MENJADI SANTRI, SELALU MERASA
MENJADI SANTRI, SELALU MERASA


Karya: Ahmad Rasyid
Mentari pagi menebar sinarnya yang hangat di pelataran rumah KH. Fathor Rahman. Ia menantu KH Ahmad Rasyidi dan salah satu alumni Ponpes Mathaliul Anwar Pangarangan yang berdomisili di desa Legung, Kecamatan Batang-Batang. Hangatnya angin pantai berpadu dengan aroma asin dan sarapan pagi yang menguar dari dapur.
Hari itu, nuansa pondok pesantren yang diasuhnya serasa berbeda. Walaupun kesederhanaan nan teduh ala-ala pesantren itu menjadi saksi pertemuan tiga bulanan Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar atau yang lebih dikenal dengan IKAMA.
Para alumni telah berkumpul di ruangan masjid pesantren dan sebagian diantaranya memilih berdiam di bawah naungan "terop" besar yang direntangkan di halaman.
Ustadz Endang duduk berdampingan dengan sahabat seniornya, Ustadz Mura’e, keduanya dikenal sebagai senior yang bijak dan berbaur dengan alumni lainnya lintas angkatan.
Tak jauh dari mereka, tampak Ustadz Mas’ad, Ustadz Syamsul Arifin, dan Ustadz Lutfi, alumni muda yang kini mulai menapaki jalan dakwah di berbagai daerah mereka mengabdikan dirinya.
Setelah beberapa salam dan obrolan ringan berlalu, Syaikhona Abus Suyuf Ibnu Abdillah, pengasuh pondok pesantren, duduk di tengah-tengah mereka. Suaranya tenang namun menggema dalam hati para santri yang hadir.
"Ingatlah wahai anakku! Santri itu bukan sekadar status. Ia adalah sifat yang melekat, bahkan setelah keluar dari gerbang pondok," ujarnya membuka taushiyah.
Semua terdiam, menyimak.
"Sebagai santri, kita harus senantiasa merasa dan berefleksi diri. Pertama, merasa malu. Malu bila ilmu yang kita dapat hanya jadi hiasan kata, bukan penggerak amal. Malu bila kita tahu haram, namun tetap tergoda maksiat. Terlebih lagi merasa malu bila belum mampu menjadi teladan." Beliau berhenti sejenak sembari menarik nafas panjang, wajahnya yang syahdu memandang lurus para mustami'in.
Wajah-wajah hadirin tertunduk. Ustadz Mas’ad mencatat cepat, sementara Ustadz Syamsul tampak merenung. Ustadz Lutfi menggenggam tasbih elektrik kecil, seolah mengingatkan dirinya sendiri.
"Yang kedua," lanjut Syaikhona, "...merasa bersalah. Itu yang akan menjauhkan kita dari sifat ujub dan sombong. Sehebat apapun dakwah dan ilmu kita, sepopuler apapun majelis kita, bila rasa bersalah pada Allah hilang, maka hilang pula keberkahan ilmu."
Suasana kian hening. Angin berembus lembut membawa aroma daun kering. Tiba-tiba Ustadz Mura’e membisiki telinga teman di sampingnya dan angkat bicara, “Saya teringat dulu, ketika ngaji di langgar tua di pondok, betapa kita takut salah bicara. Takut karena sadar betapa besar tanggung jawab seorang santri. Sekarang, rasa itu kadang memudar."
Ustadz Endang menimpali, “Karena itulah kita butuh berkumpul seperti ini. Mengingatkan kembali hati yang mulai lelah dan lalai. Agar kita tetap merasa.”
Syaikhona mengangguk. “Dan yang terakhir, santri harus merasa ingin bertobat. Karena sebagai manusia, kita tak lepas dari khatha’ (kesalahan) dan nisyan (lupa). Tobat bukan hanya untuk yang berdosa besar. Tobat itu untuk setiap hamba yang ingin dekat dengan Rabb-nya.”
Ustadz Syamsul lalu mengangkat tangan, meminta izin bicara.
"Mohon maaf Syaikhona, bagaimana cara menjaga tiga rasa itu, di tengah dunia yang begitu cepat dan penuh godaan?"
Syaikhona tersenyum lembut. “Dengan duduk seperti ini. Duduk bersama orang-orang yang mengingatkanmu pada Allah. Dengan memperbanyak tafakur. Dengan terus merasa butuh akan ampunan, bukan merasa cukup dengan amal."
Ustadz Lutfi menunduk, lalu bergumam pelan, “Kalau begitu, saya masih jauh dari santri yang sebenar-benarnya….”
Ustadz Endang menepuk bahunya, “Tidak ada yang sempurna, sahabat. Tapi santri sejati adalah yang tak berhenti mencoba mendekati-Nya.”
Azan dzuhur pun terdengar dari masjid sebelah. Pertemuan itu ditutup dengan doa dan pelukan hangat di antara para alumni yang didahului dengan sowan pada Syaikhona.
Tidak ada kemewahan dalam acara itu, hanya ada kehangatan, nasihat dari hati ke hati yang kembali disentuh rasa.
Saat hendak pulang, Ustadz Mas’ad berbisik pada Ustadz Syamsul, “Aku ingin menghidupkan majelis seperti ini di daerahku. Rasa malu, bersalah, dan ingin tobat... itu harus terus dihidupkan.”
Syamsul mengangguk. “Kita mulai dari diri kita dulu. Menjadi santri tak berhenti saat lulus, tapi saat kita berhenti merasa.”
Dan hari itu, di bawah langit desa Legung yang teduh, para alumni pulang membawa satu hal yang sama berupa hasrat atau keinginan untuk tetap menjadi santri, selamanya. *)
Ambunten, 14 Mei 2025
*) Catatan Santri di Pondok Cinta
Fatwa Syaikhona Abus Suyuf ibnu Abdillah bahwa sebagai Santri yang berilmu harus senantiasa:
1) merasa malu (bila tidak memanfaatkan ilmu yang didapat, untuk berbuat maksiat, bila belum memberikan keteladanan, dst);
2) merasa bersalah (sehingga terlepas dari sifat kesombongan dan selalu memohon ampunan-Nya); dan
3) merasa berkeinginan untuk bertobat sebagai hamba Allah yang melekat pada dirinya, berupa sifat "khatha' wa nisyan".
Subhanallah susunan bahasanya sngat indah
BalasHapusSubhanallah....
BalasHapusMator sakalangkong, Kyai... Ajunan ampon banyak mengabadikan dan menyebarkan petuah-petuah syaikhona, yang banyak sekali terlewatkan dari ingatan kami..
Semoga kami bisa memgamalkan, dan ini menjadi amal jariy bagi Ajunan....
🤲🤲🤲
Alhamdulillah mator sakalangkong
HapusAssalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Sahabat Pena, terima kasih telah membaca kisah ini. Semoga bermanfaat
BalasHapus