Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

ILHAM, ANAK YANG MENGUATKAN

Gambar
Anak Inspiratif #02 ILHAM, ANAK YANG MENGUATKAN  @hmad Rasyid  Namaku Matrasit, kepala SDN Padangdangan I. Sejak Oktober lalu, kakiku belum bisa memakai sepatu. Aku hanya bisa memakai sandal gunung, sandal yang mengikat erat kedua kakiku ketika aku kemana-mana, termasuk ketika ke sekolah.  Aku masih menjalani ujian sakit. Setiap hari aku diantar sepeda oleh Pak Risqon, guru olahraga kami yang tinggal sedesa denganku. Beliau guru olahraga, ia yang sering mengingatkanku untuk banyak istirahat. Pagi itu, seperti biasa, sepeda berhenti di depan gerbang sekolah. Aku turun perlahan. Belum sempat aku berdiri tegak, sebuah suara kecil menyapaku. “Assalamu’alaikum, Pak…” Aku menoleh. Ilham, siswa kelas IV, sudah berdiri rapi di depanku. Tangannya terulur, matanya bening, senyumnya tipis tapi hangat. “Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil menjabat tangannya. Ilham menundukkan kepala. Aku pun refleks mencium keningnya. Kadang kening, kadang ubun-ubunnya. Ilham t...

SYIFA, OBAT DARI LAYAR KECIL

Gambar
Anak Inspiratif #01 SYIFA, OBAT DARI LAYAR KECIL  @hmad Rasyid  Namaku Matrasit, nama kecil dari seorang plt. kepala sekolah di SDN Padangdangan I, Pasongsongan. Sejak 6 Oktober 2025 lalu, hidupku berjalan lebih pelan. Kakiku belum sekuat dulu karena ujian sakit stroke.  Aku belajar sabar, belajar tersenyum, dan belajar kuat. O..., di antara hari-hari itu, ada satu nama kecil yang sering muncul di layar gawaiku: Syifa. Ya SYIFA, siswi kelas III. Pagi hari di sekolah, aku berdiri di dekat gerbang sedang berjalan santai dengan tongkat pramuka usang yang setia menemaniku berkeliling halaman sekolah dan kala aku berjemur ria di bawah terik sang surya. Anak-anak pun berdatangan. “Assalamu’alaikum, Bapak!” Suara kecil itu selalu lebih dulu terdengar. “Wa’alaikumussalam, Nak,” jawabku. Anak itu menatap kakiku. “Pak, hari ini sudah sembuh belum?” Aku tersenyum. “Masih proses pemulihan, Nak.” Anak itu yang ternyata bernama Syifa. Ia mengangguk serius. “Berarti doanya h...

MOMEN HANGAT UNTUK PASOKAN PROGRAM MBG -SPPG PADANGDANGAN I DI HARI KEDUA

Gambar
Catatan Kecil Kepala Sekolah*) MOMEN HANGAT UNTUK PASOKAN PROGRAM MBG - SPPG PADANGDANGAN I DI HARI KEDUA  @hmad Rasyid  Pada hari Jumat, 6 Februari 2026, tepat pukul 07.30 WIB, pasokan Program Makan Bergizi (MBG) dari SPPG Padangdangan memasuki area SDN Padangdangan I. Kedatangan program ini bertepatan dengan pelaksanaan kegiatan rutin sekolah, yaitu Jumat Sehat Jasmani dan Jumat Sehat Rohani, sehingga menciptakan suasana yang penuh semangat, kebersamaan, dan nuansa religius yang sangat bermakna bagi seluruh warga sekolah. Saat kendaraan MBG tiba, para siswa bersama para guru sedang melaksanakan kegiatan Jumat Sehat Jasmani berupa Senam Kebugaran Jasmani "Senam Anak Indonesia Hebat".  Senam ini diikuti dengan antusias oleh seluruh siswa bersama guru, mencerminkan semangat hidup sehat serta kesiapan jasmani sebelum memulai aktivitas belajar dan menerima asupan ilmu hikmah.  Kegiatan ini menjadi pembuka yang tepat sebelum dilanjutkan pada pembinaan rohani....

NISFU SYAKBAN DI UJUNG MADURA: TRADISI SALLIMAN DAN TUTUP BUKU AMAL

Gambar
NISFU SYAKBAN DI UJUNG MADURA: TRADISI SALLIMAN DAN TUTUP BUKU AMAL  @hmad Rasyid  Malam Nisfu Sya’ban di Sumenep selalu punya denyutnya sendiri yang terbilang unik. Udara Kota Sumenep terasa lebih hangat, bukan karena cuaca, melainkan karena sebuah tradisi yang membudaya saling menghangatkan hati. Dari pusat kota hingga pinggiran Manding, seperti Lalangon dan Kasengan lampu-lampu rumah menyala lebih awal, pintu-pintu terbuka lebih lama, dan senyum terasa lebih murah dibagikan. Bagi masyarakat yang menamakan diri Jam’iyah Ahlussunnah, malam pertengahan bulan Sya’ban bukan sekadar tanggal di kalender hijriah.  Malam itu diyakini sebagai saat diangkatnya catatan amal manusia, laporan resmi malaikat Raqib dan Atid ke Hadirat Allah SWT. Maka, sebelum “buku lama” ditutup dan “buku baru” dimulai, mereka ingin membersihkannya dengan doa dan maaf. "Nolganol" mereka istilahkan. Sejak awal Maghrib masjid-masjid dan mushola penuh. Masyarakat hadir memadatinya tempat-temp...

KALA HATI BELAJAR BERSERAH

Gambar
Cerpen Cahaya Dhuha #33 KALA HATI BELAJAR BERSERAH  @hmad Rasyid  Langit malam baru saja menelan sisa jingga Maghrib. Lampu-lampu rumah mulai menyala, dan aroma teh hangat menyeruak dari dapur. Di ruang tengah yang sederhana, Kakek Acit duduk bersila di atas karpet hijau, mushaf Al-Qur’an masih terbuka di pangkuannya. Daffa menutup buku Iqra'nya dengan napas panjang. “Huuu… akhirnya selesai juga,...” katanya sambil meregangkan tangan. “...Huruf ‘ain ini susah banget, Kek. Lidahku kayak keseleo.” Nadifa menoleh cepat. “Salah sendiri, bacanya sambil mikir camilan.” “Heh! Aku serius belajar, tahu,” bantah Daffa. Kakek Acit tertawa kecil. “Belajar Al-Qur’an itu memang butuh sabar. Lidah boleh capek, tapi hati jangan, Nak” Nadifa mengangguk sambil merapikan jilbabnya. “Kek, kok habis Maghrib rasanya adem ya?” “Itu bonus,” jawab Kakek Acit. “Bonus dari salat tepat waktu dan membaca firman Allah, Al-Qur'an.” Daffa mendengus manja. “Kalau gitu, kenapa hidup kad...

KISAH OASE PAGI

Cerpen Cahaya Dhuha #32 KISAH OASE PAGI  @hmad Rasyid  Sore itu, langit berwarna jingga keemasan. Matahari perlahan turun, seolah sengaja melambat agar manusia sempat merenung. Angin sore berembus pelan di halaman rumah tua bercat hijau pucat. Di beranda, Kakek Acit duduk di kursi kayu panjang, sambil memijat lututnya yang mulai sering protes jika cuaca berubah. Daffa duduk di lantai beralas tikar pandan, memainkan batu-batu kecil. Nadifa bersandar di tiang beranda, menggoyang-goyangkan kakinya sambil memegang segelas kopi pahit yang sudah cukup dingin untuk kakeknya. “Sabtu sore gini enaknya ngapain, Kek?” tanya Nadifa, matanya menerawang ke langit. Kakek Acit tersenyum. “Kalau menurut Kakek, paling enak itu… diam.” Daffa langsung protes, “Hah? Diam doang? Itu mah kayak patung di museum, Kek.” Kakek Acit terkekeh. “Nah, patung itu mahal, Nak. Kamu jangan meremehkan.” Nadifa ikut tertawa. “Kalau Daffa jadi patung, pasti patung yang lagi manyun.” “Heh!...” Daffa mendengus. “......

RESEP KELUARGA BAHAGIA DI WAKTU DHUHA

Cerpen Cahaya Dhuha #30 RESEP KELUARGA BAHAGIA DI WAKTU DHUHA  @hmad Rasyid  Pagi itu, matahari baru saja naik sepenggal tombak. Sinar dhuha menyelinap malu-malu lewat jendela kayu rumah tua Kakek Acit. Angin Minggu berhembus santai, membawa aroma kopi pahit panas dan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan. Ia nikmati sehabis salat Dhuha sebanyak dua salam. Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya, sarung dilipat rapi, peci coklat terbuat dari anyaman rotan miring sedikit—entah sengaja atau lupa dibenarkan. Di depannya, dua cucu kesayangannya duduk bersila: Daffa dengan wajah sok dewasa, dan Nadifa yang sejak tadi sibuk mengipas wajahnya dengan buku tulis. “Kek,...” ujar Nadifa sambil manyun, “...kenapa sih dhuha harus pagi-pagi? Panas.” Kakek Acit tersenyum. “Supaya kamu belajar, Nak. Bahagia itu nggak nunggu adem dulu.” Daffa terkekeh. “Berarti kalau nunggu kipas angin baru bahagia, salah dong, Kek?” “Nah, itu sudah mulai paham,...” jawab Kakek Acit sambil menunjuk...

IBUKU: DIA BUKAN PENGEMIS, TAPI 'BURU AMAEN

Cerpen Cahaya Dhuha #29 IBUKU: DIA BUKAN PENGEMIS, TAPI 'BURU AMAEN' @hmad Rasyid  Sore itu langit Sumenep berwarna tembaga. Matahari turun perlahan di balik pohon lontar, meninggalkan garis jingga yang memantul di sawah basah. Angin asin dari laut jauh berembus pelan, membawa aroma garam dan tanah. Di beranda rumah kayu yang sudah renta, Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya. Di tangannya, secangkir kopi hitam mengepul. Asapnya menari-nari, seolah ikut mendengar cerita yang akan segera keluar dari bibir tua itu. “Jangan lari-lari terus, Daffa. Nadifa. Duduk sini,” panggil Kakek Acit dengan suara serak tapi hangat. Daffa yang baru saja mengejar capung berhenti. Nadifa, dengan pita biru di rambutnya, segera duduk bersila di tikar pandan. “Kek,...” tanya Daffa polos, ...“kenapa orang tadi siang dikasih nasi sama Kakek? Dia kan… pengemis.” Kakek Acit tersenyum tipis. Keriput di wajahnya bergerak pelan, seperti peta panjang kehidupan. “Pengemis?...” ulangnya. “...Siapa yang...

REUNI DALAM KEMASAN SENJA

Cerpen Cahaya Dhuha #28 REUNI DALAM KEMASAN SENJA @hmad Rasyid Langit sore itu berwarna jingga keemasan. Angin dari sawah berembus perlahan, mengibaskan dedaunan yang gugur di halaman rumah sederhana bercat hijau pucat. Di kursi rotan yang telah dimakan usia, Kakek Acit duduk, menyeruput kopi pahit panas dari cangkir seng kesayangannya. Daffa dan Nafifa duduk di hadapannya. Keduanya baru pulang dari rumah orang tua mereka di kota Probolinggo, membawa cerita dan tanya yang berjejal di kepala. “Kek,..." Daffa membuka percakapan sambil memainkan ponselnya, “...kenapa sekarang orang-orang senang sekali reuni? Di media sosial penuh undangan reuni sekolah.” Kakek Acit tersenyum tipis. Keriput di wajahnya bergerak pelan, seperti peta perjalanan hidup yang panjang. “Karena manusia suka mengenang,...” jawabnya tenang. “...Tapi tidak semua kenangan ingin dirawat dengan cara yang benar.” Nafifa mengangkat wajahnya. “Maksud Kakek?” Kakek Acit meletakkan cangkirnya. Matanya menerawang ke langi...

NASIHAT MENYAMBUT TAHUN BARU

Cerpen Cahaya Dhuha #27 NASIHAT MENYAMBUT TAHUN BARU  Sore itu langit berwarna jingga lembut, seperti sengaja melambatkan waktu. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah yang siang harinya diguyur hujan gerimis. Suara azan asar baru saja selesai.  Di beranda rumah kayu yang sederhana, Kakek Acit duduk di kursi rotan tuanya, menyeruput kopi pahit nan hangat. Di depannya, dua cucunya, Daffa dan Nadifa, duduk bersila. Ada yang aneh memang, biasanya jam segini mereka sudah ribut di luar, main kejar-kejaran mencari layangan putus. “Lho, kok sore-sore begini nggak main keluar?” tanya Kakek Acit sambil mengangkat alis, pura-pura curiga. Daffa menghela napas panjang. “Teman-teman lagi latihan petasan, Kek. Aku takut kupingku meledak duluan sebelum petasannya.” Nadifa terkekeh. “Iya, Kek. Tahun baru, katanya. Tapi Nadifa lebih takut sama suara ‘DOR’-nya daripada tahun barunya.” Kakek Acit tertawa kecil. “Bagus, bagus. Kuping kalian masih panjang umurnya.” Ia menyesap teh lagi, lalu mem...

DONGENG PENGANTAR TIDUR: IBU PENJUAL KUE

Cerpen Cahaya Dhuha #26 DONGENG PENGANTAR TIDUR: IBU PENJUAL KUE  @hmad Rasyid  Malam turun perlahan di kampung itu. Langit bersih, bintang berkelip malu-malu. Di serambi rumah, Kakek Acit duduk bersila menghadap kiblat, tasbih kayu kecil masih melingkar di jemarinya. Daffa dan Nadifa duduk di hadapannya, bersandar pada tiang rumah, ditemani aroma teh hangat. “Kek…” Daffa membuka suara pelan, “...kata Ayah, malam Minggu itu waktu yang bagus buat nasihat.” Kakek Acit tersenyum. “Ayahmu benar. Hati manusia lebih lunak di malam hari.” Nadifa mengangguk, lalu berseloroh, “Apalagi kalau habis makan gorengan.” Daffa tertawa. “Itu sih perut, Dik. Bukan hati.” Kakek Acit ikut tertawa kecil. “Nah, sebelum hati kalian benar-benar kenyang dan mata tertutup, Kakek ingin mendongeng. Tentang seorang ibu… penjual kue.” Daffa langsung duduk tegak. “Yang sering Kakek ceritakan itu?” “Ya. Tapi malam ini, Kakek ceritakan lebih lengkap. Dengarkan baik-baik, karena ini bukan sekadar dongeng. Ini p...

DONGENG DI BUKIT PASIR PUTIH

Cerpen Cahaya Dhuha #25 DONGENG DI BUKIT PASIR PUTIH  Angin laut utara berembus lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau rumput kering. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya keemasan di atas pasir putih Bukit Ambunten. Di sanalah Kakek Acit duduk berselonjor kaki1, bersandar pada tongkat kayu tuanya, ditemani dua cucu kesayangannya: Daffa dan Nadifa. Daffa sibuk menggambar garis-garis di pasir dengan ranting kering, sementara Nadifa sibuk memungut kerang kecil dan menumpuknya di pangkuan. “Kek,...” ujar Nadifa sambil menoleh, “...kenapa laut nggak pernah capek ombaknya?” Kakek Acit tersenyum, janggut putihnya bergerak pelan. “Karena laut tahu, berhenti itu bukan pilihan. Kalau berhenti, dia bukan laut lagi.” Daffa mendongak cepat. “Berarti aku juga nggak boleh berhenti main game dong, Kek?” “Lho, itu namanya ngeles,...” Kakek Acit terkekeh. “...Laut bergerak untuk kehidupan, kamu main game bergerak untuk… kalah sama baterai.” Nadifa tertawa, sampai kerang-...

HILANGKAN SAMPAH TINGGALLAH SABAR

Cerpen Cahaya Dhuha #24 HILANGKAN SAMPAH TINGGALLAH SABAR  @hmad Rasyid  Senja baru saja turun di halaman rumah kayu tua itu. Angin desa di bulan Desember berhembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore. Kakek Acit duduk di kursi rotan panjang, bersarung cokelat lusuh dan peci hitam yang sudah setia menemaninya puluhan tahun. Di kanan kirinya, dua cucu kesayangannya sudah siap dengan posisi paling nyaman: Daffa selonjoran sambil menggenggam kerupuk, sedangkan Nadifa bersandar manja di lengan kakeknya. “Kek,” kata Daffa sambil mengunyah, “cerita dongeng lagi, yuk. Tapi jangan yang sedih. Yang lucu tapi bikin mikir gitu.” Kakek Acit tersenyum, matanya menyipit penuh kasih. “Lho, kamu itu ya. Mintanya banyak. Seperti warung Madura: lengkap.” Nadifa tertawa kecil. “Yang penting ada ketawanya, Kek. Soalnya Mas Daffa kalau nggak ketawa, nanti malah nangis.” “Heh!” Daffa protes. “Aku nangis itu karena peka, bukan cengeng.” Kakek Acit terkekeh. “Dua-duanya betul. Nah, denga...

TEMPAT TINGGAL YANG SUNYI

Cerpen Cahaya Dhuha #23 TEMPAT TINGGAL YANG SUNYI  @hmad Rasyid  Langit sore itu kelabu, bukan karena hujan, melainkan karena matahari yang perlahan pamit. Angin berembus pelan, membawa bau tanah basah dari sawah belakang rumah. Kakek Acit duduk di kursi rotan tua, tasbih di tangannya bergerak perlahan—seolah menghitung bukan hanya zikir, tapi juga usia. Daffa dan Nadifa duduk di lantai teras. Kali ini, ponsel mereka tergeletak begitu saja, layarnya mati. “Kek,...” suara Nadifa pelan, hampir seperti bisikan, “...Kenapa ya… sekarang orang gampang sekali marah?” Kakek Acit menoleh. Tatapannya lembut, tapi dalam. “Karena lisan lebih cepat dari hati, Nak. Dan jari lebih cepat dari akal.” Daffa mengangguk. “Tadi aku lihat komentar orang di medsos, Kek. Kata-katanya kejam banget. Nggak sopan. Padahal mereka gak saling kenal.” Kakek Acit menghela napas panjang. “Dulu orang menyakiti dengan suara. Sekarang dengan tulisan. Sama-sama melukai.” Sunyi menyela mereka sejenak. Hanya sesekal...

RAJAB DI BERANDA RUMAH KAKEK ACIT

Cerpen Cahaya Dhuha #22 RAJAB DI BERANDA RUMAH KAKEK ACIT  @hmad Rasyid  Sore itu angin berembus pelan di beranda rumah kayu milik Kakek Acit. Langit berwarna jingga keemasan, burung-burung pulang ke sarang, dan suara azan Asar dari masjid kampung terdengar samar namun menenangkan. Kakek Acit duduk di kursi rotan kesayangannya, bersarung kotak-kotak dan berpeci hitam yang sudah mulai pudar warnanya. Di tangannya, tasbih kayu berwarna cokelat tua bergerak perlahan. Dua cucunya duduk bersila di lantai beranda. Daffa, si kakak yang kritis dan suka bertanya, sedang memainkan batu kecil. Nadifa, adiknya, sibuk menggambar bulan sabit di buku tulisnya. “Kakek,” tiba-tiba Daffa bersuara, “kata Ustaz di masjid, sekarang sudah masuk bulan Rajab ya?” Kakek Acit tersenyum, keriput di wajahnya semakin jelas. “Iya, Nak. Alhamdulillah… Allah masih kasih kita umur buat ketemu bulan mulia.” Nadifa mengangkat kepalanya. “Bulan mulia itu maksudnya apa, Kek? Bulannya pakai mahkota?” Daffa langsun...