NYARE ELMO

Makna Filosofi Lagu NYARE ELMO

Pongpong padha gi' kana'
Pabajeng nyare elmo
Klamon la padha genna'
Senneng tanto etemmo

Terjemahan Bebas dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

Mumpung masih anak-anak
Yang rajin mencari ilmu
Sebab jikalau sudah lengkap (ilmunya)
Senang akan ditemukan

Sahabat, jikalau kita orang Madura tentu akan ingat lagu di atas sebab sering dilakukan dan diajarkan oleh para guru kita ketika berada di kelas-kelas awal SD atau MI.

Lirik lagu yang hanya terdiri dari 4 baris begitu sangat mudah dipahami tentang maksud dan makna yang tersurat serta tersirat di dalamnya. Lagu tersebut begitu jelas kentara pesan moralnya yang bermaksud agar kita mau dan bersemangat belajar dimulai sejak dini.

Jikalau kita seorang yang telah dewasa dan mempunyai anak maka salah satu kewajiban kita adalah mendidik anak kita sehingga dapat memiliki ilmu yang dapat memberikan pencerahan dan pengantar dalam mengarungi kehidupan dunia dan insya Allah dapat terselamatkan dalam kehidupan akhirat kelak.

Bagi  orang Islam mencari ilmu itu fardu ain. Suatu kewajiban bagi setiap orang muslim baik itu laki-laki ataupun perempuan. ( tentu termasuk pula bagi non muslim)

طلب العلم فريضة على كل مسلمين و مسلمات

Bahkan sebagaimana yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, hal yang sebenarnya bersumber dari ajaran Islam yaitu belajar sepanjang hayat. Jadi Ki Hajar Dewantara mengajak kita bangsa Indonesia untuk "melek aksara", jangan sampai terjadi buta huruf. Sebab buta huruf itu diasumsikan sebagai orang yang bodoh dan biasanya orang yang bodoh akan mudah dijahili orang lain.

اطلب العلم من المهد الي اللهد

Itu ajaran Islam bahwa mencari ilmu itu dimulai sejak terlahir dari rahim ibu sampai dengan meninggal dunia atau masuk liang lahat.

Tidak hanya sejak terlahir dari rahim ibu، para alim ulama menganjurkan sejak masih dalam kandungan sang ibupun penting untuk selalu diperdengarkan kalimat-kalimat yang baik, diperdengarkan doa-doa yang baik untuk si jabang bayi yang masih dalam rahim. Terlepas dari ia bisa mendengar atau tidak, yang pasti Allah Maha Tahu serta Maha Mendengar dari setiap doa yang tersampaikan oleh hambanya dan insya Allah  DIA akan menjawabnya dengan kebaikan.

Oleh karena itu pula Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita bahwa kegiatan pembelajaran berupa pengajaran dan pendidikan berada dalam 3 (tiga) lingkungan, yaitu lingkungan keluarga (informal), lingkungan sekolah (formal), dan lingkungan masyarakat (non formal). Ketiga tempat tersebut atau lingkungan belajar itu akan mempengaruhi terhadap semangat, cara (strategi dan pola) belajar si anak. Pada akhirnya juga akan membentuk karakter si anak tersebut.

Oleh sebab itu pola pembelajaran yang salah ketika di rumah atau di lingkungan rumah tangga, maka berakibat buruk terhadap perilaku belajar selanjutnya. Hal itu suatu hal yang wajar sekali. Sebab secara hitungan kasar tentang masa, si anak atau siswa belajar di sekolah paling lama hanya sekitar 5 sampai 6 jam dan lebih banyak formulanya di rumah yaitu 19 atau 18 jam. Berbeda kalau kemudian dimasukkan dalam pondok pesantren yang di asramakan sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan normal, optimal, sebab terjadi pengelolaan, pengawasan dan evaluasi pembelajaran yang konsisten dari sang pengasuh.

Pemilihan sekolah pun sangat bergantung pada penetapan dan peran serta orang tua. Ingatlah sahabat bahwa memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi anak merupakan salah satu kewajiban bagi orang tua. Oleh karenanya, orang tualah yang punya hak untuk menetapkan si anak belajar di mana dan kepada siapa.

Jadi, salah memilih tempat belajar dan atau kepada siapa harus belajar itu akan berakibat buruk atau baik pada si anak. Oleh karenanya penting bagi orang tua untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang lingkungan belajar yang baik untuk diri anak kita.

Sahabat, saya masih teringat betul ketika Bapak Imamudin, guru penulis ketika masih kelas 3 SD di SDN Semaan II, Dasuk. Beliau pernah menyampaikan kepada kami para siswa ketika itu. Bahwa belajar ketika masih muda atau anak-anak,hakikatnya sama dengan melukis di atas batu; sebaliknya orang yang baru mau belajar ketika sudah tua, hakikatnya sama dengan melukis di atas air.

Jadi, bagi kita sebagai orang tua harus selalu memotivasi anak-anak kita agar bisa belajar dengan giat atau rajin. Bimbinglah anak kita dengan pesan moral yang baik sehingga mereka menjadi murid yang tawadu terhadap guru serta menghormati orang yang lebih tua, apalagi orang tua sendiri. Seterusnya kewajiban para guru untuk menghaluskan budi pekerti sang murid sehingga ia benar-benar menjadi orang yang berkarakter baik atau kalau bahasa kekinian memiliki Profil Pelajar Pancasila.

Dalam dirinya akan tumbuh dan berkembang enam dimensi karakter yang menjadi harapan kita semua, yaitu: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, (tumbuh jiwa) bergotong royong, berpikir kritis, kreatif, dan mandiri.

Sebagaimana yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu lingkungan belajar harus dapat menumbuhkan kemandirian terhadap siswa dan mampu mengembangkan potensi yang Allah titipkan kepadanya. Jadi fungsi dan kewajian gurulah untuk mengeksplor dan mengeksploitasi serta mengembangkan potensi atau profil seorang murid yang pasti memiliki warna yang berbeda.

Sahabat, ayo bangunlah jiwa dan raga anak-anak kita menjadi orang yang berkepribadian luhur dengan sebab ilmu.

Belajar sejak usia muda dengan beragam ilmu yang sesuai dengan potensi mereka (minat dan bakat), maka akan membawa pada perikehidupan yang baik pula untuk masa depan mereka.

Allah berjanji Sebagaimana yang tersurat dalam Alquran bahwa akan mengangkat derajat bagi orang-orang yang beriman dan berilmu.

Ingatlah sahabat, hal itu akan bergantung pada diri kita sebagai orang tua untuk memberikan pendidikan berupa ilmu yang sebanyak-banyaknya dan lengkap, ilmu dunia maupun ilmu akhirat sehingga diri kita dapat mempertanggungjawabkan kewajiban kita dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kepada Allah kelak ketika menghadap kepada-Nya

#Waru, Pamekasan 23 Juli 2023
#edisi: Berbagi Itu Indah

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI