DONGENG DI BUKIT PASIR PUTIH
Cerpen Cahaya Dhuha #25 DONGENG DI BUKIT PASIR PUTIH Angin laut utara berembus lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau rumput kering. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di atas pasir putih Bukit Ambunten. Di sanalah Kakek Acit duduk berselonjor kaki1, bersandar pada tongkat kayu tuanya, ditemani dua cucu kesayangannya: Daffa dan Nadifa. Daffa sibuk menggambar garis-garis di pasir dengan ranting kering, sementara Nadifa sibuk memungut kerang kecil dan menumpuknya di pangkuan. “Kek,...” ujar Nadifa sambil menoleh, “...kenapa laut nggak pernah capek ombaknya?” Kakek Acit tersenyum, janggut putihnya bergerak pelan. “Karena laut tahu, berhenti itu bukan pilihan. Kalau berhenti, dia bukan laut lagi.” Daffa mendongak cepat. “Berarti aku juga nggak boleh berhenti main game dong, Kek?” “Lho, itu namanya ngeles,...” Kakek Acit terkekeh. “...Laut bergerak untuk kehidupan, kamu main game bergerak untuk… kalah sama baterai.” Nadifa tertawa, sampai kerang-...