MOTIVASI: MENJAGA TENAGA UNTUK PUNCAK IBADAH HAJI
Catatan Safari Haji 2026 #06
MOTIVASI: MENJAGA TENAGA UNTUK PUNCAK IBADAH HAJI
@hmad Rasyid
Jumat kedua di Mekkah terasa sedikit berbeda. Sejak Kamis pagi, 21 Mei 2026 para jamaah KBIH Al Munawaroh mendapatkan himbauan dari Ketua KBIH, Lora Roiq, agar tidak memaksakan diri melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram esok hari.
Bukan bermaksud untuk mengurangi semangat ibadah, tetapi lebih kepada menjaga keselamatan dan kesiapan menghadapi puncak haji yang semakin dekat.
Beliau menyampaikan bahwa kondisi jamaah di Masjidil Haram saat ini sangat padat. Risiko tersesat arah, terpisah dari rombongan, dan atau terhimpit oleh lautan manusia menjadi pertimbangan yang harus dipikirkan dengan bijak.
Sebagai gantinya, salat Jumat dan berjamaah salat lima waktu diarahkan dilaksanakan di halaman depan lantai 9 Hotel 410 (Mahd Arressalah Hotel).
Dalam kesempatan itu, banyak penjelasan penting disampaikan mengenai pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Bagi jamaah dengan risiko tinggi, seperti lansia atau yang sedang sakit, dianjurkan mempertimbangkan untuk memanfaatkan fasilitas murur agar ibadah tetap dapat dijalani dengan lebih aman.
Begitu pula jamaah yang akan mengikuti tanazul di Arafah, yaitu pengaturan atau skema pemulangan sementara sebagian jamaah dari area Arafah ke tempat menginap (hotel atau maktab) setelah dinilai telah memenuhi ketentuan wukuf, lalu kemudian melanjutkan rangkaian ibadah berikutnya sesuai pengaturan petugas. Hal yang demikian insya Allah akan diberlakukan bagi jamaah KBIH Al Munawaroh.
Hal itu berkenaan dengan jamaah lansia, jamaah dengan keterbatasan fisik, jamaah berisiko tinggi, atau kondisi tertentu yang ditetapkan penyelenggara.
Yang penting dipahami bahwa inti haji di Arafah adalah wukuf, yaitu hadir di wilayah Arafah pada waktu yang ditentukan, mulai tergelincir matahari tanggal 9 Zulhijah hingga terbit fajar 10 Zulhijah.
Pelaksanaan teknis tanazul mengikuti kebijakan resmi penyelenggara haji dan atau pendapat fikih yang dipakai, sehingga jamaah sebaiknya mengikuti arahan ketua kloter, petugas haji, dan pembimbing KBIH.
Demikian juga bagi jamaah Indonesia, istilah ini sering muncul dalam konteks murur (melintas tanpa turun lama di Muzdalifah) atau pengaturan mobilitas saat puncak haji agar jamaah lebih aman dan tidak kelelahan.
Disampaikan pula beberapa konsekuensi yang perlu dipahami. Jamaah yang kembali lebih awal ke hotel setelah tahallul awal dan nafar awal kemungkinan perlu menyiapkan kebutuhan konsumsi secara mandiri.
Selain itu, ada konsekuensi terkait kewajiban mabit di Mina yang harus diperhatikan sesuai aturan dan arahan yang berlaku agar ibadah tetap tertib dan sah.
Lora Roiq juga mengingatkan agar jamaah berisiko tinggi tidak terburu-buru melaksanakan tawaf ifadah dan sa’i karena kepadatan yang luar biasa. Bahkan penggunaan jasa dorong pun biayanya dapat meningkat dibanding saat umrah wajib lalu.
Beliau mengajak jamaah menjelang malam Jumat kedua, seluruh jamaah diajak berkumpul ba’da Magrib di halaman semi lantai 9 untuk berdoa bersama kepada Allah dengan wasilah khataman Al-Qur’an.
Dua paket Al-Qur'an telah disiapkan untuk sekitar 60 orang, sementara yang belum kebagian dapat mengisi dengan membaca Surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas hingga khataman selesai.
Di tengah penantian panjang — bahkan ada yang menunggu sejak 2012 atau sekitar 14 tahun bahwa ibadah haji bukan langkah yang dapat dipaksakan, tetapi bagaimana menjaga diri agar dapat menuntaskan seluruh rangkaian ibadah dengan selamat, tenang, dan penuh keberkahan.
Mekkah, 21 Mei 2026
#BerbagiItuIndah
Komentar
Posting Komentar