CAHAYA DI TENGAH KEBIASAAN
CAHAYA DI TENGAH KEBIASAAN Karya Ahmad Rasyid Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar perlahan tenggelam dalam senyap senja. Bayangan pepohonan menari-nari di tanah berpasir. Langit jingga merona, sementara para santri sibuk dengan kegiatan sore—ada yang membersihkan lingkungan, ada yang mengaji di beranda, dan ada pula yang tenggelam dalam perenungan di Asta Bujuk Koneng. Di balik Masjid Aminah yang megah, seorang santri muda bernama Zayyidi duduk bersila. Ia menatap kerikil-kerikil kecil di depannya dengan pandangan gelisah. Wajahnya belum lagi bersih dari peluh usai menyapu halaman, tapi bukan kelelahan yang membuat napasnya berat. Tak lama, datanglah Faqih, santri senior yang dikenal karena ketenangannya. Ia melihat Zayyidi, lalu duduk di sampingnya, menyodorkan sebotol air minum. "Aku lihat kamu lebih banyak diam hari ini, Zayyidi. Ada yang mengganjal?" tanya Faqih dengan suara tenang. Zayyidi menerima air itu, meneguk sedikit, lalu mengangguk pelan. "Ak...