JALAN PULANG' NASIHAT USTAD KARIM

Cerpen Cahaya Dhuha #06

'JALAN PULANG' NASIHAT USTAD KARIM 
@hmad Rasyid 


Sore itu, langit pesantren kecil di musholla Al Hikmah mulai berwarna jingga keemasan. Suara burung pipit berkejaran di atas menara mushalla. Dari dalam serambi, terdengar suara lembut Ustad Karim melantunkan ayat Al-Qur’an, diikuti beberapa santri yang duduk melingkar di hadapannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُم 

Suaranya tenang, dalam, seakan menembus dada siapapun yang mendengar.

Setelah ayat itu selesai, beliau menatap wajah-wajah muda di hadapannya: Daffa, Nadifa, Arifin, Ahmadi, dan Riskiyah.

“Anak-anakku,...” katanya perlahan, “... kita semakin bertambah usia, mestinya semakin dekat hati kita kepada Allah. Tapi, kadang justru yang terjadi sebaliknya.”

Daffa, yang duduk paling depan, menunduk. Ia masih berusia 8 tahun, tapi akhir-akhir ini hatinya sering gelisah. Bukan karena pelajaran, tapi karena dunia luar mulai menggoda. Ia sering curi-curi waktu membuka ponsel saat jam belajar, sekadar melihat dunia yang tampak gemerlap di luar pesantren.

Nadifa, adik Daffa yang baru 6 tahun, menatap kakaknya penuh cemas. Ia tahu kakaknya berubah. Sering diam, bahkan kadang membentak tanpa sebab.

Ustad Karim melanjutkan, Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 105 yang artinya, 'Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.' maksudnya, sebelum kalian sibuk memperbaiki orang lain, perbaikilah diri sendiri terlebih dahulu.”

Ahmadi mengangguk pelan. Tapi Arifin, yang duduk di sampingnya, berbisik, “Tapi, Ustad, kadang orang tua juga begitu. Suruh kita salat, tapi dia sendiri masih lalai.”
Ustad Karim tersenyum mendengar bisikan itu. “Arifin,” katanya lembut, “kadang kita terlalu sibuk menilai siapa yang lalai, sampai lupa memperbaiki diri sendiri. Itulah makna ayat ini.”

Hening. Suara angin sore masuk ke serambi membawa aroma tanah basah.

Namun tiba-tiba, suasana berubah. Daffa berdiri. Wajahnya tegang.
“Ustad… tapi bagaimana kalau orang lain yang terus membuat kita marah? Kalau dunia ini terasa tidak adil?”

Semua menatapnya. Nadifa memegangi ujung kerudungnya, takut kakaknya berkata kasar.

Ustad Karim menatapnya dalam. “Daffa, keadilan itu milik Allah. Tugas kita bukan menuntut keadilan, tapi memperbaiki diri agar pantas bagi rahmat-Nya.”

“Tapi Ustad,” Daffa melanjutkan dengan suara bergetar, “saya sudah berusaha jadi baik. Tapi teman-teman di luar sana malah menertawakan saya, bilang saya kolot, dibilang sok alim. Lama-lama saya muak! Kadang saya pikir, buat apa jadi baik kalau malah disakiti?”

Nadifa menunduk. Air matanya hampir jatuh. Ia tahu betapa keras Daffa mencoba, tapi juga betapa mudah hatinya terbakar oleh kata-kata orang.

Ustad Karim diam sejenak, lalu berkata lirih, “Nak, semakin engkau ingin baik, semakin besar ujian yang datang. Orang yang tak pernah diuji biasanya karena ia tak sedang menapaki jalan kebenaran.”

“Jadi… apa saya harus tetap sabar?” 

“Bukan sekadar sabar,” jawab Ustad Karim. “Tapi bersyukur. Karena Allah masih mau menegurmu dengan ujian, agar hatimu kembali pada-Nya.”

Kata-kata itu menampar Daffa. Ia duduk perlahan, menunduk dalam diam.

---

Malamnya, di asrama, Daffa termenung di dekat jendela. Nadifa datang membawa teh hangat.

“Abang masih marah?” tanyanya pelan.

Daffa tersenyum kecut. “Enggak. Cuma… berat, Difa. Aku merasa jauh dari Allah, padahal aku rajin ngaji, rajin salat.”

“Berarti abang sedang dipanggil untuk kembali, bukan ditinggalkan,” ucap Nadifa lembut.

Ucapan itu membuat Daffa menoleh. Nadifa menatapnya dengan mata teduh, seperti mata ibu mereka setiap menasihati kami. “Ustad Karim sering bilang kan kak, kalau kita merasa jauh dari Allah, berarti kitalah yang melangkah pergi. Allah tidak pernah meninggalkan.”

Daffa terdiam. “Kamu belajar dari siapa kalimat itu?”

“Dari wejangan Ustad Karim sore tadi,” jawab Nadifa sambil tersenyum. “Aku tulis di buku catatanku.”

Daffa tersenyum tipis. “Kamu memang lebih kuat dari abang.”

“Bukan kuat, Bang. Cuma lebih sering takut kehilangan arah.”

---

Keesokan harinya, pesantren kembali ramai. Santri menyiapkan lomba muhadharah. Arifin dan Ahmadi sedang bercanda di halaman, sementara Riskiyah membantu menghias panggung dengan kertas warna-warni.

Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari arah gerbang. Seorang warga datang tergesa membawa kabar: “Ustad Karim jatuh di jalan! Tadi habis salat Subuh, mau ke rumah Pak Lurah.”

Semua terkejut. Nadifa berlari bersama Daffa menuju rumah ustad. Di sana, Ustad Karim terbaring di dipan kayu, wajahnya pucat tapi tersenyum.

“Ustad!” seru Daffa panik.
Ustad membuka mata. 

“Tenang, Nak. Cuma terkilir sedikit.” Tapi Nadifa melihat tangan ustad gemetar menahan sakit.

Saat semua diam, Ustad berkata pelan, “Daffa… semalam aku bermimpi. Aku melihat ladang luas, penuh cahaya. Di tengahnya ada sungai yang jernih. Lalu kudengar suara yang berkata: ‘Semakin tua, semakin dekatlah engkau kepada-Ku.’”

Air mata Nadifa jatuh. “Ustad… jangan bicara begitu.”

Ustad tersenyum lemah. “Tidak apa, Nak. Aku hanya ingin kalian tahu… hidup ini perjalanan pulang. Siapa yang tak memperbaiki diri, akan tersesat di jalan.”

Daffa menggenggam tangan ustad erat. “Ustad, saya janji akan memperbaiki diri. Akan menjaga hati, seperti yang ustad ajarkan.”

Ustad menatapnya penuh kasih. “Itulah yang kuinginkan, Daffa. Perbaikilah dirimu, maka kerusakan orang lain tak akan memudharatimu. Ingat pesan Ibnu Katsir: siapa yang memperbaiki urusannya, Allah akan menjaga jalannya.”

Air mata Daffa tak tertahan. “Terima kasih, Ustad…”

---

Beberapa hari kemudian, Ustad Karim kembali pulih. Tapi sorot matanya lebih teduh dari sebelumnya, seolah waktu menuntunnya semakin dekat dengan Allah.

Pada malam Jumat, beliau mengumpulkan semua santri di mushalla.
“Anak-anakku,...” katanya, “....usia itu bukan sekadar angka, tapi amanah. Semakin tua, seharusnya semakin tunduk, semakin banyak dzikir, semakin dalam rasa syukur. Jangan biarkan dunia memperkeras hatimu.”

Beliau menatap Daffa yang duduk paling depan.
“Dan untuk kalian yang muda, jangan menunggu tua untuk mendekat pada Allah. Karena kematian tidak menunggu uban.”

Semua terdiam. Suara jangkrik di luar mushalla terdengar nyaring.

Ustad melanjutkan, “Aku ingin kalian semua menulis satu hal yang akan kalian perbaiki mulai malam ini. Tak perlu banyak, tapi tulus.”

Kertas bertebaran. Suara pena beradu.

Daffa menulis: Aku akan menjaga hati dari marah, dan memperbaiki diriku sebelum menilai orang lain.

Nadifa menulis: Aku akan bersyukur setiap hari.

Riskiyah menulis: Aku ingin lebih sering berdzikir.

Arifin menulis: Aku tak akan lagi membandingkan kesalehan orang lain dengan diriku.

Ahmadi huga menulis: Aku ingin belajar sungguh-sungguh agar bisa menolong orang lain.

Ustad Karim tersenyum membaca satu per satu tulisan mereka. Lalu ia berkata, “Inilah awal dari perjalanan pulang yang sebenarnya. Kalian baru melangkah di jalan yang benar.”

Dan malam itu, di bawah sinar bulan, santri-santri itu merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya — kedamaian yang lahir dari tekad memperbaiki diri.

Ustad Karim menutup pertemuan itu dengan doa panjang. “Ya Allah, jadikan kami hamba yang semakin tunduk seiring usia kami bertambah. Jangan biarkan kami semakin tua tapi semakin jauh dari-Mu. Karena sesungguhnya, Engkaulah tujuan akhir dari setiap perjalanan kami.”

Daffa menunduk. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena marah, bukan karena kecewa — melainkan karena ia akhirnya mengerti: jalan pulang kepada Allah selalu terbuka, selama hati masih mau mengetuk.


#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 24 Oktober 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI