Postingan

DONGENG DI BUKIT PASIR PUTIH

Cerpen Cahaya Dhuha #25 DONGENG DI BUKIT PASIR PUTIH  Angin laut utara berembus lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau rumput kering. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di atas pasir putih Bukit Ambunten. Di sanalah Kakek Acit duduk berselonjor kaki1, bersandar pada tongkat kayu tuanya, ditemani dua cucu kesayangannya: Daffa dan Nadifa. Daffa sibuk menggambar garis-garis di pasir dengan ranting kering, sementara Nadifa sibuk memungut kerang kecil dan menumpuknya di pangkuan. “Kek,...” ujar Nadifa sambil menoleh, “...kenapa laut nggak pernah capek ombaknya?” Kakek Acit tersenyum, janggut putihnya bergerak pelan. “Karena laut tahu, berhenti itu bukan pilihan. Kalau berhenti, dia bukan laut lagi.” Daffa mendongak cepat. “Berarti aku juga nggak boleh berhenti main game dong, Kek?” “Lho, itu namanya ngeles,...” Kakek Acit terkekeh. “...Laut bergerak untuk kehidupan, kamu main game bergerak untuk… kalah sama baterai.” Nadifa tertawa, sampai kerang-...

HILANGKAN SAMPAH TINGGALLAH SABAR

Cerpen Cahaya Dhuha #24 HILANGKAN SAMPAH TINGGALLAH SABAR  @hmad Rasyid  Senja baru saja turun di halaman rumah kayu tua itu. Angin desa di bulan Desember berhembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore. Kakek Acit duduk di kursi rotan panjang, bersarung cokelat lusuh dan peci hitam yang sudah setia menemaninya puluhan tahun. Di kanan kirinya, dua cucu kesayangannya sudah siap dengan posisi paling nyaman: Daffa selonjoran sambil menggenggam kerupuk, sedangkan Nadifa bersandar manja di lengan kakeknya. “Kek,” kata Daffa sambil mengunyah, “cerita dongeng lagi, yuk. Tapi jangan yang sedih. Yang lucu tapi bikin mikir gitu.” Kakek Acit tersenyum, matanya menyipit penuh kasih. “Lho, kamu itu ya. Mintanya banyak. Seperti warung Madura: lengkap.” Nadifa tertawa kecil. “Yang penting ada ketawanya, Kek. Soalnya Mas Daffa kalau nggak ketawa, nanti malah nangis.” “Heh!” Daffa protes. “Aku nangis itu karena peka, bukan cengeng.” Kakek Acit terkekeh. “Dua-duanya betul. Nah, denga...

TEMPAT TINGGAL YANG SUNYI

Cerpen Cahaya Dhuha #23 TEMPAT TINGGAL YANG SUNYI  @hmad Rasyid  Langit sore itu kelabu, bukan karena hujan, melainkan karena matahari yang perlahan pamit. Angin berembus pelan, membawa bau tanah basah dari sawah belakang rumah. Kakek Acit duduk di kursi rotan tua, tasbih di tangannya bergerak perlahan—seolah menghitung bukan hanya zikir, tapi juga usia. Daffa dan Nadifa duduk di lantai teras. Kali ini, ponsel mereka tergeletak begitu saja, layarnya mati. “Kek,...” suara Nadifa pelan, hampir seperti bisikan, “...Kenapa ya… sekarang orang gampang sekali marah?” Kakek Acit menoleh. Tatapannya lembut, tapi dalam. “Karena lisan lebih cepat dari hati, Nak. Dan jari lebih cepat dari akal.” Daffa mengangguk. “Tadi aku lihat komentar orang di medsos, Kek. Kata-katanya kejam banget. Nggak sopan. Padahal mereka gak saling kenal.” Kakek Acit menghela napas panjang. “Dulu orang menyakiti dengan suara. Sekarang dengan tulisan. Sama-sama melukai.” Sunyi menyela mereka sejenak. Hanya sesekal...

RAJAB DI BERANDA RUMAH KAKEK ACIT

Cerpen Cahaya Dhuha #22 RAJAB DI BERANDA RUMAH KAKEK ACIT  @hmad Rasyid  Sore itu angin berembus pelan di beranda rumah kayu milik Kakek Acit. Langit berwarna jingga keemasan, burung-burung pulang ke sarang, dan suara azan Asar dari masjid kampung terdengar samar namun menenangkan. Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya, bersarung kotak-kotak dan berpeci hitam yang sudah mulai pudar warnanya. Di tangannya, tasbih kayu berwarna cokelat tua bergerak perlahan. Dua cucunya duduk bersila di lantai beranda. Daffa, si kakak yang kritis dan suka bertanya, sedang memainkan batu kecil. Nadifa, adiknya, sibuk menggambar bulan sabit di buku tulisnya. “Kakek,” tiba-tiba Daffa bersuara, “kata Ustaz di masjid, sekarang sudah masuk bulan Rajab ya?” Kakek Acit tersenyum, keriput di wajahnya semakin jelas. “Iya, Nak. Alhamdulillah… Allah masih kasih kita umur buat ketemu bulan mulia.” Nadifa mengangkat kepalanya. “Bulan mulia itu maksudnya apa, Kek? Bulannya pakai mahkota?” Daffa langsun...

PAGI LIBURAN DI TERAS RUMAH KAKEK ACIT

Cerpen Cahaya Dhuha #21 PAGI LIBURAN DI TERAS RUMAH KAKEK ACIT  Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik. Embun masih setia menggantung di daun mangga depan rumah. Angin tipis menyelinap lewat teras, membawa aroma tanah basah sisa hujan dini hari. Di kursi rotan tua, Kakek Acit duduk sambil menyeruput kopi pahit hitam kesayangannya. “Hmm… kopi pagi di hari libur itu rasanya seperti doa yang dikabulkan setengah-setengah,” gumamnya pelan. “Setengah-setengah kenapa, Kek?” tanya Daffa sambil menguap lebar, masih mengenakan kaus tidur. “Soalnya kalau dikabulkan sepenuhnya, Kakek masih pengin tidur lagi,” jawab Kakek Acit sambil terkekeh. Nadifa yang duduk di sebelah Daffa langsung tertawa kecil. “Kakek lucu. Libur kok malah pengin tidur.” “Eh, jangan salah,” sahut Kakek Acit, mengangkat telunjuknya. “Libur itu bukan soal tidur lama. Libur itu soal memanfaatkan waktu dengan bahagia.” Daffa mengangguk-angguk sok paham. “Berarti main game seharian juga bahagia dong, Kek?” Kakek Acit hampir ...

SEDEKAH YANG TUMBUH DI ANTARA KEBUN CABE JAMU

Cerpen Cahaya Dhuha #20 SEDEKAH YANG TUMBUH DI ANTARA KEBUN CABE JAMU  @hmad Rasyid  Sore turun perlahan di ladang itu. Matahari menggantung rendah, memercikkan warna jingga ke daun-daun cabe jamu yang berbaris rapi serupa tinggi pohon inangnya yang menjulang yang bersiap menyambut panen. Angin menggeser pelan aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Di sanalah Kakek Acit berdiri, ditemani dua cucunya: Daffa dan Nadifa menyiangi gulma yang tumbuh di sela-sela tanaman. “Daffa… yang dicabut itu rumput, bukan calon hutan lindung,” ujar Nadifa sambil menahan tawa. Daffa mengangkat rumput yang baru saja ia cabut. “Lho, ini kan hijau juga. Kukira bakal tumbuh jadi cabe rasa rumput laut.” “Kalau itu jadi cabe, orang-orang makan seblak pakai rumput,” sahut Nadifa cepat. Kakek Acit tertawa pelan. Keriput di sudut matanya ikut bergerak. “Kalau rumput bisa jadi cabe jamu, Kakek sudah buka pabrik cabe jamu terbesar se-kecamatan.” Daffa nyengir. “Berarti Kakek bakal jadi juragan cabe jamu ...

TIGA KATA AJAIB DIMULAI DARI MEJA MAKAN

Cerpen Cahaya Dhuha #19 TIGA KATA AJAIB DIMULAI DARI MEJA MAKAN  @hmad Rasyid  Sore itu, langit berwarna jingga lembut seperti disapu kuas pelukis yang sedang jatuh cinta. Angin menyelinap pelan melalui jendela dapur, membawa aroma sayur bening dan tempe goreng yang baru diangkat dari wajan. Di meja makan kayu tua yang mengilap karena sering dilap, Kakek Acit sudah duduk paling ujung. Sarungnya digulung rapi, kopiahnya miring sedikit. Di sebelahnya, Nyek Ulfa sibuk mengatur sendok dan piring. “Buk, sendoknya kurang satu,” ujar Kakek Acit sambil menunjuk. Nyek Ulfa menoleh, keningnya berkerut sebentar. “Kurang satu atau Kakek tadi ngambil dua?” Kakek Acit pura-pura batuk. “Ehemm… bisa jadi dua-duanya benar.” “Husss, ketahuan,” Nyek Ulfa terkekeh sambil mengambil sendok dari laci. Dari arah ruang tengah, Daffa berlari-lari kecil sambil membawa buku. Nadifa mengikutinya dengan langkah lebih kalem. “Kakek! Nyek!” seru Daffa. “Aku lapar berat ni!” Nyek Ulfa mengangkat alis. “Lapar ...