HIKMAH SAKIT

Gambar: Islam Pos 

HIKMAH SAKIT

Sahabat... kalau kita mau menyadari dan mau bertafakur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas segala limpahan nikmat, termasuk juga nikmat sakit, masyaallah sangatlah jelas bahwa "maa khalaqta haadza baathilan". Bahwa tidak ada sesuatupun yang Allah ciptakan itu sia-sia. Setiap sesuatu yang diadakan oleh-Nya, pasti  mangandung hikmah. Semuanya pasti bernilai manfaat bagi siapapun.

Masyaallah ketika saya diberikan ujian berupa sakit semacam ini (stroke seluruh anggota badan bagian kiri) betapa banyak nilai hikmah yang didapatkan.

Yang pertama; tumbuhnya rasa kesadaran bahwa setiap manusia (individu) pasti membutuhkan orang lain (makhluk sosial). Manusia tak akan mampu berdiri sendiri. Mereka harus menjalin hubungan dengan sesama manusia tanpa memandang status dan kedudukan. Selain itu kita juga membutuhkan hubungan jalinan dengan makhluk yang lainnya. 

Artinya antara sesama makhluk pasti memiliki ketergantungan. Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk membentuk hubungan atau jaringan sehingga tercipta komunikasi yang intens dan terjadi hubungan simbiosis mutualisme.

Dengan demikian akan nampak besar sekali nilai dari sebuah format silaturahim. Yang riil adanya ketika kita membangun hubungan atau jaringan komunikasi yang intens antar keluarga dan atau antar sahabat sangatlah besar manfaatnya termasuk pada saat kondisi kita sakit. 

Oleh sebab itu tidaklah boleh kita sia-siakan ketika masih sehat, "Ayo, galang hubungan silaturahim terlebih dengan keluarga karib!" Sungguh sangat akan terasa kenikmatan itu pada saat kita sakit. Masyaallah, apabila ada atau  banyak sanak famili dan sahabat menjenguk kita pada saat sakit. Lalu mereka serempak mendoakan sekaligus membesarkan hati untuk kesembuhan kita. Hal itu merupakan suatu kenikmatan yang tiada tarukur nilainya. 

Artinya kalau kita mau hidup 100 atau 1000 tahun, bangunlah jaringan dan hubungan komunikasi yang aktif sebagai wujud tersambungnya silaturahim.

Kedua; menjadi sebuah pelajaran baru bagaimana kita belajar bersabar dan belajar memotivasi untuk bersemangat agar tetap eksis menuju kehidupanyang lebih prima, baik dalam pemenuhan kebutuhan pribadi maupun untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Belajar menumbuhkan keyakinan diri bahwa hari esok kita masih bisa meraihnya dan yakinlah bahwa Allah akan menjawab setiap doa kita dengan jawaban yang sebaik-baiknya atau jawaban Ihsan kepada kita. Yaitu sesuai ukuran kemampuan kita.

Hikmah ketiga, kita mendapatkan peringatan bahwa hakikat setiap orang yang diciptakan akan mengalami kematian. Peringatan bahwa sakit merupakan salah satu perantara  dari kematian. Jadi bila sedang diberi sakit berarti sudah sangat dekat dengan mati.

Nah, pada saat sakit itulah kemudian Allah memberikan pelajaran atau tuntunan untuk selalu mengingat dan menyebut namanya dan menyebut kekasihnya (Muhammad SAW) agar kelak tidak akan jauh darinya. Seraya berharap dan berdoa untuk kesembuhan yaitu sehat dan  afiyat.

Hikmah keempat adalah ketika kita diberikan sehat, diberikan kecukupan, diberikan kesempatan hidup di dunia harus ingat bahwa suatu waktu kondisi  yang demikian akan berubah pada tempat atau posisi dan keadaan yang berbeda.

Bahwa ada sehat - ada sakit, ada hidup - ada mati. Oleh karenanya pada saat masih dalam posisi baik atau zona tenang dan nyaman, maka harus tetap berjuang dan bersemangat untuk memperoleh nilai dalam kebaikan itu, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain.
Jagalah kesehatan, baik sehat badan maupun sehat hati! 
Rawat dan jangan sia-siakan!

Bahwa setiap anggota tubuh memiliki hak sesuai dengan fungsinya. Perlu istirahat, perlu refreshing, perlu asupan gizi, yaitu berupa makanan kalau untuk jasad ataupun dzikir kalau bagi rohani.

Demikian sahabat, mungkin hikmah itulah yang dapat dipetik dan dipahami dari selaksa hikmah yang Allah anugerahkan dari poin sakit yang Allah ciptakan.

Jadi benar bahwa Allah akan menurunkan dua kenikmatan, yaitu: nikmat Ihsan atau kebaikan, sedangkan yang kedua berupa nikmat Imtihan atau ujian, seperti adanya musibah dan lain-lain yang harus kita yakini bahwa itu bagian dari takdir Allah.

Insya allah termasuk bagian dari dzikir kepada Allah, yaitu memikirkan apa yang Allah ciptakan (khalqi), namun tidak perlu memikirkan siapa yang menciptakan khalik). Sebab memikirkan atau mengingat Allah cukuplah dengan selalu berdzikir dan bersembah kepadaNya, misal melalui salat dan ibadah lainnya.

Subhanallah wabihamdihi
Subhanallahil Azimi

#Edisi: MonRengSake'KorangLakonaYaNoles
#Berbagi Itu Indah 
Ambunten, 13 Juli 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI