MENDONGENG DI BAWAH CAHAYA REMBULAN

Cerpen Cahaya Dhuha #08 

MENDONGENG DI BAWAH CAHAYA REMBULAN 
@hmad Rasyid 


Malam itu angin berembus pelan di serambi rumah Kek Acit. Lampu teplok di sudut ruangan bergetar ditiup angin laut yang datang dari arah utara. Di sampingnya, dua cucu kesayangannya — Daffa dan Nadifa — duduk bersila sambil menatap kakeknya dengan mata penuh harap.

“Ceritain dongeng lagi, Kek,” pinta Nadifa dengan nada manja.

Kek Acit tersenyum. “Hehehe… kalian ini belum bosan mendengar dongeng Kakek, ya?”

“Enggak, Kek! Cerita Kakek tuh selalu ada hikmahnya,” sambung Daffa, matanya berbinar.

Kek Acit menatap langit malam. Bulan separuh tergantung, dikelilingi bintang-bintang kecil. “Baiklah,..." katanya pelan, “...malam ini Kakek akan bercerita tentang dua saudara yang mendapatkan pesan terakhir dari ayahnya sebelum sang ayah meninggal dunia.”

Daffa dan Nadifa saling berpandangan. Suasana hening sejenak. Hanya suara jangkrik yang terdengar di luar.

“Dulu,...” Kek Acit memulai dengan nada lembut, “...hiduplah seorang ayah dengan dua anaknya, laki-laki dan perempuan. Si sulung bernama Hasan, dan si bungsu bernama Husna. Mereka tinggal di sebuah kota kecil, hidup sederhana tapi bahagia. Hingga suatu hari, sang ayah sakit keras.”

“Kasihan…” gumam Nadifa lirih.

“Ya, Nak,...." lanjut Kek Acit. “...Sebelum meninggal, ayah mereka memanggil keduanya dan berkata: ‘Nak, sepeninggalku kelak, ada dua pesan yang harus kalian pegang teguh. Pertama, jangan sekali-kali menagih piutang. Kedua, jangan bekerja hingga terkena sinar matahari.’”

“Pesannya aneh ya, Kek?” tanya Daffa sambil mengernyitkan dahi.

Kek Acit tertawa pelan. “Nanti kamu tahu kenapa aneh, Nak. Sabar dulu.”

“Setelah ayah mereka wafat,...” lanjut Kek Acit, “...keduanya menerima warisan yang sama besar: masing-masing satu toko. Hasan, si sulung, suka menulis dan berurusan dengan angka, jadi ia membuka toko alat tulis. Husna, si bungsu, pandai berbicara dan suka menolong orang, jadi ia membuka toko sembako.”

“Wah, kayak Dik Nadifa ya, suka ngomong,” goda Daffa sambil terkekeh.

Nadifa manyun. “Heh, diam kamu! Lanjut, Kek!”

Kek Acit menahan tawa. “Tahun pertama, kedua toko berjalan lancar. Tapi setelah dua tahun berlalu, ibu mereka berkunjung. Ia ingin melihat bagaimana anak-anaknya menjalani pesan sang ayah.”

“Ibu itu datang ke toko Hasan dulu,...” ujar Kek Acit. “...dan betapa kagetnya ia melihat toko itu sepi, rak-raknya kosong, debu menempel di kaca etalase.”

‘Hasan, Nak,’ kata ibunya sedih, ‘mengapa tokomu begini sepi?’

Hasan menunduk. ‘Aku menjalankan pesan Ayah, Bu. Ayah bilang jangan menagih piutang, jadi semua yang berhutang padaku tak pernah kutagih. Dan Ayah juga melarang bekerja hingga terkena sinar matahari, maka aku selalu berangkat naik taksi, biar tak kena matahari. Tapi lama-lama uangku habis, pelanggan juga enggan datang karena mereka belum bayar dan aku tak menagih.’”

Daffa mengangkat tangan. “Tapi kan, Kek, kalau gitu malah rugi!”

Kek Acit tersenyum. “Betul, Nak. Tapi Hasan tidak salah niat. Ia hanya salah memahami.”

“Lalu ibunya beranjak ke toko Husna,” lanjut Kek Acit. “Di sana ia melihat suasana berbeda. Toko Husna ramai pembeli, rak-raknya penuh barang, dan semua orang tampak senang belanja di situ.”

‘Husna, Nak,...’ tanya ibunya dengan mata berbinar, ‘...bagaimana kamu bisa maju begini? Bukankah pesan ayahmu sama?’

Husna menjawab sambil tersenyum lembut, ‘Benar, Bu. Ayah berpesan jangan menagih piutang, maka aku tidak pernah memberi hutang kepada siapa pun. Tapi aku sering memberi sedekah pada yang membutuhkan. Dan ayah juga berpesan jangan bekerja hingga terkena sinar matahari, jadi aku membuka toko lebih pagi, sebelum matahari terbit, dan pulang setelah senja. Aku pergi naik motor dengan mantel panjang agar tak terkena sinar matahari langsung. Jadi aku tetap mematuhi pesan Ayah — tapi dengan pemahaman yang membuatku tetap bekerja keras.’”

Nadifa menatap langit-langit, berusaha mencerna. “Berarti... dua-duanya taat, tapi caranya beda ya, Kek?”

“Benar sekali,” jawab Kek Acit sambil tersenyum bijak. “Ketaatan tanpa kebijaksanaan bisa membawa kesulitan. Tapi ketaatan yang diiringi akal sehat dan hati yang terang, akan membawa keberkahan."

Daffa mencondongkan badan. “Jadi, maksudnya Hasan itu gagal karena salah nangkep pesan Ayahnya?”

“Bukan gagal, Nak,” ujar Kek Acit lembut. “Hasan hanya belajar lewat jalan yang lebih sulit. Kadang, orang yang terlalu tekstual dalam memahami nasihat akan kehilangan makna batinnya.”

Nadifa mengangguk pelan. “Kayak waktu Bunda bilang, ‘Jangan main di luar malam-malam.’ Aku kira Bunda cuma galak, padahal maksudnya supaya aku gak masuk angin.”

Kek Acit tertawa geli. “Nah! Itu contoh kecilnya.”

Malam makin larut. Lampu teplok mulai redup, tapi suara Kek Acit makin dalam, seolah membawa Daffa dan Nadifa ke dalam dunia kisah itu.

“Anak-anak,” katanya pelan, “hidup ini sering memberi kita pesan — dari orang tua, guru, atau kehidupan itu sendiri. Tapi pesan itu tidak akan berarti kalau kita tidak merenungkannya dengan hati dan akal. Hasan dan Husna sama-sama taat pada ayahnya, tapi hanya Husna yang mengerti makna sejatinya.”

“Makna sejatinya apa, Kek?” tanya Daffa penasaran.

“Bahwa dalam hidup,...” ujar Kek Acit lirih, “...taat bukan hanya soal melakukan perintah, tapi juga memahami maksudnya. Jangan menagih piutang bukan berarti pasrah pada kerugian, tapi belajar untuk tidak tamak dan sabar menolong. Jangan bekerja di bawah sinar matahari bukan berarti malas, tapi menjaga diri dan bekerja dengan cerdas.”

Hening sejenak. Angin malam mengelus wajah mereka bertiga.

“Jadi, Kek,” ujar Nadifa dengan suara pelan, “kalau nanti Bunda kasih pesan, aku harus tanya dulu maksudnya, ya?”

Kek Acit tersenyum lebar. “Boleh, asal dengan sopan. Kadang orang tua bicara dengan bahasa pengalaman dan anak-anak harus belajar menerjemahkannya dengan akal yang tumbuh.”

Daffa menatap api kecil di teplok yang berkerlap-kerlip. “Kalau Hasan dan Husna hidup lagi, pasti mereka bangga udah jadi pelajaran buat kita ya, Kek.”

“Hehehe… barangkali begitu, Nak.”

Malam semakin senyap. Nadifa mulai bersandar di paha Kek Acit, sementara Daffa memeluk bantal kecilnya.

“Kek,” bisik Daffa mengantuk, “kalau Kakek meninggal nanti, Kakek bakal kasih pesan juga ke kita?”

Kek Acit menatap langit yang mulai berawan. Senyumnya lembut tapi matanya berembun. “Tentu, Nak. Kek hanya akan berpesan satu hal: jangan biarkan hatimu buta oleh kesalahpahaman. Kadang bukan dunia yang salah, tapi cara kita memandangnya.”

“Hmm… berat, Kek,” gumam Nadifa separuh tidur.

“Hehehe, nanti kalian paham, ketika dewasa.”

Suara jangkrik makin pelan. Lampu teplok padam tertiup angin. Tapi di antara kegelapan itu, suara lembut Kek Acit masih terdengar, bagai gema dari masa lalu: “Hidup ini seperti dongeng, Daffa, Nadifa. Tapi yang menentukan akhir ceritanya bukan siapa yang paling taat, melainkan siapa yang paling bijak.”

Dan malam pun menutup kisah itu dengan damai — di bawah cahaya bulan yang setia menemani.


#CahayaDhuhaAsaKeluarga 
#CerpenBuatCucunda
AmbuEnten, 27 Oktober 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI