MENERIMA KETIDAKSEMPURNAAN
Cerpen Cahaya Dhuha #07
MENERIMA KETIDAKSEMPURNAAN
@hmad Rasyid
Pagi itu, cahaya dhuha menembus kisi-kisi jendela musholla Al-Hikmah. Lembut dan hangat, seolah membelai hati siapa saja yang datang dengan niat tulus. Karpet hijau telah disapu, rak Al-Qur’an rapi berjajar, dan aroma sabun lantai masih terasa.
Di saf depan, Ustadz Karim duduk bersila dengan kitab kecil di tangannya. Sorot matanya teduh, namun tajam seperti selalu siap menembus kegelisahan siapa pun yang duduk di hadapannya.
“Anak-anak, sebelum kita mulai halaqah dhuha, Ustadz ingin kalian berbagi tentang hal yang membuat kalian gelisah akhir-akhir ini,...” katanya dengan suara lembut. “...Kadang, cahaya dhuha paling terasa ketika hati kita sedang gelap.”
Daffa, anak laki-laki berusia enam belas tahun, menunduk. Tangannya menggenggam tasbih kecil, tapi butirannya tak bergerak. Nadifa, adiknya yang duduk di sebelah, melirik dengan khawatir. Sementara Bilqis, sahabat mereka berdua, hanya diam menatap sajadah biru di depannya.
“Daffa?” suara Ustadz Karim memecah sunyi. “Engkau tampak tak seperti biasanya.”
Daffa menghela napas panjang. “Saya… merasa gagal, Ustadz.”
“Gagal?...” tanya Ustadz Karim dengan lembut. “...Gagal dalam hal apa?”
“Dalam segalanya,....” jawabnya lirih. “...Nilai sekolah saya turun. Hafalan Qur’an saya sering salah. Bahkan saya merasa doa-doa saya nggak pernah dikabulkan.”
Ia menunduk makin dalam. Cahaya dhuha menyinari wajahnya yang tampak letih.
Nadifa menimpali pelan, “Mas selalu belajar sampai malam, Ustadz. Kadang sampai nggak tidur. Kalau salah sedikit saja, Mas Daffa marah pada dirinya sendiri.”
“Jadi Daffa ingin selalu sempurna, begitu?” tanya Ustadz Karim.
Daffa diam. Bilqis menatapnya prihatin. “Dia bahkan pernah bilang, kalau dia nggak bisa sempurna, lebih baik dia nggak usah ngapa-ngapain.”
Ustadz Karim meletakkan kitabnya, menatap mereka satu per satu. “Anak-anakku, kalian tahu arti dhuha?”
“Cahaya pagi, Ustadz,” jawab Nadifa cepat.
“Benar. Tapi bukan hanya cahaya matahari,” ujar beliau lembut. “Dhuha adalah waktu ketika langit bersih setelah malam yang panjang. Saat itulah Allah memberi kesempatan bagi hati yang gelap untuk diterangi kembali.”
Hening. Hanya terdengar burung kenari di luar jendela.
“Daffa,...” lanjutnya, “...kesempurnaan bukan untuk manusia. Allah menciptakan kita dengan kekurangan agar kita belajar tunduk, bukan untuk merasa gagal. Nabi pun pernah bersedih, pernah marah, pernah kecewa. Tapi beliau selalu kembali kepada Allah. Itu yang membuat beliau sempurna, karena menerima ketidaksempurnaan.”
Daffa menatap Ustadznya. Matanya berkaca-kaca. “Tapi bagaimana, Ustadz, kalau setiap kegagalan terasa menyakitkan? Saya takut mengecewakan orang tua, takut dibilang lemah.”
Ustadz Karim tersenyum samar. “Rasa takutmu itu bukan kelemahan, Anakku. Itu tanda hatimu masih hidup. Justru yang perlu kau lawan adalah rasa ingin menjadi seperti Tuhan - yang selalu benar, selalu sempurna. Karena itu mustahil bagi manusia.”
Bilqis, yang sejak tadi diam, menunduk. “Ustadz, saya juga sering merasa nggak cukup baik. Kadang saya iri sama teman-teman yang hafalannya lancar. Saya berpikir, mungkin Allah nggak suka sama saya.”
Ustadz Karim menatapnya lembut. “Bilqis, pernahkah kalian membaca surat Ad-Dhuha?”
Mereka menggeleng.
Beliau melantunkan dengan suara lirih namun menggema:
ÙˆَالضُّØَÙŠ
ÙˆَاللَّÙŠْÙ„ِ Ø¥ِذَا سَجَÙ‰ٰ
Ù…َا ÙˆَدَّعَÙƒَ رَبُّÙƒَ ÙˆَÙ…َا Ù‚َÙ„َÙ‰ٰ
“Demi waktu dhuha,” jelasnya, “dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu.”
Seketika suasana musholla Al Hikmah itu seperti dipeluk sesuatu yang halus. Nadifa meneteskan air mata.
“Surat itu turun ketika Rasulullah merasa Allah meninggalkannya,” lanjut Ustadz Karim. “Tapi Allah menegurnya dengan kasih sayang. Maka kalau kalian merasa gagal, merasa tidak sempurna, ingatlah: mungkin itu cara Allah memanggil kalian untuk kembali.”
Daffa menunduk makin dalam, pundaknya bergetar. “Saya... saya sering merasa seperti itu, Ustadz. Sholat tapi masih cemas, doa tapi masih takut. Saya marah pada diri sendiri karena nggak bisa tenang.”
Ustadz Karim menepuk pundaknya pelan. “Anakku, kau hanya perlu berlatih untuk menerima. Rasulullah bersabda, 'Orang mukmin itu cepat marah dan cepat pula memaafkan.' Artinya, manusiawi bila kita marah, kecewa, takut. Yang penting jangan tinggal di sana terlalu lama.”
Nadifa menatap kakaknya lembut. “Mas, nggak apa-apa kalau nggak bisa semuanya sempurna. Aku juga sering salah. Tapi selama kita mau perbaiki diri, Allah pasti sayang.”
Bilqis mengangguk. “Iya, Daffa. Kita semua berjuang kok. Kadang cahaya dhuha nggak langsung terasa, tapi dia selalu datang buat yang sabar menunggu.”
Air mata Daffa menetes. Tapi kali ini bukan karena kecewa, melainkan karena lega. Seakan sesuatu yang berat di dadanya mulai terangkat.
“Ustadz,...” suaranya bergetar, “...
bagaimana cara berdamai dengan diri sendiri?”
Ustadz Karim tersenyum. “Mulailah dengan memaafkan dirimu. Katakan pada hatimu, ‘Aku manusia, bukan malaikat. Aku boleh salah, asal tidak berhenti belajar.’ Lalu bangunlah di waktu dhuha, berwudhulah, dan ucapkan dengan tulus, ‘Ya Allah, terimalah aku meski aku belum sempurna.’”
Hening lagi. Tapi hening yang hangat, bukan lagi dingin.
Azan dzuhur belum terdengar, tapi cahaya dhuha kian terang. Daffa memandang jendela musholla yang kini memantulkan sinar keemasan ke wajah teman-temannya. Ia mengusap air matanya, lalu tersenyum kecil.
“Terima kasih, Ustadz,” katanya pelan. “Saya pikir, selama ini saya belajar untuk menjadi sempurna. Padahal saya seharusnya belajar untuk menerima.”
Ustadz Karim menatapnya dengan bangga. “Nah, itulah cahaya dhuha yang sejati, Daffa. Bukan hanya cahaya di langit, tapi cahaya yang muncul ketika hati yang gelap mulai mengerti maknanya sendiri.”
Nadifa tersenyum, Bilqis pun tersenyum. Mereka saling pandang, lalu duduk bersama mengulang surat Ad-Dhuha. Ustadz Karim menatap mereka dari kejauhan, membiarkan kehangatan dhuha menutup pertemuan itu dengan damai.
Dan di bawah sinar lembut yang memantul di lantai musholla Al-Hikmah, keempat jiwa itu menemukan sesuatu yang lebih berharga dari kesempurnaan, yakni ketenangan dalam menerima diri apa adanya.
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 26 Oktober 2025
@hmad Rasyid
Pagi itu, cahaya dhuha menembus kisi-kisi jendela musholla Al-Hikmah. Lembut dan hangat, seolah membelai hati siapa saja yang datang dengan niat tulus. Karpet hijau telah disapu, rak Al-Qur’an rapi berjajar, dan aroma sabun lantai masih terasa.
Di saf depan, Ustadz Karim duduk bersila dengan kitab kecil di tangannya. Sorot matanya teduh, namun tajam seperti selalu siap menembus kegelisahan siapa pun yang duduk di hadapannya.
“Anak-anak, sebelum kita mulai halaqah dhuha, Ustadz ingin kalian berbagi tentang hal yang membuat kalian gelisah akhir-akhir ini,...” katanya dengan suara lembut. “...Kadang, cahaya dhuha paling terasa ketika hati kita sedang gelap.”
Daffa, anak laki-laki berusia enam belas tahun, menunduk. Tangannya menggenggam tasbih kecil, tapi butirannya tak bergerak. Nadifa, adiknya yang duduk di sebelah, melirik dengan khawatir. Sementara Bilqis, sahabat mereka berdua, hanya diam menatap sajadah biru di depannya.
“Daffa?” suara Ustadz Karim memecah sunyi. “Engkau tampak tak seperti biasanya.”
Daffa menghela napas panjang. “Saya… merasa gagal, Ustadz.”
“Gagal?...” tanya Ustadz Karim dengan lembut. “...Gagal dalam hal apa?”
“Dalam segalanya,....” jawabnya lirih. “...Nilai sekolah saya turun. Hafalan Qur’an saya sering salah. Bahkan saya merasa doa-doa saya nggak pernah dikabulkan.”
Ia menunduk makin dalam. Cahaya dhuha menyinari wajahnya yang tampak letih.
Nadifa menimpali pelan, “Mas selalu belajar sampai malam, Ustadz. Kadang sampai nggak tidur. Kalau salah sedikit saja, Mas Daffa marah pada dirinya sendiri.”
“Jadi Daffa ingin selalu sempurna, begitu?” tanya Ustadz Karim.
Daffa diam. Bilqis menatapnya prihatin. “Dia bahkan pernah bilang, kalau dia nggak bisa sempurna, lebih baik dia nggak usah ngapa-ngapain.”
Ustadz Karim meletakkan kitabnya, menatap mereka satu per satu. “Anak-anakku, kalian tahu arti dhuha?”
“Cahaya pagi, Ustadz,” jawab Nadifa cepat.
“Benar. Tapi bukan hanya cahaya matahari,” ujar beliau lembut. “Dhuha adalah waktu ketika langit bersih setelah malam yang panjang. Saat itulah Allah memberi kesempatan bagi hati yang gelap untuk diterangi kembali.”
Hening. Hanya terdengar burung kenari di luar jendela.
“Daffa,...” lanjutnya, “...kesempurnaan bukan untuk manusia. Allah menciptakan kita dengan kekurangan agar kita belajar tunduk, bukan untuk merasa gagal. Nabi pun pernah bersedih, pernah marah, pernah kecewa. Tapi beliau selalu kembali kepada Allah. Itu yang membuat beliau sempurna, karena menerima ketidaksempurnaan.”
Daffa menatap Ustadznya. Matanya berkaca-kaca. “Tapi bagaimana, Ustadz, kalau setiap kegagalan terasa menyakitkan? Saya takut mengecewakan orang tua, takut dibilang lemah.”
Ustadz Karim tersenyum samar. “Rasa takutmu itu bukan kelemahan, Anakku. Itu tanda hatimu masih hidup. Justru yang perlu kau lawan adalah rasa ingin menjadi seperti Tuhan - yang selalu benar, selalu sempurna. Karena itu mustahil bagi manusia.”
Bilqis, yang sejak tadi diam, menunduk. “Ustadz, saya juga sering merasa nggak cukup baik. Kadang saya iri sama teman-teman yang hafalannya lancar. Saya berpikir, mungkin Allah nggak suka sama saya.”
Ustadz Karim menatapnya lembut. “Bilqis, pernahkah kalian membaca surat Ad-Dhuha?”
Mereka menggeleng.
Beliau melantunkan dengan suara lirih namun menggema:
ÙˆَالضُّØَÙŠ
ÙˆَاللَّÙŠْÙ„ِ Ø¥ِذَا سَجَÙ‰ٰ
Ù…َا ÙˆَدَّعَÙƒَ رَبُّÙƒَ ÙˆَÙ…َا Ù‚َÙ„َÙ‰ٰ
“Demi waktu dhuha,” jelasnya, “dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu.”
Seketika suasana musholla Al Hikmah itu seperti dipeluk sesuatu yang halus. Nadifa meneteskan air mata.
“Surat itu turun ketika Rasulullah merasa Allah meninggalkannya,” lanjut Ustadz Karim. “Tapi Allah menegurnya dengan kasih sayang. Maka kalau kalian merasa gagal, merasa tidak sempurna, ingatlah: mungkin itu cara Allah memanggil kalian untuk kembali.”
Daffa menunduk makin dalam, pundaknya bergetar. “Saya... saya sering merasa seperti itu, Ustadz. Sholat tapi masih cemas, doa tapi masih takut. Saya marah pada diri sendiri karena nggak bisa tenang.”
Ustadz Karim menepuk pundaknya pelan. “Anakku, kau hanya perlu berlatih untuk menerima. Rasulullah bersabda, 'Orang mukmin itu cepat marah dan cepat pula memaafkan.' Artinya, manusiawi bila kita marah, kecewa, takut. Yang penting jangan tinggal di sana terlalu lama.”
Nadifa menatap kakaknya lembut. “Mas, nggak apa-apa kalau nggak bisa semuanya sempurna. Aku juga sering salah. Tapi selama kita mau perbaiki diri, Allah pasti sayang.”
Bilqis mengangguk. “Iya, Daffa. Kita semua berjuang kok. Kadang cahaya dhuha nggak langsung terasa, tapi dia selalu datang buat yang sabar menunggu.”
Air mata Daffa menetes. Tapi kali ini bukan karena kecewa, melainkan karena lega. Seakan sesuatu yang berat di dadanya mulai terangkat.
“Ustadz,...” suaranya bergetar, “...
bagaimana cara berdamai dengan diri sendiri?”
Ustadz Karim tersenyum. “Mulailah dengan memaafkan dirimu. Katakan pada hatimu, ‘Aku manusia, bukan malaikat. Aku boleh salah, asal tidak berhenti belajar.’ Lalu bangunlah di waktu dhuha, berwudhulah, dan ucapkan dengan tulus, ‘Ya Allah, terimalah aku meski aku belum sempurna.’”
Hening lagi. Tapi hening yang hangat, bukan lagi dingin.
Azan dzuhur belum terdengar, tapi cahaya dhuha kian terang. Daffa memandang jendela musholla yang kini memantulkan sinar keemasan ke wajah teman-temannya. Ia mengusap air matanya, lalu tersenyum kecil.
“Terima kasih, Ustadz,” katanya pelan. “Saya pikir, selama ini saya belajar untuk menjadi sempurna. Padahal saya seharusnya belajar untuk menerima.”
Ustadz Karim menatapnya dengan bangga. “Nah, itulah cahaya dhuha yang sejati, Daffa. Bukan hanya cahaya di langit, tapi cahaya yang muncul ketika hati yang gelap mulai mengerti maknanya sendiri.”
Nadifa tersenyum, Bilqis pun tersenyum. Mereka saling pandang, lalu duduk bersama mengulang surat Ad-Dhuha. Ustadz Karim menatap mereka dari kejauhan, membiarkan kehangatan dhuha menutup pertemuan itu dengan damai.
Dan di bawah sinar lembut yang memantul di lantai musholla Al-Hikmah, keempat jiwa itu menemukan sesuatu yang lebih berharga dari kesempurnaan, yakni ketenangan dalam menerima diri apa adanya.
#CahayaDhuhaAsaKeluarga
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 26 Oktober 2025
Komentar
Posting Komentar