ARAFAH: SAAT PASRAH MENJADI IBADAH

Catatan Safari Haji 2026 #12

ARAFAH: SAAT PASRAH MENJADI IBADAH
@hmad Rasyid 


Tanggal 9 Dzulhijjah menjadi hari yang paling dinanti sekaligus paling menggetarkan dalam rangkaian ibadah haji. 

Bukankah Rasulullah ï·º telah menegaskan, Al hajju Arafah—haji itu Arafah. Di sinilah puncak perjalanan, tempat jutaan hati berkumpul dalam doa dan pengharapan.
Sejak pagi suasana sudah berbeda. Ada pengumuman resmi dari Kamenhaj berdasarkan informasi dari Kerajaan Arab Saudi bahwa seluruh jamaah tidak diperkenankan keluar dari tenda hingga pukul 04.00 sore karena cuaca yang sangat ekstrem. 
Bahkan ditegaskan bahwa petugas tidak bertanggung jawab terhadap jamaah yang tetap memaksakan diri menuju Jabal Rahmah. Jarak dari tenda jamaah Indonesia, khususnya kloter 78, sekitar 2,7 kilometer—bukan jarak yang ringan di tengah panas yang menyengat.
Ternyata memang masih ada salah seorang jamaah jamaah yang tetap nekat keluar dan akhirnya harus menerima konsekuensi hingga dibawa ke rumah sakit. 

Dari sini kami belajar, kadang ibadah bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah, tetapi seberapa tulus hati menaati arahan demi keselamatan.
Tiga puluh menit menjelang Zuhur, suasana di tenda 68/7 berubah menjadi sangat syahdu. Talbiyah dikumandangkan bersama. Setelah masuk waktu Zuhur, salah satu jamaah mengumandangkan azan, dilanjutkan khotbatain singkat oleh ketua kloter. Kemudian kami melaksanakan salat Zuhur dan Asar dengan jamak taqdim tanpa qasar yang dipimpin Kiai Mufid Karom 3 Kloter 78.
Usai salat, pembacaan sholawat qiyam dipimpin kembali oleh ketua kloter. Suasana menjadi haru. Banyak yang menunduk, menitikkan air mata, lalu larut dalam zikir dan doa dengan khusyuk hingga menjelang waktu maghrib sebagaimana yang telah diarahkan sebelumnya.
Baru setelah masuk waktu Asar jamaah mulai keluar dari tenda. Tidak ada lagi tujuan selain mengangkat tangan, menghaturkan doa sesuai hajat masing-masing.
Menjelang tengah malam kami bergerak meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah. Karena termasuk jamaah lansia dan resti, kami mendapatkan fasilitas murur—tetap melewati Muzdalifah dengan bus tanpa turun, cukup berniat mabit dengan panduan petugas haji lalu melanjutkan perjalanan menuju Mina.
Alhamdulillah, hampir sehari semalam kami nyaris tidak merasakan nikmatnya tidur. Namun di tengah lelah itu ada pelajaran: murur membuat kami tiba lebih awal. Saat menjelang Subuh, barulah jamaah yang berjalan kaki dari Muzdalifah mulai berdatangan dan bergabung di tenda Mina.
Sekitar pukul 09.00 pagi diumumkan bahwa jamaah sehat dalam rombongan KBIH Al Munawaroh akan melaksanakan lontar Jumrah Aqabah. Sedangkan bagi jamaah murur seperti kami, pelaksanaannya dibadalkan. Setelah selesai, kami mendapat kabar dari Lora Roiq bahwa tahallul awal sudah dapat dilakukan. Selama masa menunggu informasi tersebut kami melantunkan tasbih, tahmid, dan takbir sebagaimana kaum muslimin pada hari ini melaksanakan hari raya Idul Adha.
Insya Allah sesuai skema yang dipilih, kami akan tetap di Mina hingga 13 Dzulhijjah. Setelah itu melanjutkan rangkaian wajib haji: tawaf ifadlah, sa’i, dan tahallul tsani sebelum menuju Madinah untuk menunaikan salat arbain.
Alhamdulillah. Semoga setiap langkah, lelah, doa, dan penantian ini bermuara pada satu harapan yang sama: haji yang mabrur. Aamiin.

Mina, 27 Mei 2026 
#BerbagiItuIndah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRESENTASI KEPALA SEKOLAH SDN PADANGDANGAN I DALAM MOMEN OJT 1 PEMBELAJARAN MENDALAM

ILHAM, ANAK YANG MENGUATKAN

LEMPAR JUMRAH (TASYRIK I), IKHTIAR DAN KESABARAN DI MINA