Postingan

PAGI LIBURAN DI TERAS RUMAH KAKEK ACIT

Cerpen Cahaya Dhuha #21 PAGI LIBURAN DI TERAS RUMAH KAKEK ACIT  Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik. Embun masih setia menggantung di daun mangga depan rumah. Angin tipis menyelinap lewat teras, membawa aroma tanah basah sisa hujan dini hari. Di kursi rotan tua, Kakek Acit duduk sambil menyeruput kopi pahit hitam kesayangannya. “Hmm… kopi pagi di hari libur itu rasanya seperti doa yang dikabulkan setengah-setengah,” gumamnya pelan. “Setengah-setengah kenapa, Kek?” tanya Daffa sambil menguap lebar, masih mengenakan kaus tidur. “Soalnya kalau dikabulkan sepenuhnya, Kakek masih pengin tidur lagi,” jawab Kakek Acit sambil terkekeh. Nadifa yang duduk di sebelah Daffa langsung tertawa kecil. “Kakek lucu. Libur kok malah pengin tidur.” “Eh, jangan salah,” sahut Kakek Acit, mengangkat telunjuknya. “Libur itu bukan soal tidur lama. Libur itu soal memanfaatkan waktu dengan bahagia.” Daffa mengangguk-angguk sok paham. “Berarti main game seharian juga bahagia dong, Kek?” Kakek Acit hampir ...

SEDEKAH YANG TUMBUH DI ANTARA KEBUN CABE JAMU

Cerpen Cahaya Dhuha #20 SEDEKAH YANG TUMBUH DI ANTARA KEBUN CABE JAMU  @hmad Rasyid  Sore turun perlahan di ladang itu. Matahari menggantung rendah, memercikkan warna jingga ke daun-daun cabe jamu yang berbaris rapi serupa tinggi pohon inangnya yang menjulang yang bersiap menyambut panen. Angin menggeser pelan aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Di sanalah Kakek Acit berdiri, ditemani dua cucunya: Daffa dan Nadifa menyiangi gulma yang tumbuh di sela-sela tanaman. “Daffa… yang dicabut itu rumput, bukan calon hutan lindung,” ujar Nadifa sambil menahan tawa. Daffa mengangkat rumput yang baru saja ia cabut. “Lho, ini kan hijau juga. Kukira bakal tumbuh jadi cabe rasa rumput laut.” “Kalau itu jadi cabe, orang-orang makan seblak pakai rumput,” sahut Nadifa cepat. Kakek Acit tertawa pelan. Keriput di sudut matanya ikut bergerak. “Kalau rumput bisa jadi cabe jamu, Kakek sudah buka pabrik cabe jamu terbesar se-kecamatan.” Daffa nyengir. “Berarti Kakek bakal jadi juragan cabe jamu ...

TIGA KATA AJAIB DIMULAI DARI MEJA MAKAN

Cerpen Cahaya Dhuha #19 TIGA KATA AJAIB DIMULAI DARI MEJA MAKAN  @hmad Rasyid  Sore itu, langit berwarna jingga lembut seperti disapu kuas pelukis yang sedang jatuh cinta. Angin menyelinap pelan melalui jendela dapur, membawa aroma sayur bening dan tempe goreng yang baru diangkat dari wajan. Di meja makan kayu tua yang mengilap karena sering dilap, Kakek Acit sudah duduk paling ujung. Sarungnya digulung rapi, kopiahnya miring sedikit. Di sebelahnya, Nyek Ulfa sibuk mengatur sendok dan piring. “Buk, sendoknya kurang satu,” ujar Kakek Acit sambil menunjuk. Nyek Ulfa menoleh, keningnya berkerut sebentar. “Kurang satu atau Kakek tadi ngambil dua?” Kakek Acit pura-pura batuk. “Ehemm… bisa jadi dua-duanya benar.” “Husss, ketahuan,” Nyek Ulfa terkekeh sambil mengambil sendok dari laci. Dari arah ruang tengah, Daffa berlari-lari kecil sambil membawa buku. Nadifa mengikutinya dengan langkah lebih kalem. “Kakek! Nyek!” seru Daffa. “Aku lapar berat ni!” Nyek Ulfa mengangkat alis. “Lapar ...

PESAN MBAH BUYUT: MENANAM UNTUK MASA DEPAN

Cerpen Cahaya Dhuha #18 PESAN MBAH BUYUT: MENANAM UNTUK MASA DEPAN  @hmad Rasyid  Pagi baru saja membuka tirainya. Embun masih menggantung di ujung daun, memantulkan cahaya matahari yang malu-malu mengintip dari balik genting rumah.  Di belakang rumah sederhana itu, Kakek Acit sudah berdiri dengan caping lusuh di kepala dan cangkul kecil di tangan. Tanah taman kecil itu tampak basah dan gembur, siap ditata ulang. “Daffa... Nadifaa...” panggilnya pelan namun tegas. “Siap, Kek!” teriak Daffa dari dalam rumah sambil berlari tergopoh-gopoh. Nadifa menyusul sambil membawa botol minum. “Kakek ini kalau pagi-pagi suaranya seperti toa masjid.” Kakek Acit terkekeh. “Biar kalian cepat bangun. Kalau kebanyakan tidur, nanti mimpinya kepanjangan, lupa pagi yang semestinya bersemangat.” Mereka bertiga berdiri di depan beberapa batang kamboja yang sudah tumbuh subur. Ada yang berbunga putih bersih, ada yang merah menyala, dan ada pula yang pink lembut seperti pipi Nadifa saat malu-malu...

SORE ITU DI PADANG PASIR PUTIH AMBUNTEN

Cerpen Cahaya Dhuha #17 SORE ITU DI PADANG PASIR PUTIH AMBUNTEN  @hmad Rasyid  Sore itu, matahari perlahan menuruni punggung Gunung Pasir Putih Ambunten. Cahaya keemasan membias di atas butiran pasir yang berkilau seperti serbuk mutiara. Angin laut berembus lembut sedangkan suara ombak bagai berkejar-kejaran di kejauhan. Daffa berjalan agak terengah di belakang Kek Acit dan Nadifa. “Kek Acit, jalannya naik terus begini… ini gunung apa tangga ke langit?” keluh Daffa sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan peci. Kek Acit tertawa kecil, jenggot putihnya bergoyang. “Kalau tangga ke langit, kamu jangan banyak mengeluh, Fa. Nanti malah disuruh turun lagi.” Nadifa yang berjalan paling depan menoleh sambil tersenyum jahil. “Daffa itu bukan capek, Kek. Itu perutnya yang protes, belum makan gorengan.” “Heh! Jangan fitnah!” Daffa membela diri. “Aku ini atlet… atlet makan, maksudku.” Kek Acit terkekeh. “Yang penting atlet sabar, Fa.” Mereka pun berhenti di sebuah bukit kecil. Dari sana, la...

SEBERKAS CAHAYA DI MUSHALLA AL-HIKMAH

Cerpen Cahaya Dhuha #16 SEBERKAS CAHAYA DI MUSHALLA AL-HIKMAH  @hmad Rasyid  Sore itu, langit menggantungkan sinar keemasan di atas atap Musholla Al-Hikmah. Angin membawa aroma tanah basah setelah gerimis tadi siang, dan dari kejauhan terdengar suara anak-anak mengaji yang bertalu-talu. Di dalam musholla yang sederhana itu, Ustadz Karim duduk bersila di depan rak kitab, ditemani cahaya lampu yang mulai menyala kekuningan. "Baik, anak-anak," ucapnya lembut sambil menatap keenam santrinya yang duduk berjejer. "Hari ini kita akan membahas satu doa yang sangat indah dan penuh makna: ‘Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.’” Daffa, anak paling tenang di antara mereka, mengulang pelan, “Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan…” Suaranya lembut, seolah menenangkan udara sore. “Masya Allah,” sahut Ustadz Karim tersenyum. “Doa ini, kalau kalian hayati, akan jadi k...

WASIAT KEK ACIT PADA MINGGU PAGI

Cerpen Cahaya Dhuha #15 WASIAT KEK ACIT PADA MINGGU PAGI @hmad Rasyid  Minggu pagi itu, matahari baru menanjak, menyinari halaman rumah yang dipenuhi embun. Burung-burung gereja ribut seperti sedang rapat besar. Di teras depan, Ke Acit duduk di kursi rotan kesayangannya sambil memegang cangkir kopi pahit panas yang uapnya menari-nari pelan. Daffa dan adiknya, Nadifa, keluar dengan langkah malas karena baru bangun tidur. Rambut Nadifa masih seperti sarang burung, sedangkan Daffa berjalan sambil menguap panjang. “Assalamu’alaikum, Kek…” ucap Daffa setengah sadar. “Wa’alaikumussalam,” jawab Ke Acit sambil tersenyum. “Lho, ini rambutmu kenapa, Difa? Berantakan kayak ayam kalah debat.” Nadifa memonyongkan mulut. “Heh, aku abis tidur, bukan abis konferensi pers!” Daffa tertawa keras. “Kayak habis dimakan kipas angin!” “DAFFA!” Nadifa mengejar, tapi Ke Acit mengetuk meja. “Sudah, sudah. Minggu pagi ini bukan buat tinju bebas. Duduk. Kakek mau ngomong sesuatu.” Suaranya lembut tapi tegas. ...