HARAPAN KAKEK ACIT

Cerpen Cahaya Dhuha #10

HARAPAN KAKEK ACIT
@hmad Rasyid 

Suasana sore itu terasa lembut di teras rumah kayu milik Kakek Acit. Angin berhembus perlahan membawa wangi bunga melati yang tumbuh di sudut halaman. Di kursi rotan yang sudah mengilap dimakan usia, Kakek Acit duduk dengan sarung kotak dan kopiah hitam dari anyaman kesayangannya. Di pangkuannya, ada buku catatan tua berwarna coklat yang tepi halamannya mulai keriting.

Dua cucunya, Daffa dan Nadifa, duduk bersila di depannya sambil mengupas mangga muda. Senyum mereka merekah, seperti matahari sore yang mengintip di balik dedaunan.

“Cucu-cucuku sayang,...” ujar Kakek Acit sambil menatap lembut, “...hari ini kakek ingin bercerita sesuatu yang dulu sangat kakek sukai. Waktu muda dulu, kakek paling senang kalau ada orang berpidato. Suaranya lantang, katanya berisi, dan penuh semangat menyambut tamu di acara pernikahan atau kegiatan kampung. Kakek dulu bercita-cita bisa seperti itu.”

Daffa mengangguk sambil mengunyah mangga pelan. “Kakek dulu suka pidato ya? Kalau Daffa sukanya main bola, Kek.”

Nadifa menimpali cepat, “Kalau Nadifa suka menggambar bunga, Kek. Kalau pidato, Nadifa grogi, takut salah ngomong.”

Kakek Acit tertawa pelan, suara tawanya renyah dan penuh kasih. “Hehe, dulu pun kakek sering salah ngomong, Nak. Tapi dari sana kakek belajar bahwa berani berbicara di depan orang itu juga bentuk tanggung jawab. Nah, dari suka pidato itulah, Allah menakdirkan kakek jadi guru.”

“Guru?” Daffa memiringkan kepala. “Kakek dulu guru di mana?”

“Di madrasah kampung ini, Nak,...” jawab Kakek Acit dengan mata menerawang jauh. “...Dulu kakek mengajar Bahasa Indonesia. Setiap pagi, kakek berangkat naik sepeda onthel, dengan papan nama sekolah tergantung di gerbang kayu yang catnya sudah pudar. Tapi setiap kali melihat murid-murid tersenyum, lelah itu hilang.”

Nadifa menatap kakeknya dengan kagum. “Wah… jadi guru itu kayak pahlawan ya, Kek?”

Kakek Acit tersenyum, mengangguk pelan. “Betul, cucuku. Tapi bukan hanya karena guru itu mengajar. Menjadi guru berarti siap menjadi cahaya bagi orang lain. Guru sejati itu bukan hanya pandai memberi tahu, tapi juga mampu menumbuhkan harapan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih dalam, seperti ingin menanamkan sesuatu ke dalam hati kecil mereka. “Andaikan kelak kalian ditakdirkan menjadi guru… jadilah guru yang bermental malaikat.”

Daffa dan Nadifa saling pandang, dahi mereka berkerut lucu. “Guru bermental malaikat itu gimana, Kek?” tanya Nadifa polos.

“Apakah guru itu nanti punya sayap?” Daffa menimpali sambil tertawa kecil.

Kakek Acit ikut tertawa, lalu menepuk bahu keduanya. “Bukan begitu, Nak. Guru bermental malaikat itu guru yang senang memberi. Yang bekerja dengan cahaya hati, bukan dengan hitungan untung-rugi. Dia hadir bukan untuk menakut-nakuti muridnya, tapi untuk membuat mereka bahagia belajar. Guru seperti itu akan selalu dirindukan murid-muridnya.”

Sore semakin teduh. Suara azan maghrib dari mushola kecil di ujung jalan mulai terdengar samar. Kakek Acit melanjutkan dengan lirih namun penuh penekanan.

“Kalau ada guru yang datang ke sekolah hanya untuk absen, hanya sibuk dengan gajinya, atau malah main HP saat anak-anak belajar nah, itu yang kakek sebut guru bermental tuyul.”

Daffa tertawa geli, “Hahaha… kayak tuyul beneran, Kek?”

Kakek mengangguk sambil tersenyum bijak. “Iya, tuyul itu suka mengambil tapi tak memberi. Guru bermental tuyul hanya ingin hidup dari sekolah, bukan menghidupkan sekolah. Mereka lupa bahwa tugas utama guru adalah menghidupkan jiwa anak-anak agar tumbuh dengan semangat, bukan sekadar hadir mengisi waktu.”

Nadifa menggigit bibirnya, tampak berpikir. “Berarti kalau Nadifa jadi guru nanti, harus rajin berbagi ilmu ya, Kek?”

“Benar sekali,...” kata Kakek Acit sambil menatapnya bangga. “...Dan bukan hanya ilmu, Nak. Tapi juga berbagi keindahan, kasih sayang, dan perhatian. Guru itu harus bisa melihat setiap anak sebagai benih yang berbeda. Ada yang cepat tumbuh seperti padi di sawah, ada juga yang butuh waktu lama seperti pohon mangga di halaman ini.”

Ia menunjuk pohon mangga besar di depan rumah yang sedang berbuah lebat. “Kalau dirawat dengan sabar dan kasih, lihatlah… akhirnya akan berbuah manis juga.”

Daffa menatap pohon itu dan berkata pelan, “Kalau begitu, guru itu seperti tukang kebun ya, Kek?”

Kakek Acit mengangguk pelan. “Ya, Nak. Tukang kebun yang menanam kebaikan dalam hati manusia kecil. Setiap hari menyirami dengan ilmu, memberi pupuk dengan doa, dan memotong duri dengan nasihat.”

Nadifa menyandarkan kepalanya di lengan kakeknya. “Kek, kalau Daffa nanti jadi guru olahraga dan Nadifa jadi guru menggambar, boleh kan?”

Kakek menatap keduanya penuh haru. “Tentu boleh, cucuku. Kakek tak pernah memaksa cita-cita kalian. Tapi apa pun profesinya, jadilah pribadi bermental malaikat, yang kehadirannya dirindukan, bukan dihindari.”

Ia menarik napas dalam, lalu menatap langit senja yang mulai berwarna jingga. “Kakek dulu sering bilang pada murid-murid: kalau kau ingin jadi guru, jangan mencari hidup di sekolah. Tapi hidupkanlah sekolah itu. Buatlah sekolah menjadi taman yang rindang, tempat semua anak ingin kembali setiap hari.”

Daffa menatap wajah kakeknya yang mulai keriput tapi bercahaya. “Kek, apakah kakek pernah bosan jadi guru?”

“Tidak, Nak,” jawabnya dengan senyum yang dalam. “Karena setiap kali melihat murid-murid tumbuh jadi orang baik, rasanya seperti melihat bunga bermekaran. Dan di situlah letak bahagia sejati seorang guru.”

Mereka terdiam sejenak. Hanya terdengar suara jangkrik yang mulai bernyanyi di balik pagar bambu.

Tiba-tiba, Nadifa berkata pelan, “Kek, kalau nanti kakek sudah tidak ada, apakah kakek masih bisa tahu kalau kami jadi guru yang baik?”

Kakek Acit menatap cucunya dengan mata yang lembut tapi berkaca-kaca. Ia meraih tangan kecil Nadifa dan Daffa, menggenggam erat.
“Cucuku sayang, kalau kalian menjadi guru yang mengajar dengan hati, menebar cahaya dan kebaikan, kakek pasti tahu… meski tanpa suara. Karena cahaya kebaikan itu tak pernah padam, akan terus sampai ke langit, dan Allahlah yang menyampaikan berita itu pada kakek.”

Daffa menunduk. “Kek, Daffa janji, nanti kalau besar Daffa mau jadi guru juga, kayak kakek. Tapi Daffa mau jadi guru yang main sama muridnya, ngajarin dengan cara seru.”

Kakek tersenyum haru. “Bagus, Nak. Jadilah guru yang menyalakan tawa dan semangat anak-anak. Sebab ilmu yang tumbuh dari tawa lebih lama bertahan di hati.”

Nadifa ikut berkata, “Kalau Nadifa nanti jadi guru, Nadifa mau ngajarin anak-anak menggambar langit dan pohon, supaya mereka tahu dunia ini indah.”

Kakek mengusap kepala kedua cucunya lembut. “Itulah yang kakek harapkan. Kalian boleh berbeda cara, tapi satu jiwa: memberi makna bagi hidup orang lain. Itulah tanda guru sejati.”

Malam turun perlahan. Bintang-bintang mulai berpendar di langit, seperti lentera harapan yang diam-diam menyala di hati kedua cucu kecil itu. Dari balik jendela, Bunda Anisa mengintip sambil tersenyum haru, melihat ayahnya memberi nasihat dengan penuh kasih.

Sementara itu, Kakek Acit menatap jauh ke langit, seakan berbicara pada dirinya sendiri, “Ya Allah, jadikanlah cucu-cucuku penerus cahaya ilmu. Jika Engkau takdirkan mereka menjadi guru, jadikanlah mereka guru yang bermental malaikat, yang memberi tanpa pamrih, yang menebar cinta tanpa batas, dan yang hidupnya menjadi manfaat bagi sesama.”

Dan di bawah sinar bulan yang lembut, tiga generasi itu duduk berdampingan—menyulam cita-cita dengan benang kasih dan cahaya iman. 

AmbuEnten, 28 Oktober 2025
#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI