CAHAYA DI BALIK NASAB

CAHAYA DI BALIK NASAB 
Karya Ahmad Rasyid 


Langit sore memerah perlahan di atas Pesantren Mathali'ul Anwar. Angin bertiup lembut melewati pepohonan yang mengitari halaman pondok. Di serambi rumah Syaikhona Abus Suyuf Ibnu Abdillah, tampak Gus Muhammad Syaifa Abudillah duduk termenung. 

Gus Abud, putra bungsu sang masyayikh, menatap layar ponsel yang baru saja ia gunakan untuk mengunggah sebuah catatan panjang di Facebook.

Sebuah refleksi. Bukan sekadar tulisan, tapi jeritan batin.

Tulisan itu merespons kritik tajam dari Syekh Muhammad Umar bin Jamal yang baru-baru ini tersebar luas: tentang anak-anak ulama yang hanya berbangga pada nasab tanpa ilmu dan amal. Sebuah sindiran yang terasa tajam—terlalu dekat, terlalu nyata.

**

Sontak di grup WhatsApp alumni pondok, diskusi mulai ramai pula.

“Sampeyan sudah baca status Gus Abud?” tulis Ustadz Luthfi, alumni dua ribuan.

“Baca, nyess… Gus Abud benar-benar nulis dari hati. Tapi jujur, saya merasa tertampar juga. Kadang kita terlalu memuliakan gelar 'gus' tanpa tahu isinya,” balas Fauzi, seorang santri aktif yang sedang menjalani liburan pondok.

“Padahal beliau sendiri yang punya nasab mulia itu justru merasa was-was dihormati berlebihan,” tambah alumni lainnya, Zainal.

**

Sore menjelang maghrib. Di salah satu ruang halaqah, sekelompok santri berkumpul membahas status Gus Abud.

“Sampeyan semua tahu, Gus Abud itu meskipun bungsu, tapi paling sering memikul beban batin keluarga,” kata Yusuf, santri kelas akhir.

“Beliau seolah membawa beban reputasi semua kakaknya. Lalu datang kritik tajam seperti itu, pasti terasa sangat personal,” tambah Abdul Malik yang lima tahun berjalan usianya di pondok.

“Syekh Umar itu bukan asal bicara. Beliau cuma takut kalau kehormatan nasab jadi tameng untuk hidup tanpa jihad keilmuan. Dan Gus Abud sadar itu. Lihat bagaimana beliau malah merenungi diri, bukan membela diri,” ujar Fikri, diam-diam kagum yang masih baru tiga tahunan mondok.

**

Gus Abud masih di serambi. Azan maghrib berkumandang, namun ia tetap duduk, matanya menatap langit.

“Ya Rabb...,” gumamnya. “Apakah nasab ini berkah ataukah ujian?”

Ia ingat betapa sejak kecil dipanggil “Gus” oleh semua orang. Orang-orang berdiri saat ia lewat. Cium tangan. Menunduk hormat. Padahal, ilmu yang ia miliki tak sebanding dengan kemuliaan para pendahulunya.

Ia merenungi kata-kata Syekh Umar: “Mereka meminum dari sumber kejelekan, membasahi diri dengan nafsu, hingga gelap hati mereka terhadap petuah....”

Apakah dirinya termasuk?

Tiba-tiba datanglah Lora Hantok, sepupunya.

“Abud, sebab status njenengan membuat para santri gempar. Banyak yang muhasabah. Tapi banyak juga yang bingung... mengapa njenengan menulis seperti itu di muka umum?”

Gus Abud menghela napas. “Karena pertanyaan itu menyesakkan dadaku, Mas. Aku tak sedang menghakimi siapa-siapa. Aku cuma lelah melihat betapa kadang nasab menjadi semacam mahkota... padahal belum tentu kepala ini layak memakainya.”

“Bukankah itu justru menunjukkan kelayakan?” Lora Hantok tersenyum. “Kesadaranmu untuk tidak merasa layak adalah pertanda layak yang sejati.”

“Tapi tetap saja, kenapa penghormatan orang sebesar itu?” tanya Gus Abud lirih. “Bukankah seharusnya penghormatan itu karena ilmu, bukan silsilah?”

Lora Hantok duduk di sebelahnya. “Benar. Tapi umat ini menghormati dzurriyah karena melihat mereka sebagai perpanjangan doa para ulama. Dan kita pun harus terus menjaga agar tidak mengkhianati doa itu.”

Gus Abud menatap langit yang mulai menggelap.

“Apakah harus diam? Tidak berusaha menakar diri? Aku hanya ingin orang-orang tahu, aku belum sehebat doa mereka. Aku masih belajar. Jangan muliakan aku karena Abahku. Muliakan kalau aku sudah pantas—kalau pernah ada manfaat dari ilmu atau akhlakku, barulah hormati...”

Lora Hantok mengangguk.

“Dan kalaupun tidak pernah, maka doakan... bukan tinggikan. Itulah pesanmu?”

“Ya,” jawab Gus Abud, lirih.

**

Di malam hari, status Gus Abud sudah dibagikan ratusan kali. Para alumni dan santri tak hanya mendiskusikannya, tetapi juga menunduk dalam muhasabah.

Malam itu, Pondok Mathali'ul Anwar seolah tenggelam dalam zikir dan renungan. Sebuah tulisan telah membuka pintu hati banyak orang.

Dan di serambi itu, Gus Abud tak lagi sendiri dalam gelisahnya. Ia kini ditemani cahaya: cahaya dari kejujuran seorang anak kiyai yang menolak diselimuti gelar, dan memilih menyelimuti dirinya dengan keinsafan.*)

Kolor Sumenep, 24 Mei 2025

*) Mohon maaf atas kekhilafan saya sebagian santri dalam tindak mengangkat ide mulia dari Njennengan Gus Abud, berikut nama Ke Antok yang saya jadikan partner tokoh dalam cerita ini.

Komentar

  1. Alhmdulillah jika memang memegang amanah itu berat,memang benar adax saya setuju dgn Gus Abud,beliau merasakn beban yg amat besar yg di pertaruhkan di pundakx,brliau takut tdak amanah,karna pertanggung jawaban beliau di akherat jga besar,beliau tdk gila popularitas itu yg patut di acungi jempol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah
      Terima kasih atas ekspresi dalam format komentarnya semoga ghiroh sebagai santri tetap terpatre ila yaumil akhirat. Dan siapapun yang Allah takdirkan sebagai pemegang tongkat estafet, Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar semakin bersinar dan terang cahayanya di antara banyak cahaya

      Hapus
  2. Assalamualaikum warahmatullah,
    Semoga bermanfaat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG MAGHRIB BERSAMA SYAIKHONA

SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN

ANTARA GURU ATAU PEGAWAI