ANTARA GURU ATAU PEGAWAI
ANTARA GURU ATAU PEGAWAI
Dua tahun telah berlalu sejak Suni menanggalkan statusnya sebagai santri di Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar, Sumenep. Selepas lulus dari SPGN 1987, ia pamit baik-baik kepada pengasuh pesantren, Syaikhona Abus Suyuf Ibnu Abdillah.
Karya Ahmad Rasyid
Waktu itu, ia merasa harus mengejar langkah berikutnya, menapaki dunia yang lebih luas. Namun, jejak pesantren tak pernah benar-benar hilang dari hatinya. Seperti harum kayu gaharu yang menetap dalam pakaian, aroma keberkahan masih melekat dalam tiap langkahnya.
Hari itu, langit desa Pangarangan Sumenep mendung tipis. Suni bersiap untuk sowan kembali ke pesantren. Ia hendak mendaftar sebagai calon PNS dengan formasi guru. Sebelum itu, ia ingin memohon doa dan restu dari Syaikhona. Ia tahu, perjalanan tanpa restu adalah langkah yang kehilangan arah.
Menemani Suni dalam perjalanannya adalah Pak Umra—ayah sahabat dekatnya, sekaligus seorang tokoh yang dihormati di kampung.
Sesampainya di ndalem Syaikhona, suasana terasa seperti dulu. Tenang. Sejuk. Suara burung murai bersahutan di halaman.
Beberapa tamu lain tampak telah lebih dulu hadir, duduk rapi dengan wajah khidmat. Mereka pun alumni pesantren juga wakaupun beda angkatan. Masing-masing membawa hajat dalam diamnya hati.
“Assalamu’alaikum, Syaikhona,” ucap Suni sambil membungkuk dan mencium tangan beliau dengan takzim.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” jawab Kyai lembut. “Suni... sudah dua tahun ya? Sehat, Nak?”
“Alhamdulillah, sehat. Mohon doa panjenengan. Saya hendak mendaftar PNS, formasi guru.”
Syaikhona mengangguk. Lalu beliau memandang tajam namun penuh kasih.
“Kalau begitu, saya tanya...,” ujar beliau, “...kau mau jadi guru atau mau jadi pegawai?”
Suni terdiam. Pertanyaan itu sederhana, namun bagai palu yang mengetuk dasar nuraninya. Ia tahu, jawaban itu bukan sekadar teknis. Ia adalah penentu arah hidup. Namun ia tetap bungkam, mungkin karena ia belum benar-benar memilih dalam hatinya.
Melihat kebingungan itu, Pak Umra maju perlahan dan tersenyum, “Mau jadi guru, Kyai.”
Kyai tersenyum tipis, lalu bersuara pelan, namun setiap katanya seperti ukiran nasihat di dinding kalbu.
“Ya seharusnya begitu. Kalau kamu niat jadi guru, maka kamu akan bersemangat mengajar, berusaha menyampaikan ilmu Allah. Tapi jika hanya ingin jadi pegawai, maka yang kau kejar hanyalah gaji. Guru yang begitu biasanya tak sungguh-sungguh mengajar, hanya mengisi absen dan menunggu akhir bulan. Itu bukan guru, itu hanya penghuni ruang kelas.”
Suasana hening. Para alumni lain menyimak penuh takzim.
“Jadilah guru yang disegani murid-muridnya,” lanjut Kyai. “Bukan karena galak, tapi karena keikhlasan dan ketulusanmu. Ilmu itu dari Allah. Menyampaikannya dengan niat yang benar adalah amal jariah. Gajimu halal, tapi keberkahanmu datang dari ilmu yang terus hidup di dada murid-muridmu.”
Salah satu alumni, Fahmi, angkat bicara. “Tapi Kyai, di lapangan kadang sulit membedakan antara mencari nafkah dan niat mengajar lillahi ta’ala.”
Kyai menatap Fahmi sejenak, lalu berkata, “Tak ada yang mudah dalam menjaga niat. Tapi siapa yang menjaga hatinya, Allah akan menjaga langkahnya. Dekatkan dirimu dengan Al-Qur’an. Sering-sering sowan ke guru. Dan jangan lupa mendoakan murid-muridmu. Itu akan menjaga hubungan ruhani antara kalian.”
Seorang tamu lain menambahkan, “Saya pernah ditegur murid karena datang terlambat. Malu rasanya, tapi mungkin itulah pengingat dari Allah.”
“Betul.” sahut Kyai. “Kadang murid lebih jujur dari kita. Maka belajarlah dari mereka juga. Guru bukan yang tahu segalanya, tapi yang mau terus belajar. Termasuk belajar menjadi pribadi yang pantas diteladani.”
Suni mengangguk pelan. Dalam hatinya, tekad mulai tumbuh. Ia bukan lagi hanya pemuda lulusan SPGN yang sedang mencari kerja. Ia adalah penyambung mata rantai ilmu, penerus para guru, pewaris amanah mulia.
Menjelang maghrib, ketika mereka pamit, langit Sumenep mulai meredup. Tapi dada Suni kini terang. Doa Kyai mengiringi langkahnya.
Ia tahu, hari itu ia bukan hanya pulang untuk sowan. Ia pulang untuk diingatkan bahwa menjadi guru bukan hanya profesi, tapi jalan menuju keberkahan hidup.
Padangdangan, 16 Mei 2025
Desain Gambar: Canva
Luar biasa..keren..
BalasHapusLancar mengalir. Lanjutkan, sangat inspiratif.
BalasHapusAlhamdulillah sudah lama menjadi guru, guru untuk anak di rumah maupun di sekolah, namun masih banyak kekurangan dan tujuan yang belum tercapai. Semoga ke depan senantiasa Allah memberikan kemampuan untuk mendidik dengan baik, bukan hanya menunggu ahir bulan dan mengisi absen☺️
BalasHapusSangat menginspirasi untuk lebih baik lagi dalam niat dalam bekerja dan beribadah sebagai guru
BalasHapusSemoga para guru selalu diberikan kesehatan dan kesabaran dalam mengajar dan dapat mencetak generasi yang baik. Mari kita luruskan niat kembali
BalasHapusAssalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Sahabat Pena, terima kasih telah membaca kisah ini. Semoga bermanfaat
BalasHapus