KETIKA API BERTEMU AIR
Cerpen Cahaya Dhuha #05
KETIKA API BERTEMU AIR
@hmad Rasyid
Sore itu, langit seperti menahan napas. Awan berarak pelan di atas atap rumah sederhana milik keluarga Bahul dan Anisa. Dari arah musholla kampung, musholla Al Hikmah suara anak-anak mengaji mulai bergema. Di ruang tamu yang hangat, terdengar tawa kecil Nadhifa yang sedang bermain boneka bersama kakaknya, Daffa—si bocah TK yang baru belajar membaca huruf hijaiyah.
“Kaaf… laam… miim…” ucap Daffa terbata-bata.
“Pintar, Kakak gaes!” seru Nadhifa, adiknya sambil bertepuk tangan kecil.
Bunda Anisa yang sedang menyapu lantai menatap mereka dengan senyum penuh kasih. Di pojok rumah, aroma teh panas tercium lembut. Tapi suasana damai itu perlahan berubah ketika suara motor berhenti di depan rumah.
“Assalamu’alaikum…” suara berat Ayah Bahul terdengar, sedikit serak.
“Wa’alaikumussalam…” jawab Anisa cepat, namun nada suaranya terdengar canggung.
Ayah Bahul masuk, wajahnya lelah. Baju kerjanya masih berdebu. Ia menaruh tas di kursi tanpa bicara banyak, lalu langsung duduk sambil memijat pelipis.
“Mas, sudah maghrib tadi? Kok belum mandi? Anak-anak mau makan bareng, loh,” kata Anisa lembut.
“Capek, Bun. Seharian di lapangan, paket belum kelar, bos nambah target.” Suaranya berat, menahan letih.
Anisa menunduk. Ia sebenarnya ingin menyampaikan bahwa uang belanja minggu ini agak menipis, tapi melihat wajah suaminya, niat itu ia tahan. Namun, tak lama kemudian, keluar juga keluh kesah kecilnya.
“Mas… beras kita tinggal sedikit. Uang jajan Daffa juga belum saya kasih sejak Senin. Saya cuma khawatir…”
“Astaghfirullah, Bun! Baru pulang kerja, jangan langsung ngomong uang! Aku capek, pengen tenang sedikit bisa gak?” potong Bahul, nada suaranya naik.
Anisa diam. Matanya berkaca. Daffa dan Nadhifa menatap dari sudut ruangan, tak mengerti tapi merasa takut.
Suasana hening. Lalu dari dapur, terdengar suara langkah pelan. Itu suara Kek Acit—ayah dari Anisa.
Beliau baru selesai salat maghrib di musholla. “Ada apa ini, heh? Rumah kayak pasar,” katanya sambil duduk di kursi bambu.
“Enggak, Pak… cuma obrolan kecil,” jawab Anisa lirih.
Tapi Kek Acit sudah paham. Ia menatap Bahul dengan tatapan tajam tapi penuh kasih. “Halah, obrolan kecil kok sampai bikin cucu takut begitu?”
Bahul menunduk, malu.
Tak lama, Nyek Ulfa keluar dari kamar sambil membawa sajadah.
“Sudah, sudah. Mari duduk semua. Makan malamnya Anisa sudah masak, sayang kalau keburu dingin.”
Semua duduk. Tapi keheningan masih menyelimuti meja makan. Daffa menggenggam sendok, tidak berani bicara.
Lalu, pelan-pelan Kek Acit memulai percakapan dengan suara lembut tapi tegas. “Bahul, Anisa… Kalian ini sudah berumah tangga beberapa tahun. Pernahkah lupa doa yang dulu kalian baca tiap pagi?”
Ayah dan Bunda saling pandang.
Kek Acit melanjutkan dengan suara lirih tapi berwibawa,
“اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.”
Beliau berhenti sejenak, lalu menatap mereka satu-satu.
“Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima…” Kek Acit diam sejenak lalu ia melanjutkan “...Doa itu bukan cuma buat hafalan, Nak. Tapi buat diamalkan dalam hati. Ilmu yang bermanfaat itu juga berarti: tahu kapan bicara, kapan diam. Tahu kapan harus jadi api, kapan harus jadi air.”
Bahul mengangkat pandangan, suaranya melembut, “Maksud, Bapak…?”
“ini untuk kalian. Kalau suamimu sedang jadi api, Nak, jadilah air. Tapi kalau kamu jadi api, Bahul, jadilah air juga. Dua-duanya jangan nyala bersamaan. Kalau api ketemu api, rumah bisa hangus. Tapi kalau satu air, satu api, insyaAllah jadi hangat.”
Anisa menatap meja, air matanya menetes. “Maaf, Bapak. Saya cuma khawatir, bukan bermaksud menambah beban.”
Bahul menghela napas panjang, lalu menatap istrinya. “Maaf juga, Bun. Aku kebawa emosi. Mestinya lelahnya kerja tidak dijadikan alasan buat keras hati.”
Daffa yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata pelan,
“Berarti Ayah jadi api, Bunda jadi air ya? Tapi jangan kebanyakan air nanti padam dong.”
Semua tertawa kecil. Ketegangan mencair.
Nyek Ulfa menimpali dengan lembut, “Betul, Nanda Daffa. Rumah tangga itu kayak masakan sayur asem. Ada asam, ada manis, ada asin. Kalau semua pahit, gak bisa dimakan. Kalau semua manis, malah eneg.”
Kek Acit tertawa ringan. “Nah, itu! Kalian berdua, harus belajar jadi pelengkap. Jangan berebut benar. Karena dalam rumah tangga, yang paling benar adalah yang paling bisa menenangkan.”
Bahul menggenggam tangan istrinya di atas meja. “Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu. Saya dan Anisa akan belajar lagi menata hati.”
“Yang penting, Mas,...” tambah Anisa lembut, “...kalau saya ngomong soal belanja, bukan berarti saya menuntut. Saya cuma ingin semuanya cukup. Saya tahu, Mas sudah berjuang.”
Bahul tersenyum, menatap anak-anaknya. “Mulai malam ini, Ayah janji, gak akan bawa lelah kerja ke rumah. Rumah ini tempat pulang, bukan tempat tumpahkan amarah.”
Daffa tiba-tiba menengadahkan tangan kecilnya, “Kalau gitu kita doa lagi yuk, kayak di sekolah TK! Biar Allah bikin Ayah sama Bunda sayang terus.”
Ia menirukan suara ustadzah kecilnya:
“Bismillah, Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an, warizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan…”
Semua ikut mengaminkan.
Suara itu lembut, tapi rasanya menembus dinding hati.
Setelah makan malam, Anisa menyuapi Nadhifa sambil tertawa lagi. Daffa menyanyikan lagu anak-anak islami. Bahul menatap mereka, lalu menatap ayah ibu mertunya yang tampak tersenyum bahagia.
Kek Acit menepuk pundak menantunya. “Ingat, Bahul. Rumah yang damai itu bukan rumah yang tak punya masalah, tapi rumah yang pandai menyiram api sebelum jadi kebakaran.”
Bahul mengangguk pelan. “Iya, Pak. Hari ini aku belajar, kalau cinta yang benar itu bukan yang selalu menang, tapi yang mau meredam.”
Malam semakin larut. Angin menembus dedaunan pisang di halaman. Suara jangkrik bersahutan. Tapi di ruang tengah rumah kecil itu, kedamaian kembali hadir.
Anisa menatap suaminya dengan lembut.
“Mas… kalau besok kerja lagi, jangan lupa sarapan ya. Saya mau goreng tempe kesukaanmu juga Daffa.”
Bahul tersenyum, “Asal yang goreng bukan api ya, tapi air yang menyejukkan.”
Anisa tertawa kecil. “InsyaAllah, yang goreng air mata cinta.”
Kek Acit batuk kecil. “Heh, kalian ini, jangan bikin Nyek Ulfa tersipu di usia segini lo!”
Semua tertawa keras kali ini. Suasana rumah kembali hangat.
Sebelum tidur, Daffa menghampiri kakeknya, lalu berbisik polos,
“Kek, kalau besok Ayah jadi api lagi, boleh Daffa siram pakai air wudhu?”
Kek Acit tertawa pelan sambil mengelus kepala cucunya.
“Itu ide bagus, Nak. Tapi ingat, siramnya bukan dengan air biasa. Siram dengan doa dan sabar.”
*****
Hikmah Malam Itu:
Dalam keluarga, marah itu wajar, tapi jangan sampai membakar. Karena rumah tangga bukan tempat api menyala, melainkan tempat air kasih sayang meneduhkan.
Dan di tengah kesederhanaan, keluarga kita belajar satu hal penting: Ketika salah satu menjadi api, yang lain harus rela menjadi air.
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 22 Oktober 2025
Komentar
Posting Komentar