Postingan

NISFU SYAKBAN DI UJUNG MADURA: TRADISI SALLIMAN DAN TUTUP BUKU AMAL

Gambar
NISFU SYAKBAN DI UJUNG MADURA: TRADISI SALLIMAN DAN TUTUP BUKU AMAL  @hmad Rasyid  Malam Nisfu Sya’ban di Sumenep selalu punya denyutnya sendiri yang terbilang unik. Udara Kota Sumenep terasa lebih hangat, bukan karena cuaca, melainkan karena sebuah tradisi yang membudaya saling menghangatkan hati. Dari pusat kota hingga pinggiran Manding, seperti Lalangon dan Kasengan lampu-lampu rumah menyala lebih awal, pintu-pintu terbuka lebih lama, dan senyum terasa lebih murah dibagikan. Bagi masyarakat yang menamakan diri Jam’iyah Ahlussunnah, malam pertengahan bulan Sya’ban bukan sekadar tanggal di kalender hijriah.  Malam itu diyakini sebagai saat diangkatnya catatan amal manusia, laporan resmi malaikat Raqib dan Atid ke Hadirat Allah SWT. Maka, sebelum “buku lama” ditutup dan “buku baru” dimulai, mereka ingin membersihkannya dengan doa dan maaf. "Nolganol" mereka istilahkan. Sejak awal Maghrib masjid-masjid dan mushola penuh. Masyarakat hadir memadatinya tempat-temp...

KALA HATI BELAJAR BERSERAH

Gambar
Cerpen Cahaya Dhuha #33 KALA HATI BELAJAR BERSERAH  @hmad Rasyid  Langit malam baru saja menelan sisa jingga Maghrib. Lampu-lampu rumah mulai menyala, dan aroma teh hangat menyeruak dari dapur. Di ruang tengah yang sederhana, Kakek Acit duduk bersila di atas karpet hijau, mushaf Al-Qur’an masih terbuka di pangkuannya. Daffa menutup buku Iqra'nya dengan napas panjang. “Huuu… akhirnya selesai juga,...” katanya sambil meregangkan tangan. “...Huruf ‘ain ini susah banget, Kek. Lidahku kayak keseleo.” Nadifa menoleh cepat. “Salah sendiri, bacanya sambil mikir camilan.” “Heh! Aku serius belajar, tahu,” bantah Daffa. Kakek Acit tertawa kecil. “Belajar Al-Qur’an itu memang butuh sabar. Lidah boleh capek, tapi hati jangan, Nak” Nadifa mengangguk sambil merapikan jilbabnya. “Kek, kok habis Maghrib rasanya adem ya?” “Itu bonus,” jawab Kakek Acit. “Bonus dari salat tepat waktu dan membaca firman Allah, Al-Qur'an.” Daffa mendengus manja. “Kalau gitu, kenapa hidup kad...

KISAH OASE PAGI

Cerpen Cahaya Dhuha #32 KISAH OASE PAGI  @hmad Rasyid  Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Matahari perlahan turun, seolah sengaja melambat agar manusia sempat merenung. Angin sore berembus pelan di halaman rumah tua bercat hijau pucat. Di beranda, Kakek Acit duduk di kursi kayu panjang, sambil memijat lututnya yang mulai sering protes jika cuaca berubah. Daffa duduk di lantai beralas tikar pandan, memainkan batu-batu kecil. Nadifa bersandar di tiang beranda, menggoyang-goyangkan kakinya sambil memegang segelas kopi pahit yang sudah cukup dingin untuk kakeknya. “Sabtu sore gini enaknya ngapain, Kek?” tanya Nadifa, matanya menerawang ke langit. Kakek Acit tersenyum. “Kalau menurut Kakek, paling enak itu… diam.” Daffa langsung protes, “Hah? Diam doang? Itu mah kayak patung di museum, Kek.” Kakek Acit terkekeh. “Nah, patung itu mahal, Nak. Kamu jangan meremehkan.” Nadifa ikut tertawa. “Kalau Daffa jadi patung, pasti patung yang lagi manyun.” “Heh!...” Daffa mendengus. “......

RESEP KELUARGA BAHAGIA DI WAKTU DHUHA

Cerpen Cahaya Dhuha #30 RESEP KELUARGA BAHAGIA DI WAKTU DHUHA  @hmad Rasyid  Pagi itu, matahari baru saja naik sepenggal tombak. Sinar dhuha menyelinap malu-malu lewat jendela kayu rumah tua Kakek Acit. Angin Minggu berhembus santai, membawa aroma kopi pahit panas dan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan. Ia nikmati sehabis salat Dhuha sebanyak dua salam. Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya, sarung dilipat rapi, peci coklat terbuat dari anyaman rotan miring sedikit—entah sengaja atau lupa dibenarkan. Di depannya, dua cucu kesayangannya duduk bersila: Daffa dengan wajah sok dewasa, dan Nadifa yang sejak tadi sibuk mengipas wajahnya dengan buku tulis. “Kek,...” ujar Nadifa sambil manyun, “...kenapa sih dhuha harus pagi-pagi? Panas.” Kakek Acit tersenyum. “Supaya kamu belajar, Nak. Bahagia itu nggak nunggu adem dulu.” Daffa terkekeh. “Berarti kalau nunggu kipas angin baru bahagia, salah dong, Kek?” “Nah, itu sudah mulai paham,...” jawab Kakek Acit sambil menunjuk...

IBUKU: DIA BUKAN PENGEMIS, TAPI 'BURU AMAEN

Cerpen Cahaya Dhuha #29 IBUKU: DIA BUKAN PENGEMIS, TAPI 'BURU AMAEN' @hmad Rasyid  Sore itu langit Sumenep berwarna tembaga. Matahari turun perlahan di balik pohon lontar, meninggalkan garis jingga yang memantul di sawah basah. Angin asin dari laut jauh berembus pelan, membawa aroma garam dan tanah. Di beranda rumah kayu yang sudah renta, Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya. Di tangannya, secangkir kopi hitam mengepul. Asapnya menari-nari, seolah ikut mendengar cerita yang akan segera keluar dari bibir tua itu. “Jangan lari-lari terus, Daffa. Nadifa. Duduk sini,” panggil Kakek Acit dengan suara serak tapi hangat. Daffa yang baru saja mengejar capung berhenti. Nadifa, dengan pita biru di rambutnya, segera duduk bersila di tikar pandan. “Kek,...” tanya Daffa polos, ...“kenapa orang tadi siang dikasih nasi sama Kakek? Dia kan… pengemis.” Kakek Acit tersenyum tipis. Keriput di wajahnya bergerak pelan, seperti peta panjang kehidupan. “Pengemis?...” ulangnya. “...Siapa yang...

REUNI DALAM KEMASAN SENJA

Cerpen Cahaya Dhuha #28 REUNI DALAM KEMASAN SENJA @hmad Rasyid Langit sore itu berwarna jingga keemasan. Angin dari sawah berembus perlahan, mengibaskan dedaunan yang gugur di halaman rumah sederhana bercat hijau pucat. Di kursi rotan yang telah dimakan usia, Kakek Acit duduk, menyeruput kopi pahit panas dari cangkir seng kesayangannya. Daffa dan Nafifa duduk di hadapannya. Keduanya baru pulang dari rumah orang tua mereka di kota Probolinggo, membawa cerita dan tanya yang berjejal di kepala. “Kek,..." Daffa membuka percakapan sambil memainkan ponselnya, “...kenapa sekarang orang-orang senang sekali reuni? Di media sosial penuh undangan reuni sekolah.” Kakek Acit tersenyum tipis. Keriput di wajahnya bergerak pelan, seperti peta perjalanan hidup yang panjang. “Karena manusia suka mengenang,...” jawabnya tenang. “...Tapi tidak semua kenangan ingin dirawat dengan cara yang benar.” Nafifa mengangkat wajahnya. “Maksud Kakek?” Kakek Acit meletakkan cangkirnya. Matanya menerawang ke langi...

NASIHAT MENYAMBUT TAHUN BARU

Cerpen Cahaya Dhuha #27 NASIHAT MENYAMBUT TAHUN BARU  Sore itu langit berwarna jingga lembut, seperti sengaja melambatkan waktu. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah yang siang harinya diguyur hujan gerimis. Suara azan asar baru saja selesai.  Di beranda rumah kayu yang sederhana, Kakek Acit duduk di kursi rotan tuanya, menyeruput kopi pahit nan hangat. Di depannya, dua cucunya, Daffa dan Nadifa, duduk bersila. Ada yang aneh memang, biasanya jam segini mereka sudah ribut di luar, main kejar-kejaran mencari layangan putus. “Lho, kok sore-sore begini nggak main keluar?” tanya Kakek Acit sambil mengangkat alis, pura-pura curiga. Daffa menghela napas panjang. “Teman-teman lagi latihan petasan, Kek. Aku takut kupingku meledak duluan sebelum petasannya.” Nadifa terkekeh. “Iya, Kek. Tahun baru, katanya. Tapi Nadifa lebih takut sama suara ‘DOR’-nya daripada tahun barunya.” Kakek Acit tertawa kecil. “Bagus, bagus. Kuping kalian masih panjang umurnya.” Ia menyesap teh lagi, lalu mem...