SENJA DI KAMAR NOMOR DELAPAN
Cerpen Ahmad Rasyid
Sore itu, mentari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan menyusup lembut di sela-sela jendela kayu kamar nomor delapan, di sisi timur pondok bagian utara.
Seusai salat ashar, suasana Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar yang biasanya riuh oleh celoteh santri, tiba-tiba menjadi hening. Seperti ada sesuatu yang besar akan terjadi.
Langkah-langkah ringan, namun penuh wibawa terdengar mendekat. Beberapa santri berdiri, sementara yang lain bersimpuh, menundukkan kepala dalam sikap tawadhu yang tulus.
Sosok mulia itu telah tiba, Syaikhona Abu Suyuf Ibnu Abdillah, seorang alim rabbani, bersama seorang santri yang dikenal pendiam namun cerdas dan terampil, Affan asal Ambunten.
Beliau berhenti di depan kamar kami, kamar nomor delapan. Jantung kami serasa terhenti sejenak. Ada apa gerangan, di benak kami. Lalu beliau berdiri tegak di ambang pintu, mata bulat indahnya menyapu seisi ruangan.
“Kamu yang dari Slopeng, yang sekolah di SPG itu?” tanyanya, suaranya tenang namun menghunjam hati.
Ahmad Rasyid, teman kami yang disenggol identitasnya, tersentak kaget. Ia menunduk, lalu menjawabnya pelan, “Inggih.” Ia menunduk tak kuasa menatapnya.
“Saya memilih dan menunjuk kamu, Nak untuk menjadi wali kelas isti’dad. Teman-temanmu yang masih baru akan mulai belajar kitab dasar selepas ashar di pondok selatan, ..." suara beliau berhenti sejenak seraya menunggu respon.
"...Kamu pula yang mencarikan gurunya dari santri senior, kakak kelasmu yang sudah lebih mahir baca kitab, sekaligus kamu susun jadwalnya. Mulai setelah seminggu ini," titah Syaikhona.
Kami bertiga yang berada di dalam ruangan diam. Semua tiarap, tak berani untuk berbasa-basi apalagi berspekulasi.
Sejenak kemudian, beliau melanjutkan, "Kamu juga harus mengajar, Nak. Itu..., kitab tasrifan," lanjutnya.
Kami terdiam. Ahmad Rasyid, yang baru satu setengah tahun mondok, ditunjuk memikul amanah sebesar itu. Ia ragu, dan jujur berkata, “Kami belum tahu, Syaikh.”
Beliau tersenyum kecil, penuh makna. “Ya, sebab itu kamu belum tahu, makanya saya suruh mengajar.” Lalu beliau berlalu, meninggalkan keheningan yang berat di udara pun terasa sesak di benak si Ahmad Rasyid.
Setelahnya, Ahmad Rasyid segera memanggil beberapa teman semisal: ustadz Saleh asal Gapura, Ke Ramli Talango si ketua pondok putra wilayah utara, dan lainnya untuk bermusyawarah.
Mereka membahas jadwal juga mencari dan mengidentifikasi guru, siapa dan akan ditetapkan mengajar apa. Mereka sekaligus ingin menentukan ruang kelas mana yang akan ditempatinya. Yaitu sebuah kelas baru yang akan menjadi tempat bertumbuhnya santri-santri muda.
Tahun demi tahun berlalu. Dari kamar nomor delapan itu, dari senja yang penuh getar pun getir itu, kelas isti’dad menjelma menjadi pilar penting dalam tradisi keilmuan pondok.
Ahmad Rasyid tumbuh, bukan hanya sebagai pengajar, tapi sebagai pemimpin yang ditempa oleh kepercayaan dan keberanian seorang guru besar.
Kini, di tahun 2025, saat usia telah membawanya jauh dari masa itu, kenangan sore setelah ashar itu tetap hidup di relung jiwanya. Bukan sekadar tentang amanah, tapi tentang keberkahan, tentang bagaimana langkah kecil dalam ketidaktahuan bisa menjadi awal dari cahaya yang tak pernah padam.
Sungguh, indah sekali menjadi santri dan lebih indah lagi ketika dikenang dalam pelukan berkah dari guru dan ilmu yang ikhlas karena Allah.
Terima kasih Murobbina wa Syaikhina Abus suyuf ibnu Abdillah atas jalan keberkahan itu semoga kesehatan tetap meliputimu beserta ahli keluarga pengasuh Pondok Pesantren Mathali'ul Anwar Pangarangan Sumenep.
[Nostalgia Pak Acit di Pondok Cinta]
Pangarangan, 12 Mei 2025
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Sahabat Pena, terima kasih telah membaca kisah ini. Semoga bermanfaat
BalasHapus