tapi aku mengundangmu, datanglah esok pagi, saat Dhuha. Mari kita buka mushaf bersama. Aku ingin kau rasakan lagi cahaya yang dulu pernah menyinari hatimu.”

Kasmito menunduk. Bibirnya bergetar. Ia tak menjawab, hanya pergi meninggalkan kerumunan dengan langkah gontai.

*****

Keesokan harinya.
Mentari Dhuha menembus dedaunan. Di serambi musalla, Ustadz Karim duduk bersila. Di depannya, mushaf terbuka. Daffa dan Nadifa sudah siap mengaji. Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat.

Kasmito datang. Dengan pakaian lusuh dan wajah letih, ia menunduk.

Kasmito, “Bolehkah aku duduk, Karim?”

Ustadz Karim, “Tentu. Hati yang kembali mengetuk tak akan ditolak.”

Kasmito duduk. Sunyi. Hanya suara burung dan desir angin.

Ustadz Karim menyerahkan mushaf kecil, “Bacalah ayat ini, Mito.”

Kasmito membuka lembar itu, matanya membaca dengan suara lirih, “Demikianlah, supaya Kami dapat menguatkan dengannya (Al-Qur’an) akan hatimu.” (QS. Al-Furqan: 32)

Suaranya bergetar. Lalu tangisnya pecah.

Kasmito bergumam di hatinya, “Ya Allah… aku jauh… terlalu jauh…”

Ustadz Karim menatapnya penuh kasih. “Hati itu memang berubah-ubah, Mito. Tapi selama masih bisa menangis karena Allah, berarti hatimu belum mati.”

Daffa dan Nadifa tersenyum. Aliran berdiri di depan pintu, menyaksikan pemandangan itu dalam haru.

Pagi itu, cahaya Dhuha turun lembut di halaman musalla. Seolah menyapa hati-hati yang telah berjuang melawan gelapnya diri.

Ustadz Karim menutup mushaf dan berbisik,
“Wahai hati, tetaplah lembut dalam cahaya Al-Qur’an. Karena di sanalah Allah meneguhkan kita.”

Dan sejak hari itu, musalla kecil itu tak pernah sepi.
Kasmito kini duduk di saf depan, bersama anak-anak yang dulu ia marahi.
Cahaya Dhuha kembali memantul di wajahnya—tenang, damai, dan penuh syukur.

“Allahumma iftahlana yamuqollibal qulub, tsabbit qolbi ‘ala diinik.” Ya Gusti Allah, bukakanlah (hati) kami wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

AmbuEnten, 19 Oktober 2025
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda





Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI